Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Memicu Berbagai Reaksi dari Pengguna Kendaraan
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi telah memicu berbagai reaksi dari para pengguna kendaraan. Banyak warga yang merasa kewalahan menghadapi kenaikan harga BBM yang terus meningkat. Di tengah situasi ini, harga Pertamax tetap berada di angka Rp 12.300 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 masih dijual dengan harga Rp 12.900 per liter. Namun, beberapa jenis BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mengalami penyesuaian harga yang cukup signifikan.
Pengendara Harus Menghitung Ulang Pengeluaran Harian
Seorang pengendara bernama Rizki (25) mengaku terkejut setelah mengetahui kabar kenaikan harga BBM nonsubsidi. Ia menyatakan bahwa biaya bahan bakar harian akan meningkat cukup signifikan. Sebelumnya, ia hanya menghabiskan sekitar Rp 80.000 per hari untuk mengisi bahan bakar motor. Dengan kenaikan harga, ia memperkirakan biaya tersebut bisa mencapai Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per hari.
Rizki memilih menggunakan Pertamax Turbo karena kenyamanan mesin kendaraannya. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pengemudi ojek online, sehingga membutuhkan performa mesin yang optimal. Ia berharap tarif ojek online juga naik agar bisa menutupi kenaikan biaya bahan bakar. Untuk mengurangi dampak kenaikan harga, ia berencana memperpanjang jam kerja menjadi hingga pukul 23.00 WIB.
Menyesal Tidak Mengisi Tangki Penuh
Pengendara lain, Ihsan (28), mengaku menyesal tidak mengisi tangki penuh sebelum harga BBM naik. Ia menyadari bahwa kenaikan harga sangat signifikan, sehingga membuatnya kaget. Meskipun begitu, Ihsan belum berencana beralih ke jenis BBM lain karena kualitas bahan bakar Pertamax Turbo masih membuatnya puas. Ia mengungkapkan bahwa meskipun Pertamax memiliki kualitas yang baik, namun pembakarannya dinilai lebih kotor dibandingkan Pertamax Turbo.
Tetap Bertahan Meski Harga Naik
Yusuf (33), seorang pengguna Pertamax Turbo lainnya, juga mengaku terkejut dengan lonjakan harga BBM. Namun, ia menyadari bahwa fluktuasi harga adalah konsekuensi dari penggunaan BBM nonsubsidi, terlebih dalam kondisi harga energi global yang tinggi akibat konflik di Timur Tengah. Yusuf enggan beralih ke jenis BBM lain karena menilai Pertamax Turbo lebih efisien dari sisi konsumsi. Ia menjelaskan bahwa sejak awal ia sudah menggunakan Pertamax Turbo, sehingga siap menerima risiko kenaikan dan penurunan harga.
Daftar Harga BBM Terbaru
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi kali ini tergolong tajam. Pertamax Turbo kini dibanderol Rp 19.400 per liter, naik Rp 6.300 dari sebelumnya Rp 13.100 per liter. Kenaikan lebih tinggi terjadi pada Dexlite yang kini mencapai Rp 23.600 per liter, atau melonjak Rp 9.400 dari harga sebelumnya Rp 14.200 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex juga mengalami kenaikan sebesar Rp 9.400, dari Rp 14.500 menjadi Rp 23.900 per liter.
Di sisi lain, harga Pertamax tetap berada di angka Rp 12.300 per liter, dan Pertamax Green 95 masih dijual Rp 12.900 per liter.
Aksi Curang Terungkap di Jember
Polres Jember membongkar praktik penimbunan bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan oleh seorang pria berinisial FS. Penangkapan ini dilakukan setelah polisi menerima laporan dari masyarakat tentang aktivitas pengisian BBM yang tidak wajar di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Petugas kemudian melakukan pemantauan dan menemukan sebuah mobil Suzuki Carry yang melakukan pengisian BBM secara berulang.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan delapan jeriken berkapasitas 30 liter yang telah terisi pertalite. Selain itu, kendaraan tersebut juga dimodifikasi dengan pompa air dan selang khusus yang diduga digunakan untuk menyedot dan memindahkan BBM secara ilegal. Pelaku beserta barang bukti langsung diamankan ke Mapolres Jember untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Kanit Tipidter Polres Jember, Ipda Harry Sasono, menegaskan bahwa pengungkapan ini menjadi bukti komitmen kepolisian dalam memberantas praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi. Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi BBM bersubsidi agar tepat sasaran. Saat ini, penyidik masih mendalami kemungkinan adanya jaringan distribusi ilegal serta keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut.











