Pasar keuangan di Indonesia sedang berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan digelar pada 21–22 April 2026. Kebijakan suku bunga acuan menjadi faktor kunci yang akan menentukan arah pergerakan pasar, terutama mengingat tekanan eksternal yang masih terus berlangsung dan nilai tukar rupiah yang belum stabil.
Menurut Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berada dalam fase konsolidasi dengan pergerakan yang terbatas. Hal ini disebabkan oleh tekanan global yang tinggi, sehingga membuat pelaku pasar cenderung lebih hati-hati. Rupiah yang masih berada di level Rp 17.158 per dolar AS juga turut memengaruhi sentimen pasar.
Aksi jual dari investor asing terlihat pada saham-saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI. Namun, di sisi lain, dana asing justru mengalir ke sektor komoditas yang diuntungkan oleh pendapatan berbasis dolar. “Dana asing masih masuk ke saham komoditas,” ujar Liza.
Elandry Pratama, Analis Panin Sekuritas, melihat bahwa investor saat ini sedang mengambil posisi wait and see sambil menunggu kebijakan moneter yang lebih jelas. Ketidakpastian global, terutama terkait arah suku bunga The Fed dan inflasi, ikut memperparah ketidakpastian tersebut.
Proyeksi yang disampaikan Elandry adalah jika BI menurunkan suku bunga, IHSG berpeluang menguat ke kisaran 7.800–8.000. Namun, skenario yang paling diantisipasi adalah suku bunga yang ditahan, yang berpotensi membuat IHSG bergerak sideways di rentang 7.200–7.400 dengan rotasi sektoral terbatas.
Sebaliknya, jika BI menaikkan suku bunga, pasar berisiko merespons negatif. IHSG diperkirakan bisa terkoreksi ke kisaran 7.300–7.500. Pandangan serupa disampaikan oleh Liza, yang menyebutkan bahwa hanya ada dua skenario utama yang relevan saat ini. Jika suku bunga ditahan, IHSG berpotensi bergerak di rentang 7.400–7.700 dengan volatilitas tinggi.
Namun, jika suku bunga naik, indeks berisiko turun lebih dalam ke area 7.250–7.300 akibat tekanan likuiditas dan kekhawatiran stabilitas makro. Kenaikan suku bunga, lanjut Liza, akan menjadi sentimen negatif karena meningkatkan biaya dana dan menekan valuasi saham. Selain itu, langkah tersebut juga memberi sinyal bahwa stabilitas rupiah menjadi prioritas utama di tengah tekanan global.
Dalam kondisi ini, strategi investor disarankan tetap defensif. Pelaku pasar bisa memilih wait and see atau melakukan akumulasi selektif pada saham-saham likuid, terutama yang memiliki eksposur terhadap dolar AS, sambil mencermati pergerakan rupiah, yield global, serta arah kebijakan bank sentral.
Adapun sektor yang layak dicermati antara lain perbankan, properti dan konstruksi, konsumer, serta komoditas. Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain:
- BBCA dengan target harga Rp 6.700
- BMRI dengan target harga Rp 5.000
- BBTN dengan target harga Rp 1.500
- ICBP dengan target harga Rp 7.500
- TLKM dengan target harga Rp 3.200
- MDKA dengan target harga Rp 3.500 per saham
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











