Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Warga Bilik kehilangan rumah saat audiensi di Balai Kota

Penggusuran yang Menyakitkan dan Kekacauan di Kampung Bilik

Lusi, seorang warga yang tinggal di Kampung Bilik, Kalideres, Jakarta Barat, memiliki niat baik untuk mencari keadilan. Namun, kenyataannya justru menyakitkan. Tempat tinggalnya yang ia perjuangkan selama ini malah hancur saat dirinya sedang menyampaikan aspirasinya di Balai Kota DKI Jakarta.

Lusi mengisahkan bahwa ia datang ke Balai Kota untuk menghadiri undangan audiensi guna mencari solusi atas rencana penggusuran yang mengancam pemukimannya. Meski sempat terbawa emosi hingga menangis dan pingsan saat mencoba bertemu Gubernur, Lusi akhirnya hanya bisa menyampaikan keluh kesahnya kepada staf gubernur dan bagian Biro Hukum.

Ia mengaku hanya menuntut satu hal sederhana, yaitu keadilan dan perlakuan yang manusiawi bagi rakyat kecil. “Tadi saya dan perwakilan warga di Balai Kota enggak ketemu sama Pak Gubernur, cuma ketemu sama staffnya aja,” kata Lusi ditemui di Kampung Bilik, Senin (6/4/2026).

Namun, “hadiah” yang ia dapati saat pulang sungguh di luar dugaan. Setibanya di Kampung Bilik, rumah yang sudah ditinggalinya lebih dari 20 tahun kini rata dengan tanah. Eksekusi penggusuran ternyata berlangsung sekira pukul 10.00 WIB, mendahului jadwal yang ia ketahui sebelumnya. Yang makin membuatnya kecewa lantaran seluruh barang miliknya dihancurkan begitu saja tanpa dipindahkan.

“Ternyata dihancurin semua, isi-isinya (hancur). TV, lemari, kasur semuanya digusur. Harusnya kan minimal dikeluarin dulu biar bisa dipakai,” ucap Lusi sambil meratapi puing-puing bangunan yang dulunya adalah tempat berteduh.

Ia menegaskan sebenarnya menerima penggusuran itu asalkan rusun yang ditawarkan pemerintah tak jauh dari kawasan Kamal. “Kalau rusunnya dekat dari sini, saya mau aja pindah. Tapi kalau jauh, ya saya juga keberatan karena kan saya cari duitnya di sini,” kata dia.

Kini, Lusi dan beberapa warga lainnya hanya bisa terpaku melihat sisa-sisa barang mereka yang tertimbun reruntuhan. Ia memohon agar pemerintah mempertimbangkan konsep rumah deret atau rumah vertikal bagi warga yang terdampak, alih-alih melakukan penggusuran paksa tanpa relokasi yang layak.

“Intinya ya kalau memang boleh, sini gusur silakan tapi sana tolonglah buat warga untuk rumah deret, semacam rumah vertikal, rumah rakyat,” ujar Lusi.

Diwarnai Kericuhan

Eksekusi lahan yang terjadi di Kampung Bilik sempat diwarnai kericuhan. Warga yang menolak penggusuran sempat membentangkan spanduk berisi aspirasi mereka. Cekcok mulut hingga aksi saling dorong antara warga dan petugas tak terhindarkan. Warga menyadari lahan yang selama ini mereka tempati memang milik pemerintah. Namun mereka bersikeras bertahan karena merasa belum mendapatkan solusi relokasi yang manusiawi dan lokasi yang terjangkau dari tempat mereka mencari nafkah.

Pengembalian Aset

Camat Kalideres, Raditian Ramajaya, menegaskan penggusuran ini terpaksa diambil karena lahan tersebut merupakan aset pemerintah yang akan difungsikan sebagai tempat pemakaman umum (TPU). “Warga masih ingin mempertahankan tempat tinggalnya, walaupun harus disadari bahwa ini adalah lahan pemerintah,” ujar Raditian di lokasi.

Ia menjelaskan bahwa pihak kecamatan sebenarnya sudah memberikan tenggat waktu hingga Minggu (5/4/2026) agar warga membongkar bangunan secara mandiri. Namun hingga batas waktu berakhir, masih ada 7 Kepala Keluarga (KK) yang bertahan.

Opsi Relokasi: Nagrak atau Tzu Chi?

Persoalan utama yang memicu penolakan adalah lokasi relokasi. Warga keberatan dipindahkan ke Rusun Nagrak di Jakarta Utara karena jarak yang terlalu jauh. Sebagai jalan tengah, pihak pemerintah menawarkan opsi relokasi ke Rusun Yayasan Buddha Tzu Chi di Cengkareng Timur yang lokasinya lebih dekat.

“Tarifnya Rp 350.000 per bulan. Namun memang tidak ada kebijakan penggratisan di awal karena ini milik swasta,” kata Raditian.


Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *