Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Bung Tomo, Berani Lawan Bung Karno hingga Ditahan Soeharto, Meninggal di Mekkah



Bung Tomo adalah sosok yang berani. Ia menjadi salah satu tokoh penting dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Keberaniannya tidak hanya terlihat dalam perjuangannya melawan tentara Inggris, tetapi juga dalam kritik-kritiknya terhadap pemimpin-pemimpin besar seperti Bung Karno dan Soeharto. Kritik tersebut akhirnya membuatnya dipenjara oleh rezim Orde Baru menjelang akhir 1970-an.

Perjalanan Politik Bung Tomo yang Tidak Mulus

Meskipun dikenal sebagai pahlawan nasional, perjalanan politik Bung Tomo tidak selalu mulus. Di usia yang masih muda, ia pernah menghardik Bung Karno dan bahkan dipenjara oleh rezim Orde Baru. Sebagai Sutomo, ia dikenal dengan panggilan Bung Tomo, seorang pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai cara, termasuk melalui media radio.

Pada usia 25 tahun, Bung Tomo meninggalkan jabatannya sebagai Pemimpin Redaksi Antara Jawa Timur untuk mendirikan sebuah radio tanpa izin pemerintah. Radio ini menjadi wadah untuk menyebarkan semangat perjuangan dan memanggil para jago-jago untuk turun ke medan juang. Dengan menggunakan berbagai bahasa seperti Inggris dan Belanda, radio itu berhasil membuat musuh terkecoh.

Semangat Berani yang Tak Pernah Luntur

Keberanian Bung Tomo tidak hanya berasal dari dirinya sendiri, tetapi juga dari keturunan leluhurnya yang merupakan prajurit Mataram yang menolak bekerja sama dengan Belanda. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mendengar kisah-kisah keperwiraan dari keluarganya. Neneknya berasal dari Jawa Barat, sedangkan kakeknya dari Madura. “Kalau lagi tertawa, itu ciri orang Sunda. Kalau lagi marah, keluar darah Madura. Tetapi diplomasinya tetap diplomasi Jawa,” katanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Bung Tomo tahu bahwa tindakannya mengandung banyak risiko. Namun, ia merasa bahwa bagi pemuda yang hidup di zaman perang, rasanya malu kalau tidak berani. “Keberanian itu tidak bisa disulap! Tapi secara umum, bagi pemuda yang hidup di zaman perang waktu itu, rasanya malu kalau tidak berani. Jadi, setengahnya terpaksa berani,” ujarnya.

Peran Radio dalam Pertempuran 10 November

Radio Pemberontakan Rakyat Indonesia yang didirikannya memiliki peran penting dalam Pertempuran 10 November 1945. Dengan pidato yang penuh semangat dan menggelegar, Bung Tomo berhasil membangkitkan semangat juang pendengarnya. Meski mirip dengan gaya pidato Bung Karno, ia tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah pidatonya dapat diterima oleh rakyat.

Di bawah dentuman meriam dan rentetan bunyi mitraliur, Bung Tomo dan kawan-kawannya tetap setia mengudara. Radio ini menjadi jiwa dari api perlawanan rakyat terhadap Inggris dan Belanda pada masa itu. Radio ini tidak hanya mengumumkan korban-korban yang tewas, tapi juga memanggil jago-jago dari beberapa daerah di sekitar Surabaya untuk bergabung dalam usaha mempertahankan Surabaya.

Kritik terhadap Pemerintahan Orde Baru

Setelah pertempuran 10 November, Bung Tomo tetap berani menyatakan sikap. Bahkan setelah masa Orde Baru dimulai, ia tidak segan-segan menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Soeharto. Awalnya, ia sempat mendukung pemerintahan Soeharto, namun seiring berjalannya waktu, ia mulai kecewa dengan kebijakan-kebijakan yang dinilainya tidak berpihak pada rakyat.

Salah satu kritiknya adalah terhadap pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diinisiasi oleh Ibu Tien. Bung Tomo menilai hal ini sebagai bentuk korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Ia juga mengkritik peran asisten pribadi Soeharto, yaitu Ali Moertopo dan Sudjono Humardani, yang dianggapnya sebagai orang-orang yang berkuasa di balik layar.

Penangkapan dan Penjara Orde Baru

Pada 1978, Bung Tomo ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan subversif. Dia dikerangkeng tanpa proses pengadilan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede. Selama di penjara, ia ditemani oleh Ismail Sunny, seorang pakar hukum tata negara yang juga kritis terhadap Orde Baru.

Istri Bung Tomo, Sulistina, tidak tinggal diam. Dia mengirim surat protes kepada Soeharto, menulis bahwa orang yang sudah mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negara tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri. Setelah mendekam selama satu tahun di penjara, Bung Tomo akhirnya dibebaskan pada 1979.

Meninggal Dunia dan Penghargaan Akhir

Setelah dibebaskan, Bung Tomo lebih memilih fokus pada bisnis percetakannya dan kegiatan sosialnya. Pada 1981, ia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Sayangnya, ia meninggal dunia di Mekah pada 7 Oktober 1981. Pahlawan Pertempuran 10 November 1945 itu lalu dimakamkan di Pemakaman Umum Ngagel Surabaya dan baru dianugerahi gelar pahlawan pada tahun 2008.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *