Tren Kesehatan dan Kue Lebaran
Di tengah perayaan Lebaran, ada satu kebiasaan yang sering kali tidak disadari namun memiliki dampak besar terhadap kesehatan: kebiasaan “nyemil tanpa sadar”. Dari satu rumah ke rumah lain, tangan seperti otomatis meraih stoples kue di meja tamu seperti nastar, kastengel, atau putri salju. Meskipun tampak kecil dan ringan, kue-kue ini bisa menjadi sumber kalori berlebih.
Kondisi ini semakin menjadi perhatian dalam dunia kesehatan, seiring meningkatnya kesadaran tentang pola makan modern yang cenderung tidak disadari (mindless eating) dan berdampak pada lonjakan berat badan pasca hari raya.
Dokter di Medical Center Kompas Gramedia sekaligus Health Management Specialist Corporate HR Kompas Gramedia, dr Santi menjelaskan bahwa kue Lebaran memiliki karakteristik yang ‘menjebak’: tinggi kalori, tetapi rendah nilai gizi. “Kue itu biasanya hanya terdiri dari tepung, gula, mentega atau minyak. Kalorinya tinggi, tapi nilai gizinya minimal,” ujarnya dalam kanal YouTube Sonora FM, Rabu (25/3/2026).
Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan konsep energy density, yaitu jumlah kalori dalam setiap gram makanan. Kue kering memiliki energy density tinggi, tetapi tidak mengandung cukup protein atau serat yang berfungsi memberikan rasa kenyang lebih lama. Akibatnya, otak tidak cepat menerima sinyal kenyang, sehingga seseorang cenderung terus makan tanpa sadar.
Dalam perspektif kesehatan kekinian, fenomena ini juga dikaitkan dengan dopamine driven eating atau kebiasaan makan yang dipicu rasa senang sesaat dari makanan manis dan berlemak. Kombinasi gula dan lemak dalam kue Lebaran terbukti dapat merangsang pusat reward di otak, membuat seseorang ingin terus mengonsumsinya meski tubuh sebenarnya tidak membutuhkan energi tambahan.
Berbeda dengan makanan utama seperti daging atau ayam yang kaya protein dan lebih mengenyangkan, kue kering justru bersifat “snackable” mudah dimakan berulang tanpa terasa. Inilah yang sering menyebabkan kelebihan kalori harian secara signifikan selama periode Lebaran.
Dampak Konsumsi Berlebihan Kue Kering
Tidak hanya berdampak pada berat badan, konsumsi berlebihan kue kering juga berpotensi memicu lonjakan gula darah secara cepat (blood sugar spike), terutama pada individu dengan risiko diabetes atau resistensi insulin. Lonjakan ini biasanya diikuti penurunan energi secara drastis, yang justru memicu rasa lapar kembali dalam waktu singkat.
Meski demikian, dr Santi menegaskan bahwa kue Lebaran bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah pengendalian dan kesadaran dalam mengonsumsi. Salah satu strategi yang disarankan adalah memilih kue yang benar-benar disukai, bukan sekadar mencicipi semua jenis yang tersedia di meja.
“Pilih yang paling kamu suka, ambil secukupnya saja, jangan sampai berlebihan,” katanya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep mindful eating, yakni menikmati makanan secara perlahan, fokus pada rasa dan tekstur, serta menyadari kapan tubuh mulai merasa cukup. Dengan cara ini, otak memiliki waktu untuk memproses sinyal kenyang, sehingga risiko makan berlebihan bisa ditekan.
Alternatif Camilan yang Lebih Sehat
Selain itu, tren kesehatan saat ini juga mendorong penggantian camilan tinggi kalori dengan opsi yang lebih bernutrisi, seperti kacang-kacangan. Dibandingkan kue berbahan tepung, kacang mengandung protein, lemak sehat, serta serat yang membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan menstabilkan gula darah.
Kesimpulan
Pada akhirnya, Lebaran tetap bisa dinikmati tanpa harus menjadi “jebakan kalori” tahunan. Dengan memahami cara kerja tubuh, mengenali pola makan tidak sadar, serta menerapkan strategi sederhana, momen kebersamaan tetap hangat tanpa diakhiri dengan kenaikan berat badan atau penyesalan setelahnya.











