Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Kinerja OMED Kuat, Cek Rekomendasi Sahamnya



Pertumbuhan kinerja PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) pada tahun 2025 dinilai cukup solid, dengan peningkatan pendapatan yang diiringi perbaikan profitabilitas. Hal ini menunjukkan efisiensi operasional dan penetrasi kuat perseroan di pasar alat kesehatan dalam negeri.

Menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, capaian tersebut mencerminkan kemampuan perseroan dalam mengelola operasional serta memperkuat posisinya di pasar domestik. OMED berhasil membukukan penjualan sebesar Rp2,06 triliun dan laba bersih sebesar Rp368,9 miliar pada tahun lalu.

Sementara itu, Ekky Topan dari Infovesta Utama menilai pertumbuhan OMED tidak hanya terlihat dari sisi pendapatan, tetapi juga dari kemampuan manajemen dalam menjaga margin. Margin laba bruto OMED mencapai 34,8% yang didukung oleh bauran produk dan pertumbuhan segmen bioteknologi sebesar 30,1% secara tahunan.

Wafi menyebutkan bahwa segmen bioteknologi dengan margin tinggi akan menjadi motor utama pertumbuhan OMED ke depan. Sementara itu, Ekky melihat bahwa meski margin masih stabil, faktor eksternal seperti harga bahan baku impor, nilai tukar, dan komposisi produk bernilai tambah tetap berpengaruh.

Untuk tahun 2026, OMED menargetkan pendapatan sebesar Rp2,3 triliun. Dua analis sepakat bahwa target tersebut realistis dengan potensi pertumbuhan antara 10% hingga 15%. Wafi menilai katalis utama berasal dari kebijakan TKDN dan tren ekspansi rumah sakit. Ekky menambahkan bahwa peluang pencapaian target tetap terbuka karena ekspansi lini produk dan distribusi yang lebih luas, selama permintaan domestik tetap stabil.

Dalam hal ekspansi, OMED membidik pertumbuhan ekspor, khususnya ke Amerika Serikat dengan target pertumbuhan 25% hingga 50% pada 2026. Leonard Hartanto, Direktur Operasional OMED, menyatakan optimisme terhadap kinerja ekspor. Pada tahun 2024 hingga 2025, ekspor ke Amerika meningkat dua kali lipat, dan harapan tahun ini bisa naik lagi antara 25% hingga 50%.

Selain pasar Amerika Serikat, OMED juga mulai menjajaki pasar baru seperti Filipina untuk memperluas jangkauan ekspor. Di sisi lain, perseroan menyiapkan belanja modal sekitar Rp110 miliar hingga Rp120 miliar pada tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan pabrik baru di Jawa Timur dan penambahan mesin produksi.

“Kami sedang menjajaki pabrik baru, tanahnya sudah milik kami. Itu capex yang akan kita anggarkan mungkin kurang lebih Rp60 miliar di Ngrimbi,” ujar Leonard. Pabrik baru ini akan fokus pada produksi produk seperti surgical gown, masker, dan wound dressing, mengingat utilisasi fasilitas produksi telah mencapai kisaran 80% hingga 86%.

Di tengah risiko global seperti fluktuasi harga energi dan ketidakpastian geopolitik, Wafi menilai kinerja OMED relatif tahan karena sektor kesehatan bersifat defensif dan didukung tingginya porsi produksi lokal. “Sektor kesehatan bersifat defensif, dan tingginya porsi produksi lokal melindungi OMED dari fluktuasi kurs dan disrupsi rantai pasok global,” imbuhnya.

Ekky juga menilai ketahanan operasional OMED cukup baik, meskipun ada risiko pada margin jika tekanan biaya impor dan logistik meningkat. Untuk rekomendasi, Wafi menyarankan beli saham OMED dengan target harga Rp360 per saham. Sementara itu, Ekky menilai saham OMED masih layak dicermati sebagai emiten defensif dengan pertumbuhan bertahap, dengan target harga di kisaran Rp300 hingga Rp320 per saham.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *