JAKARTA — Konflik militer yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran sejak awal Maret 2026 telah memicu gelombang kritik internal terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump. Eskalasi ini dinilai tidak hanya melanggar janji kampanye Trump untuk menjaga AS dari keterlibatan dalam konflik baru di Timur Tengah, tetapi juga memperburuk tekanan ekonomi domestik, termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak yang bertentangan dengan janji menekan inflasi.
Hasil jajak pendapat CBS News terkini menunjukkan tingkat ketidaksetujuan terhadap kinerja Presiden Trump meningkat hingga 60%. Di berbagai wawancara jalanan dan media sosial, sentimen penyesalan dari pemilih yang sebelumnya mendukung Trump semakin terlihat. Bahkan, sejumlah politisi Partai Republik yang selama ini menjadi pilar pendukung administrasi mulai menunjukkan kegelisahan mereka.
Keraguan di Tubuh Partai Republik
Pada awal Maret lalu, Senator Partai Republik John Kennedy sempat menyatakan optimisme dengan pernyataan “Kita sudah menang di Iran.” Namun, seiring berjalannya waktu dan situasi di lapangan yang tidak kunjung mereda, nada optimistis itu mulai luntur. Titik balik terjadi ketika pemerintahan Trump mengajukan permintaan tambahan dana perang sebesar 200 miliar dolar AS, angka yang mengejutkan mengingat konflik baru berlangsung kurang dari sebulan.
Kennedy kemudian menyatakan tidak akan menyetujui alokasi dana sebesar itu tanpa melalui proses sidang dengar pendapat yang ketat. Senada dengan itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari faksi MAGA (Make America Great Again), Lauren Boebert, secara vokal menentang pendanaan tambahan. Boebert menyampaikan kelelahan atas alokasi dana pajak yang terus mengalir ke kompleks industri militer, sementara warganya di Colorado justru kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Sikap Boebert ini menarik perhatian. Bersama Marjorie Taylor Greene, ia dikenal sebagai figur perempuan paling vokal dalam kubu MAGA. Namun, kebijakan luar negeri Trump yang dinilai terlalu akomodatif terhadap kepentingan Israel, bahkan di atas kepentingan nasional AS, mulai menggoyahkan loyalitas mereka.
Pergeseran Sikap Tokoh Pro-Trump
Kritik paling tajam justru muncul dari tokoh-tokoh yang sebelumnya menjadi pendukung setia Trump. Marjorie Taylor Greene, yang pada 2021 gencar mempromosikan gelang “Berdoa untuk Israel”, kini secara terbuka mengecam apa yang disebutnya sebagai kekejaman Israel di Palestina. Ia bahkan menulis bahwa “perang dengan Iran adalah perang terakhir Amerika” dan menyoroti bagaimana pihak-pihak pro-perang merayakan gugurnya tentara AS.
Pergeseran serupa terjadi pada Carrie Prejean Boller, mantan Miss California 2009 yang memiliki hubungan dekat dengan Trump. Setelah diangkat dalam Komisi Kebebasan Beragama Gedung Putih, Boller justru vokal menyuarakan kritik terhadap genosida di Gaza dan menolak tekanan pejabat yang memintanya mundur. Ia akhirnya diberhentikan setelah pernyataan anti-Zionisnya menuai kecaman dari kelompok pro-Israel. Pemberhentian ini kemudian memicu solidaritas dari tokoh seperti Tucker Carlson dan sejumlah kritikus Israel lainnya.
Komentator Politik dan Pengaruh Mereka
Candace Owens, komentator politik yang dulu menjadi ikon sayap kanan, kini secara terang-terangan menyatakan AS sepenuhnya berada di bawah kendali Zionis. Ia menuding Trump hanya menjalankan perintah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menantu presiden, Jared Kushner. Owens bahkan menyebut militer AS saat ini bekerja untuk kepentingan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Candace Owens adalah aktivis politik konservatif dan komentator media yang dikenal sebagai pendukung kuat gerakan konservatif Amerika, terutama di kalangan generasi muda. Owens sebelumnya aktif dalam organisasi Turning Point USA dan kemudian membangun basis pengaruhnya melalui podcast, media sosial, serta berbagai forum politik. Ia dikenal karena kritik keras terhadap Partai Demokrat, media arus utama, serta kebijakan liberal, dan sempat menjadi salah satu suara yang cukup vokal dalam mendukung agenda konservatif.
Tucker Carlson, yang pernah memilih Trump dalam pemilu, kini menilai presiden telah mengkhianati prinsip “America First”. Dalam wawancara dengan The Economist, Carlson menyampaikan kekecewaannya, sebuah sikap yang dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap opini publik mengingat popularitasnya yang luas di kalangan pemilih konservatif.
Dinamika yang Terus Bergerak
Perubahan sikap dari tokoh-tokoh berpengaruh ini menggambarkan adanya pergeseran signifikan dalam peta politik domestik AS. Mereka yang sebelumnya menjadi corong propaganda pro-Israel dan pro-perang kini mulai mempertanyakan arah kebijakan luar negeri Trump. Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah upaya lobi Zionis yang selama ini menggelontorkan dana besar untuk mempertahankan pengaruh mereka.
Bagi Trump, yang tengah menjalani masa jabatan terakhir, reputasi jangka panjang mungkin bukan lagi prioritas utama. Namun, bagi publik Amerika dan struktur politik yang selama ini terbangun atas dukungan koalisi konservatif, perang ini telah membuka keretakan yang tidak mudah diperbaiki. Citra Israel di mata masyarakat AS, terutama di kalangan konservatif, kini berada pada titik terendah, sementara perlawanan terhadap kebijakan luar negeri yang dinilai mengorbankan kepentingan nasional terus menguat.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











