Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Buntu
Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, akhirnya berakhir tanpa kesepakatan. Hal ini memicu kembali ketegangan global yang semakin meningkat. Pihak AS, terutama Presiden Donald Trump, mengambil langkah tegas dengan memerintahkan blokade militer di Selat Hormuz, jalur maritim paling strategis di dunia.
Langkah Drastis Trump: Blokade Militer di Selat Hormuz
Presiden AS, Donald Trump, secara resmi memerintahkan blokade militer di Selat Hormuz mulai Senin (13/4/2026) pukul 10.00 waktu Eastern Standard Time (EDT). Perintah tersebut diberikan kepada Angkatan Laut AS. Trump menyatakan bahwa blokade ini akan menargetkan kapal-kapal yang menuju atau berasal dari Iran.
Trump menegaskan dalam wawancara di program “Sunday Morning Futures” di Fox News bahwa AS tidak akan membiarkan Iran melakukan perdagangan minyak secara selektif. Ia menyatakan bahwa kebijakan yang diterapkan adalah “all or none”, artinya AS tidak akan membiarkan Iran menjual minyak hanya kepada pihak tertentu.
Selain itu, melalui platform Truth Social, Trump juga memberi instruksi kepada militer AS untuk menghancurkan ranjau-ranjau yang dipasang oleh Iran di perairan tersebut. Ia memberikan peringatan keras bahwa siapa pun dari pihak Iran yang berani menyerang kapal AS atau kapal sipil akan dihancurkan seketika.
Kegagalan Perundingan dan Reaksi Iran
Perundingan di Islamabad ini merupakan dialog intensif antara AS dan Iran dalam 47 tahun terakhir, yang bahkan melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, situasi justru semakin memanas karena konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon Selatan.
Pihak Iran menyayangkan kegagalan perundingan yang sebenarnya sudah hampir mencapai titik temu melalui Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa kegagalan dipicu oleh sikap “maksimalisme” dan perubahan target permintaan secara mendadak dari pihak AS.
Lewat platform X, ia menekankan bahwa niat baik seharusnya dibalas dengan niat baik, bukan permusuhan. Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut ambisi hegemoni AS sebagai penghalang utama perdamaian saat berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Di sisi lain, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan ditangani secara keras, meski mereka mengeklaim selat tetap terbuka bagi kapal sipil yang patuh aturan.
Dampak Ekonomi Global
Pernyataan terbaru Donald Trump langsung menimbulkan efek reaksi seketika terhadap pasar finansial global. Ancaman blokade yang diumumkan Trump ini langsung melecut lonjakan harga komoditas energi secara tajam.
Harga minyak Brent terpantau naik 8 persen menjadi 102 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.743.180. Kenaikan serupa terjadi pada minyak mentah AS yang menyentuh angka 104 dolar AS per barel atau sekitar Rp1.777.360. Di tingkat konsumen, harga bensin di AS diprediksi akan terus meroket melampaui rata-rata saat ini yang berada di angka 4,12 dolar AS per galon atau sekitar Rp70.410.
Tindakan Ekonomi Tambahan
Selain langkah militer, Trump juga memberikan tekanan ekonomi tambahan dengan mengancam akan memberlakukan tarif 50 persen terhadap produk-produk China jika Beijing terbukti memasok senjata ke Iran. Hal ini menunjukkan bahwa AS siap mengambil langkah-langkah lebih luas untuk menekan Iran dan sekutunya.
Koalisi Inggris dan Prancis
Inggris dilaporkan sedang menggalang koalisi bersama Prancis untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Ini menunjukkan bahwa negara-negara Eropa juga khawatir dengan kemungkinan munculnya krisis di kawasan tersebut.
Kesimpulan
Kegagalan perundingan antara AS dan Iran di Islamabad telah memicu tindakan tegas dari pihak AS, termasuk blokade militer di Selat Hormuz. Reaksi keras dari Iran dan dampak ekonomi global menunjukkan bahwa situasi ini sangat sensitif dan berpotensi memicu krisis yang lebih besar. Dengan ancaman ekonomi dan militer yang saling bertolak belakang, dunia kini berada di ambang krisis yang bisa berdampak luas.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











