Wali Kota Medan Perhatikan Kondisi Pelajar yang Melintasi Pipa Bekas Rel Kereta Api
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menunjukkan perhatian khusus terhadap kondisi para pelajar di kawasan Sukadamai, Kecamatan Medan Polonia. Kondisi tersebut viral karena banyaknya siswa yang memilih melintasi pipa bekas rel kereta api untuk menuju sekolah. Tindakan ini dinilai sangat membahayakan dan menjadi sorotan masyarakat.
Rico Waas mengungkapkan bahwa kondisi ini sudah berlangsung selama puluhan tahun. Bahkan dirinya sendiri pernah mengalami hal serupa saat masa sekolah dulu. Ia menjelaskan bahwa akses jalan pintas melalui pipa bekas rel itu dulu digunakan karena jarak yang lebih dekat.
“Kondisi pelajar itu pasti jadi perhatian saya ke depan. Itu di belakang sekolah kami dulu. Sudah lama jadi akses jalan pintas. Dulu saya lewat situ juga pas masa sekolah, karena memang efisien jaraknya menjadi lebih dekat,” ujar Rico Waas usai melantik 76 pejabat di lantai IV Balai Kota Medan, Kamis (16/4/2026).
Langkah Ke Depan untuk Menyelesaikan Masalah
Menurut Rico Waas, langkah ke depan adalah melakukan koordinasi dengan pihak KAI terkait penggunaan akses pipa yang merupakan bekas jalur rel kereta api. Pemko Medan akan mencari solusi infrastruktur yang dapat dibangun, serta mencari jalur alternatif yang lebih aman bagi para pelajar.
“Segera ini Pemko Medan akan koordiansi planing dengan KAI, karena kan ini lahan mereka, apakah bisa dibangun jembatan. Atau kita cari akses alternatif yang lebih perhatikan jaraknya ya. Pasti atensi ya,” kata Rico Waas.
Bahaya yang Mengancam Para Pelajar
Beberapa pelajar memilih berjalan di atas pipa besar yang merupakan bekas rel KAI milik Perumda Tirtanadi. Pipa ini melintang di atas aliran Sungai Deli yang deras. Pihak sekolah telah memberikan peringatan agar tidak melintasi akses jalan yang membahayakan.
Ketinggian pipa tersebut mencapai sekitar 7 hingga 10 meter dari permukaan air sungai. Di bawahnya, arus sungai deras, sementara di atasnya, para pelajar harus melangkah pelan dan extra hati-hati agar tidak jatuh ke arus deras.
Sejarah Akses Jembatan ‘Darurat’
Akses jembatan ‘darurat’ berupa pipa ini sebelumnya menghubungkan tiga wilayah yaitu Kecamatan Medan Maimun, Kecamatan Medan Polonia, dan Kecamatan Medan Johor. Sebelumnya, di kawasan tersebut memang terdapat akses jembatan penyeberangan yang merupakan jalur lintasan rel kereta api.
Setelah perlintasan sejak jaman Belanda itu tak lagi dimanfaatkan untuk kereta api, sehingga dimanfaatkan untuk jembatan penyeberangan ‘darurat warga sekitar’.
Upaya Sekretaris Dinas Pendidikan
Sekretaris Dinas Pendidikan Pemko Medan, Andi Yudhistira menyampaikan bahwa pihaknya sudah berulang kali berkoordinasi dengan pihak kepala sekolah agar mengingatkan peserta didik. Hanya saja di luar sekolah kerap tidak terkontrol aktivitasnya.
“Akses utamakan bukan dari situ, kita selalu arahkan untuk ke sekolah melalui akses jalan utama oleh pihak sekolah. Jadi setiap upacara terus diingatkan Kepsek ke murid-murid itu supaya gak lewati akses pipa alternatif itu,” kata Andi Yudhistira.











