Peran Jusuf Kalla dalam Karier Politik Joko Widodo
Juru bicara mantan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) Jusuf Kalla (JK), Husain Abdullah, mengungkapkan bahwa nada tegas yang disampaikan oleh JK bukanlah hasil dari emosi, melainkan sebuah klarifikasi terhadap narasi politik yang berkembang. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas berbagai isu yang menyebut bahwa JK tidak tahu balas budi setelah mendampingi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, selama periode 2014–2019.
Menurut Husain, JK selama ini menahan diri untuk tidak membuka sejarah politik di balik naiknya Jokowi ke panggung nasional. Namun, kini saatnya fakta-fakta tersebut dibuka secara jernih. Ia menjelaskan bahwa peran JK sangat penting dalam pencalonan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dan kemudian Pilpres 2014.
Peran Penting dalam Pencalonan Jokowi
Husain Abdullah, yang akrab disapa Uceng, mengungkapkan bahwa langkah politik JK menjadi kunci pembuka jalan bagi karier nasional Jokowi. Ia menegaskan bahwa JK secara aktif meyakinkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, agar mau mencalonkan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012 silam.
Tanpa peran mediasi dan dorongan dari JK di fase krusial tersebut, kemungkinan besar peta perjalanan politik Jokowi akan sangat berbeda. Keberhasilan di ibu kota itulah yang kemudian menjadi batu loncatan utama bagi Jokowi menuju kursi RI-1.
Pengaruh dalam Pilpres 2014
Memasuki Pilpres 2014, peran JK kembali menjadi determinan penting dalam koalisi. Husain memaparkan fakta bahwa Megawati Soekarnoputri sempat bersikeras tidak akan menandatangani pencalonan Jokowi sebagai presiden jika wakilnya bukan Jusuf Kalla. Saat itu, Jokowi dianggap sebagai sosok yang memiliki elektabilitas tinggi namun masih minim pengalaman di tingkat nasional untuk bersaing dengan nama besar seperti Prabowo Subianto.
Maka, posisi JK sebagai pendamping bukan atas permintaan pribadi JK, melainkan permintaan langsung dari Megawati untuk menjaga stabilitas dan melengkapi kepemimpinan Jokowi.
Siapa yang Berutang Budi?
Menanggapi narasi mengenai siapa yang sebenarnya berhutang budi, Husain Abdullah menegaskan bahwa JK praktis tidak memiliki beban hutang budi kepada Jokowi; justru sebaliknya. Uceng mengungkapkan bahwa sejarah mencatat kontribusi besar JK dalam setiap fase transisi kepemimpinan Jokowi.
Sepanjang lima tahun mendampingi Jokowi di periode pertama, JK dikenal sebagai sosok yang konsisten “pasang badan” dalam berbagai momen krusial pemerintahan. Peran Pak JK tidak hanya sebagai ban serep, tetapi sebagai pilar stabilitas yang memastikan roda pemerintahan tetap berjalan efektif menghadapi berbagai dinamika politik di DPR maupun isu nasional lainnya.
Lebih jauh lagi, Husain menilai bahwa tanpa kehadiran JK di surat suara 2014, kemenangan atas koalisi besar Prabowo-Hatta belum tentu bisa diraih oleh PDI Perjuangan dan Jokowi. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan keduanya bukanlah sekadar pemberi dan penerima jasa, melainkan sinergi politik di mana JK membawa modalitas politik, jaringan, dan pengalaman yang sangat menentukan.
Penjelasan Mengenai Pernyataan JK
Uceng juga menepis anggapan Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, yang menyebut pernyataan JK bersifat emosional. Menurutnya, apa yang disampaikan Pak JK adalah kejujuran sejarah yang harus diketahui publik agar tidak terjadi distorsi informasi. Penjelasan ini bukan bertujuan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk meluruskan kedudukan masing-masing tokoh dalam sejarah kepemimpinan Indonesia.
Pernyataan Jusuf Kalla sendiri muncul sebagai respons atas berbagai fitnah yang menyerangnya, termasuk tudingan tak berdasar mengenai pendanaan isu ijazah yang kerap digunakan untuk memojokkan dirinya dan pemerintah. Bahkan, saat Pilpres 2014, JK menyebut posisinya sebagai cawapres adalah permintaan langsung dari Megawati untuk mendampingi Jokowi.
Tanggapan dari Tokoh Lain
Ahmad Ali, sebelumnya, menilai pernyataan JK yang menyebut Jokowi menjadi Presiden ke-7 RI karena dirinya sebagai sikap yang terlalu emosional. Menurutnya, kemenangan Pilpres 2014 merupakan hasil kerja kolektif pasangan calon, tim sukses, dan partai politik. “Tidak juga tepat kalau kemudian beliau-lah yang kemudian membuat Jokowi bisa menang kan? Itu juga terlalu emosional menurut saya,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, menegaskan bahwa terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden RI merupakan hasil perjuangan kolektif banyak elemen masyarakat, sehingga tidak bisa diklaim oleh satu orang saja. “Pak Jokowi itu dipilih oleh rakyat dan banyak lagi komponen masyarakat yang kemudian memberikan restu dan menjadikan Pak Jokowi itu terpilih menjadi presiden,” kata Bestari kepada Tribunnews.com.











