Kondisi Selat Hormuz yang Tidak Biasa
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi menyampaikan bahwa kondisi di Selat Hormuz saat ini tidak dalam keadaan biasa. Meskipun sebelumnya Amerika Serikat, Israel, dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu, situasi di kawasan tersebut tetap menunjukkan ketidakstabilan.
Akibatnya, nasib dua kapal tanker milik PT Pertamina masih belum jelas. Keduanya masih berada di perairan Timur Tengah. Boroujerdi menjelaskan bahwa agar kapal bisa melewati Selat Hormuz, harus melalui beberapa protokol tertentu. Ia menekankan bahwa area tersebut memiliki sensitivitas tinggi terutama pada masa-masa perang dan memerlukan pengawasan ketat.
“Kondisi di Teluk Persia dan Selat Hormuz saat ini tidak dalam kondisi biasa. Di sana memiliki kesensitivitasan saat masa-masa perang dan harus melalui beberapa protokol,” ujar Boroujerdi saat menjawab pertanyaan dari IDN Times di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur pada Sabtu (11/4).
Ia menambahkan bahwa protokol tersebut diberlakukan oleh pihak keamanan atau penjaga Selat Hormuz. Selain itu, kapal komersial yang ingin melewati Selat Hormuz juga harus menjalani proses negosiasi dengan pihak terkait dan penjaga keamanan Republik Islam Iran.
Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci apa saja protokol yang harus dilewati oleh pihak Pertamina agar dua kapalnya bisa lewat Selat Hormuz dengan aman.
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih Tertahan
IDN Times memeriksa situs Vessel Finder mengenai keberadaan dua kapal tanker Pertamina, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro per hari ini. Keduanya masih berada di Teluk Persia dan belum bergerak dari lokasi tersebut. Sebelumnya, Gamsunoro sempat berlabuh di Dubai.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia pernah mengakui bahwa sulit untuk mengevakuasi atau mengeluarkan kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz. Pria yang juga Ketua Umum Partai Golkar itu menjelaskan bahwa proses evakuasi kapal minyak tersebut tidak mudah mengingat situasi di kawasan Timur Tengah yang masih bergejolak.
Meski demikian, pemerintah Indonesia tetap membangun komunikasi intensif dengan Iran agar kapal tanker Pertamina dapat segera keluar jalur vital pengiriman minyak itu dengan aman.
“Kami masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kami bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz, tapi komunikasi terus kami bangun,” ujar Bahlil usai Rapat di Kemenko Perekonomian pada Jumat (27/3).
Kemlu RI Mengklaim Ada Lampu Hijau dari Iran

Pernyataan Dubes Iran berbeda dari yang disampaikan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI beberapa waktu lalu. Ketika itu, Kemlu menyebut bahwa Iran sudah memberikan lampu hijau bagi dua kapal tanker Pertamina untuk melintasi Selat Hormuz.
Juru bicara I Kemlu, Yvonne Mewengkang mengatakan, Kemlu RI dan KBRI Teheran akan terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk memastikan pelayaran kapal Pertamina aman di Selat Hormuz.
“Berdasarkan koordinasi Kemlu, KBRI di Teheran, Kedutaan Iran di Jakarta dengan Pertamina, Kedutaan Iran telah menyampaikan pertimbangan positif pemerintahnya atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz,” ujar Yvonne kepada IDN Times, Sabtu (28/3).
Yvonne menyatakan bahwa dibutuhkan persiapan teknis oleh pihak Pertamina agar kedua kapal itu bisa melintasi Selat Hormuz. Persiapan itu termasuk perlindungan asuransi dan kesiapan kru kapal. Namun, Yvonne tidak menjelaskan kapan kedua kapal tanker milik Pertamina akan melewati Selat Hormuz dan berlayar ke Indonesia.
Hanya 10 Kapal yang Bisa Melewati Selat Hormuz

Stasiun berita BBC pada Jumat (10/4) melaporkan bahwa sejak gencatan senjata pada Selasa kemarin, Selat Hormuz tetap masih terbatas untuk dilewati. Sejumlah kapal yang berada di perairan Teluk Persia menerima pesan bahwa mereka akan dibidik dan dihancurkan jika mencoba melewati Selat Hormuz tanpa izin Iran.
Hanya beberapa kapal saja yang berhasil melewati Selat Hormuz sejak tiga hari terakhir. Berdasarkan data per Jumat kemarin, ada 10 kapal yang dilacak berhasil melewati Selat Hormuz. Empat kapal di antaranya membawa muatan minyak, gas atau zat kimia. Sementara, sisanya tercatat sebagai kapal kontainer berbagai jenis.
Data itu diperoleh dari hasil analisa BBC yang melacak menggunakan situs Marine Traffic. Sementara, kapal-kapal lain telah melewati Selat Hormuz tanpa mengabarkan posisi mereka.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











