Kisah Viral Pedagang Cilok yang Mudik Jalan Kaki dari Bandung
Pedagang cilok asal Ciamis, Asep Kumala Seta, menjadi perbincangan setelah kisahnya viral. Ia melakukan perjalanan mudik dari Bandung ke Ciamis dengan berjalan kaki, menghadapi tantangan dan kesulitan ekonomi yang luar biasa.
Asep memilih jalan kaki karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli tiket bus di masa arus mudik Lebaran 2026. Ia bahkan sempat mencoba menumpang truk yang melintas di jalur yang ia lewati. Perjalanan ini menjadi satu-satunya opsi agar ia bisa tetap melanjutkan perjalanan pulang.
Selama dua tahun terakhir, Asep menggantungkan hidup dengan berjualan cilok di kawasan Cibaduyut, Kota Bandung. Ia menjajakan dagangannya dengan berkeliling dari gang ke gang, sekaligus tinggal di kontrakan milik juragannya. Namun, kondisi keuangan yang terbatas membuatnya kesulitan menyisihkan uang untuk biaya pulang kampung.
Di dalam tas yang dibawanya, hanya terdapat sekitar 50 butir cilok dan sebotol sirup sebagai bekal sederhana. Penghasilan yang ia dapatkan dari berjualan cilok pun tidak menentu. Setiap hari, ia harus menyetorkan Rp700.000 kepada juragan, dengan keuntungan sekitar Rp300.000 jika dagangan habis terjual. Namun belakangan, penjualannya kerap tidak mencapai target.
“Setoran biasanya tujuh ratus ribu, untungnya cuma tiga ratus. Tapi belakangan jarang habis. Kadang cuma dapat seratus ribu, disetor tujuh puluh ribu ke bos. Uang pulang jadi kurang,” ujar Asep saat ditemui di Pos Pam Cikaledong, Nagreg, Kabupaten Bandung, Selasa (17/3/2026) malam.
Perjalanan yang ia tempuh tidak selalu berjalan mulus. Ia sempat menumpang truk dari Rancaekek menuju Nagreg, namun kendaraan tersebut berbelok ke arah Kadungora. Ia pun harus turun di tengah jalan. Dari titik itu, Asep kembali berjalan menuju arah Limbangan dengan kondisi kaki yang mulai terasa lelah.
Ia mengaku sudah terbiasa berjalan jauh karena hobi mendaki gunung. Meski demikian, berjalan di jalan raya menghadirkan tantangan yang berbeda baginya. Rasa lelah yang ia rasakan tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental. Saat beristirahat di emperan toko atau teras masjid, ia juga kerap merasakan tatapan curiga dari orang sekitar.
“Kadang ada yang nanya, tapi malah disangka yang bukan-bukan,” katanya.
Keinginan untuk bertemu keluarga menjadi alasan utama yang membuatnya terus melangkah. Rindu kampung halaman mendorongnya bertahan di tengah perjalanan yang tidak mudah.
Sebelum merantau ke Bandung, Asep pernah bekerja sebagai nelayan di Indramayu. Ia terbiasa melaut menggunakan jaring dan perahu. Setelah kembali ke Ciamis, ia berencana kembali ke Indramayu untuk melanjutkan pekerjaan sebagai nelayan. Menurutnya, pekerjaan di laut memberikan kepastian yang tidak ia rasakan saat berjualan cilok.
Bantuan Modal Usaha dari Gubernur Jawa Barat
Beberapa waktu lalu, Asep viral setelah munculnya berita di media tentang dirinya yang mudik dari Bandung ke Ciamis dengan berjalan kaki. Dalam berita itu, Asep bercerita bahwa ia hanya berbekal cilok dagangannya sebagai modalnya mengisi perut selama dalam perjalanan.
Belakangan, diketahui wartawan yang bertemu dengan Asep membantunya untuk pulang ke Ciamis dari Nagreg menggunakan bus. Setelah kisahnya viral, Asep pun berkesempatan untuk berbicara dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melalui sambungan telepon.
Dedi Mulyadi memberikan uang Rp4 juta kepada Asep. Awalnya, Dedi Mulyadi memberikan Rp3 juta. Kemudian, ia bertanya tentang usaha cilok mandiri.
“Kalau jualan cilok tanggungan sendiri, modalnya berapa?” kata Dedi Mulyadi.
“Kalau sendiri, sekitar Rp2 juta, soalnya yang mahal rodanya,” jawab Asep.
Mendengar hal tersebut, Dedi Mulyadi pun meminta Asep memberikan Rp1 juta kepada ibunya untuk keperluan Lebaran. “Kedua, yang Rp2 juta belikan roda. Nanti, saya berikan lagi Rp1 juta lewat Haji Mumu untuk modal dagang Bapak,” tutur Dedi Mulyadi.
Kemudian, Dedi Mulyadi menanyakan kesanggupan Asep melaksanakan hal tersebut. “Bapak sanggup enggak melaksanakan itu?” tanya Dedi Mulyadi. “InsyaAllah, Pak,” jawab Asep.
Hal tersebut dipertanyakan Dedi Mulyadi karena Asep ternyata hobi naik gunung yang membuat keuangannya sebagian teralokasikan ke sana. “Oke naik gunung hobi Bapak, tetapi bisa enggak untuk sementara Bapak menyimpan uang dengan baik daripada menghabiskan uang untuk hobi?” tanya Dedi Mulyadi. “InsyaAllah, Pak” jawab Asep.
Kendati demikian, Dedi Mulyadi menginginkan jawaban tegas dari Asep. “Bapak sanggup enggak, diatur naik gunungnya, tetapi Bapak fokus dengan usaha Bapak. Kalau ada uang disimpan,” kata Dedi Mulyadi. “Sanggup,” timpal Asep sambil mengangguk.
Mendengar janji Asep, Dedi Mulyadi pun menambah modal usaha Asep berdagang cilok sebesar Rp1 juta. “Kalau bener, saya tambah Rp1 juta lagi,” kata Dedi Mulyadi.
Menurut Dedi Mulyadi, Asep sejatinya bisa mengumpulkan uang dari hasil berdagang sehari-hari. Sayangnya, kata Dedi Mulyadi, Asep lebih fokus dalam mengutamakan hobi naik gunung serta merokok.
Komitmen Asep untuk Fokus pada Usaha
Asep berjanji akan fokus mengelola modal untuk berdagang cilok dan lebih disiplin dalam mengatur keuangan serta hobi mendaki gunung. Ia berkomitmen untuk mengatur keuangan dengan baik dan memprioritaskan usaha dagangnya.
Asep mengklaim bahwa ia akan menyimpan uang dengan baik dan tidak menghabiskannya untuk hobi. “InsyaAllah, Pak,” jawab Asep saat ditanya oleh Dedi Mulyadi.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











