Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Tiga Minggu Perang, Iran Merasa Menang

Iran Mengambil Inisiatif untuk Mengubah Kekuasaan di Timur Tengah

Setelah tiga minggu perang sengit melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Iran tampaknya berada dalam posisi yang lebih kuat. Negara ini kini memperlihatkan kepercayaan diri tinggi dalam menuntut penyelesaian konflik, dengan harapan bisa menjaga dominasi sumber daya energi di kawasan selama beberapa dekade ke depan.

Salah satu poin utama dari tuntutan Iran adalah permintaan ganti rugi besar-besaran kepada AS dan sekutunya. Selain itu, Teheran juga meminta agar pasukan militer AS ditarik dari kawasan tersebut. Poin penting lainnya adalah rencana untuk mengubah status Selat Hormuz, jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi minyak dunia.

Mohammad Mokhber, anggota Dewan Kebijaksanaan Iran sekaligus penasihat pemimpin tertinggi bidang ekonomi, menyatakan bahwa Iran ingin menjadikan Selat Hormuz sebagai “pos penagihan tarif tol”. Setiap kapal yang melintasi selat tersebut akan diminta membayar biaya kepada Iran.

“Iran akan mengubah posisinya dari negara yang dijatuhi sanksi menjadi kekuatan yang lebih besar di kawasan dan dunia,” ujar Mokhber kepada kantor berita Mehr. Ia juga menegaskan bahwa Iran akan menjatuhkan sanksi kepada kekuatan arogan yang haus dominasi tersebut.

Meskipun AS dan Israel mengklaim telah menghancurkan banyak peluncur dan stok rudal, Iran terbukti masih memiliki kemampuan untuk meluncurkan puluhan rudal balistik dan drone setiap hari ke berbagai penjuru Timur Tengah. Bahkan, intensitas serangan Iran dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan kerusakan parah pada instalasi energi di Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Sementara itu, ekspor minyak Iran justru tetap melonjak.

Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi Presiden AS Donald Trump untuk segera mengakhiri perang, terutama karena lonjakan harga minyak dan gas mulai membebani ekonomi global.

Dina Esfandiary, seorang pakar tentang Iran, menyebutkan bahwa Teheran merasa mendapatkan pelajaran penting. “Mereka bisa menyebabkan banyak kerusakan dan gangguan dengan cara yang relatif mudah dan murah. Sekarang, mereka ingin seluruh dunia mempelajari pelajaran itu juga,” ungkapnya.

Di sisi lain, AS dan Israel memberikan sinyal yang beragam. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perang akan berakhir jauh lebih cepat dari yang diperkirakan orang. Senada dengan itu, Trump menyebut konflik akan selesai dalam waktu dekat, meski di saat yang sama Pentagon mengirim ribuan personel tambahan Marinir ke Timur Tengah.

Jason Greenblatt, mantan utusan khusus Gedung Putih untuk Timur Tengah, menilai sikap Iran sebagai bentuk kesombongan yang berbahaya. Trump sendiri menegaskan melalui unggahan di Truth Social bahwa membuka kembali Selat Hormuz adalah manuver militer sederhana dengan risiko kecil. Namun, para ahli militer memperingatkan bahwa di era drone dan rudal antikapal, merebut kembali kendali selat tersebut tidaklah sesederhana itu, meski bukan hal yang mustahil.

Perspektif Analis tentang Ambisi Iran

Di sisi lain, analis meragukan keberlanjutan ambisi Iran. Sanam Vakil dari Chatham House menilai bahwa membiarkan Iran menguasai jalur strategis tersebut akan menjadi kegagalan kategoris bagi AS. Sementara itu, Robin Mills dari Qamar Energy menyebut kontrol Iran atas energi global tidak akan bisa diterima oleh negara-negara pelanggan besar seperti China, India, dan Jepang.

Pengamat dari Middle East Institute, Alex Vatanka, mengingatkan sejarah kaku Iran dalam berdiplomasi. Dia mencontohkan bagaimana Iran baru menyetujui gencatan senjata dengan Irak pada 1988, enam tahun setelah mereka berhasil membebaskan wilayahnya, yang mengakibatkan kehancuran dan korban jiwa yang jauh lebih besar. “Sisi Iran memiliki sejarah tidak mengambil peluang, baik di garis depan diplomasi maupun militer,” kata Vatanka.

Di tengah kecamuk perang, pengamat dari Sciences Po, Nicole Grajewski, mengingatkan bahwa konflik ini juga digunakan rezim untuk memperkuat posisi domestik.


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *