Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Tel Aviv Meledak: 7 Gelombang Rudal Serang Israel, Komandan Milisi Tewas, Harga Minyak Melonjak

Serangan Rudal Iran Memperburuk Ketegangan di Timur Tengah

Langit Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meluncurkan serangan masif dengan tujuh gelombang rudal dalam waktu kurang dari 10 jam hingga Selasa (24/3/2026) siang. Rekaman drone menunjukkan kerusakan parah di jantung kota Tel Aviv, dengan gedung-gedung yang hancur dan asap hitam yang membumbung tinggi, mengakhiri harapan akan perdamaian yang sempat disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump.

Harapan pasar untuk berakhirnya konflik dalam waktu dekat langsung sirna. Harga minyak mentah Brent kembali melonjak melebihi angka psikologis $100 per barel setelah sebelumnya turun. Para analis menduga bahwa klaim Trump tentang “dialog produktif” dengan Teheran hanya taktik untuk menenangkan pasar energi yang sedang tercekik.

“Presiden memahami bahwa harga bensin naik dan penumpukan minyak di Selat Hormuz semakin kritis. Dia perlu melakukan sesuatu untuk memperlambat itu,” ujar Joel Rubin, mantan pejabat tinggi Departemen Luar Negeri AS.

Namun, Teheran secara konsisten menolak adanya dialog, menyebut klaim Trump sebagai upaya membeli waktu untuk rencana militer. Eskalasi konflik ini tidak hanya terjadi di wilayah Israel, tetapi juga mencakup negara-negara Teluk seperti Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi.

Serangan Menyasar Pusat Kota dan Wilayah Sensitif

Serangan semalam tidak hanya menyasar pusat kota, tetapi juga mencapai Dimona, lokasi riset nuklir sensitif di gurun Negev. Sirine peringatan berbunyi hingga ke sana, menandai meningkatnya ancaman terhadap keamanan nasional.

Di sisi lain, Israel tidak diam. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa kampanye pengeboman terhadap Iran terus berlangsung dengan kekuatan penuh. “Kami terus menyerang Iran dengan kekuatan maksimal,” tegasnya, bertentangan dengan narasi negosiasi Trump.

Pasukan pertahanan Israel (IDF) mengeklaim telah menghantam lebih dari 50 target baru di Iran semalam, menambah daftar panjang lebih dari 3.000 target yang telah digempur sejak perang pecah empat minggu lalu. Tragedi kemanusiaan semakin nyata di lapangan; petugas medis di Tel Aviv berjibaku merawat korban luka di bawah reruntuhan, sementara warga sipil di seluruh kawasan hidup dalam ketakutan, menunggu keajaiban diplomasi yang belum terwujud.

Komandan Milisi Pro-Iran Tewas dalam Serangan Udara AS

Serangan udara Amerika Serikat dilaporkan menghantam markas besar pasukan paramiliter pro-Iran, Popular Mobilization Forces (PMF), di Provinsi Anbar, Irak, pada Selasa dini hari (24/3/2026). Insiden ini menewaskan sedikitnya 15 pejuang, termasuk komandan operasi tingkat tinggi, dan melukai belasan lainnya.

Target strategis serangan ini adalah markas PMF di wilayah Habbaniyah, yang terletak strategis di antara Baghdad dan Ramadi. Sumber medis dan lapangan mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas dan luka kini mencapai 30 orang. Di antara mereka yang tewas adalah Saad Dawai al-Baiji, Komandan Operasi PMF untuk wilayah Anbar, serta wakilnya, Wathiq al-Fartousi.

Pihak PMF dalam pernyataan resminya menyebut serangan ini sebagai “pengkhianatan pengecut” oleh militer Amerika Serikat. Isak tangis pecah di RS Al-Hussein Al-Askari saat rekan sejawat dan keluarga memberikan penghormatan terakhir bagi para pejuang yang tewas dalam serangan fajar tersebut.

Balas Dendam Berantai di Jalur Konflik

Serangan udara AS ini merupakan respons terhadap ratusan serangan roket dan drone yang dilancarkan milisi pro-Iran ke Kedutaan Besar AS di Baghdad dan pangkalan militer koalisi sejak pecahnya perang besar pada 28 Februari lalu. Ketegangan kian memuncak setelah PMF juga melakukan serangan roket ke wilayah Suriah dan Kurdi hanya sehari sebelumnya.

Situasi di Irak kini berada di titik nadir, di mana kedaulatan negara tersebut terjepit di antara kekuatan besar. Analis keamanan memperingatkan bahwa kematian Saad Dawai dapat memicu gelombang serangan balasan yang lebih masif terhadap aset-aset Barat di kawasan tersebut.

Di tengah runtuhnya diplomasi global, Irak kembali menjadi medan tempur proksi yang kian berdarah, meninggalkan warga sipil dalam ketakutan akan perang terbuka yang lebih luas.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *