Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Serangan ke Iran, awal kejatuhan dominasi AS global?



Tantangan Berkepanjangan dalam Konflik AS-Israel vs Iran

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran di awal Maret tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian. Justru, situasi yang muncul justru menunjukkan bahwa konflik ini akan berlarut-larut. Iran masih menunjukkan perlawanan yang kuat, sementara biaya ekonomi dan politik yang dialami oleh Amerika Serikat semakin meningkat.

Beberapa tokoh penting di Iran dilaporkan telah gugur. Namun, struktur kekuasaan negara tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan. Bahkan, di tengah tekanan luar biasa, Iran berhasil menciptakan konsolidasi kepemimpinan baru dengan Mojtaba Khamenei yang resmi ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi baru.

Penolakan Teheran terhadap dua tawaran gencatan senjata yang dibawa oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff, memperkuat keyakinan bahwa mereka tidak merasa dalam posisi terdesak. Sebaliknya, para pemimpin Iran menganggap bahwa Washington sedang menghadapi tekanan domestik. Mereka yakin bahwa konflik akan berakhir karena beban ekonomi, politik, dan militer yang semakin berat bagi Amerika Serikat.

Situasi ini membuka peluang ketidakpastian. Banyak pengamat menyatakan bahwa meskipun kemampuan militer Iran mungkin melemah, “kemenangan” formal bagi AS dan Israel tetap sulit dicapai karena kurangnya tujuan politik yang jelas. Risiko perang yang berkepanjangan juga sangat besar.

Selain itu, konflik ini bisa memperburuk kondisi ekonomi dan keuangan AS. Tekanan fiskal meningkat, proyeksi pertumbuhan melemah, dan risiko resesi semakin nyata. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan penting: apakah AS mampu menanggung biaya perang dalam kondisi ekonomi yang rapuh? Lebih jauh lagi, apakah AS mampu mempertahankan dominasi global dalam jangka panjang?

Tesis Paul Kennedy tentang Imperial Overstretch

Pertanyaan-pertanyaan ini mengingatkan pada tesis klasik sejarawan Paul Kennedy tentang kebangkitan dan kemunduran kekuatan besar. Menurutnya, kekuatan global tidak runtuh hanya karena kekalahan militer, melainkan karena ketidakseimbangan antara ambisi strategis dan kapasitas ekonomi. Ketika sebuah negara memperluas komitmen militernya melebihi daya dukung ekonominya, ia memasuki fase imperial overstretch.

Sejarah mencatat bahwa pola ini pernah terjadi pada kekaisaran besar seperti Spanyol, Inggris, dan Utsmani. Keterlibatan militer AS di Timur Tengah menunjukkan gejala serupa. Ambisi AS untuk mempertahankan dominasi global sering kali tidak diimbangi dengan perhitungan kapasitas ekonominya.

Biaya Kepemimpinan Global

Sejak berakhirnya Perang Dingin, AS mengambil peran sebagai kekuatan global dengan strategi intervensi militer di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah. Kebijakan ini sering dikemas sebagai upaya menjaga stabilitas internasional dan melindungi kepentingan nasional. Namun, biaya yang dikeluarkan sangat besar, sementara hasil strategisnya sering kali tidak sebanding.

Pengeluaran militer AS menjadi yang terbesar di dunia, sementara tantangan domestik—seperti ketimpangan ekonomi, masalah sosial, dan polarisasi politik—semakin meningkat. Di saat yang sama, AS menghadapi persaingan global yang semakin ketat, terutama dari Tiongkok yang terus memperkuat posisinya dalam produksi industri, teknologi, dan infrastruktur.

Sumber daya yang dialokasikan untuk konflik militer berpotensi mengurangi daya saing AS dalam arena yang justru menentukan masa depan kekuatan global.

Peringatan Realis dan Kesalahan Strategis

Kalangan realis dalam hubungan internasional telah lama memperingatkan risiko kebijakan luar negeri yang terlalu ekspansif. John Mearsheimer, misalnya, menilai bahwa banyak intervensi militer AS justru menghasilkan ketidakstabilan, alih-alih keamanan. Dalam konteks Iran, pendekatan militer menghadapi tantangan serius. Iran bukan aktor yang terisolasi, melainkan memiliki jaringan politik dan militer yang luas di kawasan. Upaya menekan atau bahkan menggulingkan rezimnya berisiko memicu konflik berkepanjangan tanpa hasil yang jelas.

Ekonom Jeffrey Sachs menambahkan dimensi lain: biaya perang modern tidak hanya diukur dalam kerugian militer, tetapi juga dalam peluang ekonomi yang hilang. Dana besar yang dialokasikan untuk konflik seharusnya dapat digunakan untuk investasi produktif seperti pendidikan, infrastruktur, dan inovasi teknologi. Jika tren ini berlanjut, kekuatan Amerika justru terkikis dari dalam—bukan oleh serangan lawan, melainkan oleh beban yang diciptakannya sendiri.

Narasi Media dan Politik Perang

Sementara itu, jurnalis dan penulis Max Blumenthal berpendapat bahwa diskusi publik tentang konflik Timur Tengah, termasuk Iran, lebih mencerminkan kepentingan lobi Israel lewat narasi media ketimbang analisis strategis yang cermat. Tekanan politik, seperti file Eppstein, terkadang mendorong Washington menuju konfrontasi daripada diplomasi. Kebijakan luar negeri AS lebih sering ditentukan oleh politik domestik dan tekanan lobi terutama Zionis, yang ujungnya mempersulit kepentingan jangka panjang AS sendiri.

Perubahan tatanan global memperkuat tantangan tersebut. Dunia saat ini bergerak menuju konfigurasi multipolar dengan distribusi kekuatan ekonomi yang semakin tersebar. Asia menjadi pusat pertumbuhan baru, sementara rivalitas teknologi dan geopolitik kian intensif. Dalam konteks ini, konflik berkepanjangan dengan Iran dapat menjadi distraksi strategis. Alih-alih memperkuat posisi global, kebijakan tersebut justru berpotensi menghambat kemampuan AS untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan besar bertahan bukan hanya karena superioritas militer, tetapi juga karena ketahanan ekonomi dan stabilitas domestik. Tanpa pondasi tersebut, dominasi global sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, ancaman terbesar bagi Amerika Serikat mungkin bukan datang dari Iran atau kekuatan eksternal lainnya. Ancaman itu muncul ketika ambisi global melampaui kapasitas nasional. Apakah para pembuat kebijakan di Washington mau meninjau wawasan historis Kennedy? Nampaknya dorongan untuk itu belum ada. Tidak ada tanda-tanda AS, apalagi di bawah Trump, akan berhenti menggunakan kekuatan militer untuk hegemoninya. Bisa jadi agresinya bersama Israel terhadap Iran ini merupakan awal dari kejatuhan AS sebagai kekuatan besar, atau paling tidak, kemunduran dominasi globalnya. Walaupun kemungkinannya belum pasti, namun tanda-tandanya mulai terlihat.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *