JAKARTA — Pemerintah Indonesia merespons usulan yang diajukan oleh Filipina terkait dengan penerapan Pakta Keamanan Minyak ASEAN (APSA), yang bertujuan untuk menciptakan mekanisme berbagi bahan bakar antar negara anggota. Usulan ini disampaikan oleh Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. dalam kapasitasnya sebagai Ketua ASEAN 2026, dan juga muncul di tengah situasi darurat bahan bakar yang dialami negara tersebut akibat krisis minyak yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Pada sebuah briefing pers, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia mengungkapkan bahwa isu tentang mekanisme berbagi bahan bakar telah dibahas dalam forum keketuaan ASEAN. Mekanisme ini dirancang untuk menghadapi situasi krisis, baik dalam hal ketahanan migas maupun isu lainnya.
“Setahu saya, bukan hanya migas, tetapi juga pangan dan beras. Saya kira ini menjadi salah satu pembahasan utama di tingkat ASEAN. Jadi, kebetulan Filipina menjadi Ketua ASEAN tahun ini, [isu ini] menjadi penting bagi ASEAN di bawah kepemimpinan mereka,” ujar Juru Bicara II Kemlu Vahd Nabyl kepada wartawan.
Namun, Vahd tidak menyampaikan sikap resmi Indonesia terkait permintaan Filipina tersebut. Ia menegaskan bahwa pendapat resmi akan disampaikan melalui forum ASEAN.
“Untuk berbagi atau tidaknya di ASEAN itu dibahas di sana,” kata Vahd.
Di dalam negeri, Presiden Prabowo Subianto sedang memperkuat pasokan minyak dari Rusia. Setelah pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Indonesia dilaporkan memperdalam kerja sama dalam bidang ketahanan energi, termasuk minyak dan LPG.
Vahd menjelaskan bahwa upaya ini sejalan dengan kepentingan nasional. “Kita tahu bahwa konteksnya adalah diversifikasi sumber untuk memastikan ketahanan energi. Jadi, kepentingan nasional kita menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurut laporan dari Philippine News Agency, Presiden Filipina Ferdinand R. Marcos Jr. atau Bongbong Marcos mengajukan usulan tersebut saat bergabung dalam forum Asia Zero Emission Community (AZEC) Plus Online Summit yang diselenggarakan oleh Jepang.
Bongbong menekankan kerentanan Filipina terhadap gangguan pasokan minyak akibat disrupsi di Selat Hormuz. Negara kepulauan ini sangat bergantung pada impor minyak. Di Filipina, kenaikan harga solar dan LPG telah memberikan tekanan terhadap transportasi, pasokan makanan, industri, serta memicu inflasi impor.
Namun, ia menekankan bahwa tidak ada satupun negara di Asia yang bisa bertahan sendiri menghadapi kenaikan harga minyak ini. Oleh karena itu, di tingkat kawasan, ia mendorong implementasi APSA.
“Tidak ada satupun negara di Asia yang mengasingkan dirinya sendiri dari guncangan rantai pasok dalam skala sebesar ini,” tuturnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











