Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Hampir 2000 Kapal Terjebak di Selat Hormuz, Iran Izinkan Lalu Lintas Jika Dibayar

Krisis Energi Global Akibat Blokade di Selat Hormuz

Selat Hormuz, yang dikenal sebagai jalur vital bagi distribusi energi dunia, kini menjadi pusat perhatian global setelah Iran memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang melintas. Blokade de facto ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas ekonomi global.

Sebanyak 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati perairan sempit ini, sehingga gangguan di jalur tersebut berpotensi menyebabkan resesi global. Menurut laporan media internasional, para ahli memperingatkan bahwa situasi ini bisa berujung pada penurunan pertumbuhan ekonomi global dalam waktu dekat. Dampak langsungnya adalah hampir 2.000 kapal yang tertahan di kawasan tersebut, mengganggu rantai pasok global dan menambah tekanan terhadap perekonomian dunia.

Jalur Vital yang Kini Jadi Alat Tawar Geopolitik

Selat Hormuz tidak hanya sekadar jalur perdagangan internasional, tetapi juga menjadi alat tawar geopolitik bagi Iran dalam menghadapi tekanan konflik yang semakin meningkat. Kini, kawasan ini menjadi fokus utama dari berbagai kebijakan dan tindakan yang dilakukan oleh negara-negara terkait.

Kapal-kapal yang melintas kini terjebak di jalur sempit yang berbatasan langsung dengan Iran di sisi utara, serta Oman dan Uni Emirat Arab di bagian selatan. Kondisi ini membuat rantai pasok global terancam terganggu. Jika situasi terus berlarut, bukan tidak mungkin krisis energi akan semakin meluas dan menyeret perekonomian dunia ke dalam tekanan yang lebih dalam.

Rancangan Undang-Undang untuk Pungutan Biaya Tol

Di tengah situasi tersebut, parlemen Iran tengah menyiapkan rancangan undang-undang untuk mengenakan biaya tol bagi kapal yang melintas. Sejumlah pejabat menyebut pungutan ini sebagai langkah wajar demi menjamin keamanan pelayaran.

“Menurut rencana ini, Iran harus memungut biaya untuk memastikan keamanan kapal yang melewati Selat Hormuz. Ini sepenuhnya wajar,” ujar seorang pejabat, seraya membandingkannya dengan biaya lintas di koridor perdagangan lain. Biaya melintas bisa mencapai jutaan dollar AS.

Iran bahkan menuntut pengakuan internasional atas haknya mengelola Selat Hormuz sebagai salah satu syarat untuk mengakhiri konflik. Anggota parlemen Iran, Alaeddin Boroujerdi, mengungkapkan bahwa negaranya telah mengenakan biaya sekitar 2 juta dollar AS kepada sejumlah kapal yang melintas.

“Sekarang, karena perang memiliki biaya, tentu saja kita harus memungut biaya transit dari kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz,” ujarnya.

Efek pada Harga Minyak dan Ekonomi Global

Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, Iran yang memiliki wilayah teritorial di selat tersebut membatasi pergerakan kapal pengangkut minyak dan gas alam cair. Kebijakan ini langsung berdampak pada lonjukan harga minyak global yang menembus di atas 100 dollar AS per barel, atau naik sekitar 40 persen dibandingkan sebelum konflik.

Akibatnya, sejumlah negara, terutama di Asia mulai melakukan penjatahan bahan bakar dan menekan produksi industri. Laporan Associated Press menyebut Iran kini memosisikan diri sebagai pengendali utama Selat Hormuz, jalur paling vital bagi distribusi energi dunia.

Sistem Mirip “Pos Tol”

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa Iran menerapkan sistem mirip “pos tol”. Kapal yang ingin melintas diwajibkan memasuki perairan Iran untuk diperiksa oleh IRGC. Setidaknya dua kapal dilaporkan telah membayar biaya tersebut untuk mendapatkan izin melintas.

Dalam surat kepada International Maritime Organization (IMO), Iran menyatakan langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan dan keamanan maritim serta diklaim sesuai dengan hukum internasional. Di sisi lain, parlemen Iran juga tengah memfinalisasi aturan untuk melegalkan pungutan tersebut.

Media lokal menyebut kebijakan ini bertujuan memperkuat kedaulatan Iran atas Selat Hormuz sekaligus membuka sumber pendapatan baru. Sementara itu, IMO mengecam serangan terhadap kapal dan menyerukan pendekatan internasional yang terkoordinasi untuk menjaga keamanan jalur pelayaran, dengan tetap menghormati prinsip kebebasan navigasi.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *