Hujan Kencang dan Angin Mengakibatkan Kerusakan di Lima Desa Kabupaten Klaten
Hujan disertai angin kencang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Peristiwa ini menimbulkan dampak yang cukup signifikan, terutama pada lima desa yang terdampak. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) mencatat adanya kerusakan pada puluhan bangunan, termasuk rumah, tempat usaha, dan tempat ibadah.
Peristiwa hujan angin terjadi sekitar pukul 15.30 WIB, Jumat (3/4/2026). Tiga kecamatan yang terdampak adalah Karangnongko, Klaten Selatan, dan Kemalang. Sementara itu, lima desa yang terkena dampaknya antara lain Somokaton, Gayamprit, Nglinggi, Kemalang, dan Keputran.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klaten, Syahruna, mengungkapkan bahwa dalam data sementara, sekitar 20 bangunan mengalami kerusakan. Mayoritas kerusakan terjadi pada bagian atap. Selain itu, beberapa pohon juga tumbang akibat angin kencang.
Kerusakan Atap Sekolah Menyebabkan Gangguan KBM
Salah satu lokasi yang terdampak adalah SDN 2 Sribit di Dukuh Bekuning, Desa Sribit, Kecamatan Delanggu. Atap sekolah tersebut roboh, sehingga mengganggu aktivitas belajar mengajar. Syahruna menjelaskan bahwa insiden ini terjadi pada Kamis (2/4/2026), dan memengaruhi ruang kelas 2, ruang kelas 1, serta perpustakaan.
“SDN 2 Sribit mengalami roboh atapnya, yang mengakibatkan ruang kelas 2 sudah tidak dapat dipakai,” ujarnya. “Dan imbasnya juga di ruang kelas 1, kuda-kudanya melengkung. Termasuk di ruang perpustakaan juga terdampak. Beberapa genteng runtuh,” tambahnya.
Akibat dari kerusakan atap ini, kegiatan belajar mengajar (KBM) terganggu. Untuk hari berikutnya, kelas 1 dan 2 akan belajar di rumah. Sedangkan kelas 3 hingga 6 tetap masuk seperti biasa. Jumlah siswa yang terdampak adalah 8 siswa kelas 2 dan 6 siswa kelas 1 dari total 32 siswa di sekolah tersebut.
Koordinasi dengan DPUPR untuk Pembenahan Bangunan
Syahruna menyampaikan bahwa pihak BPBD telah melakukan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) Kabupaten Klaten. Tujuannya adalah untuk mengecek kondisi ruangan lainnya. Tim teknis dari DPUPR diharapkan datang dalam waktu dekat.
Hasil pengecekan menunjukkan bahwa kerusakan atap diduga disebabkan oleh kayu atap yang sudah lapuk. “Untuk atap roboh ini karena bangunannya (atap) sudah lapuk, bukan akibat hujan maupun angin,” jelas Syahruna. “Memang kualitas bangunannya sudah lapuk semua.”
Informasi lebih lanjut mengungkapkan bahwa rehabilitasi terakhir dilakukan pada tahun 2005. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi bangunan sangat rentan terhadap cuaca ekstrem.
Penanganan di Lokasi Terdampak
Saat ini, BPBD Klaten masih melakukan pendataan dan penanganan di lokasi terdampak. Proses penanganan melibatkan berbagai unsur, seperti TNI, Polri, relawan, PMI, hingga Damkar. Pendataan dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi terkini dan mencegah risiko lebih lanjut.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti informasi resmi dari instansi terkait. Dengan demikian, masyarakat dapat mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











