Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Perang AS-Iran Ancam Krisis Pangan, Pupuk Indonesia Jadi Incaran Negara-negara



JAKARTA — Pemerintah menyatakan bahwa sejumlah negara menunjukkan minat besar untuk membeli pupuk urea dari Indonesia, meskipun terjadi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Minat tersebut muncul karena beberapa negara ingin menjaga ketahanan pangan mereka, bahkan dengan harga yang tinggi.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan ini menjadi peluang bagi industri pupuk nasional, termasuk PT Pupuk Indonesia (Persero). Perusahaan ini sebelumnya sedang berupaya merevitalisasi pabrik-pabrik lama yang sebelumnya direncanakan dihentikan operasinya secara bertahap.

Sudaryono menjelaskan bahwa dalam situasi global yang tidak stabil, permintaan pupuk urea dari berbagai negara meningkat tajam. Menurutnya, banyak negara kini mencari pasokan dari Indonesia karena produksi urea nasional termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

“Gara-gara perang ini, hampir banyak negara itu menginginkan urea, jadi banyak negara itu kemudian ingin impor urea banyak dari tempat kita. Nah kita diminta untuk ekspor banyak urea ke banyak negara, banyak negara minta, at any cost, at any price dari urea, sehingga ini jadi opportunity,” ujar Sudaryono saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, situasi ini membuka ruang bagi Indonesia untuk kembali mengoptimalkan pabrik-pabrik lama yang sebelumnya direncanakan dihentikan operasinya. “Yang tadinya pabrik kita yang tua, yang tadinya istilahnya kita pelan-pelan, kita suntik mati, kita mau ganti sementara ini kita bisa produksi lagi karena biaya dan harga berapa pun banyak negara meminta. Ini satu kesempatan malah di tengah krisis ini, industri pupuk kita insyaallah ada geliatnya gitu,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah memastikan bahwa peningkatan ekspor tidak akan mengganggu kebutuhan pupuk dalam negeri. Prioritas utama tetap pada pemenuhan kebutuhan domestik.

Beberapa negara mulai menunjukkan minat terhadap pupuk urea dari Indonesia, salah satunya adalah Australia. Di sisi lain, Sudaryono menambahkan bahwa bahan baku untuk membuat pupuk juga terbilang aman. Hal ini lantaran pasokannya bukan hanya dari Selat Hormuz.

Sebelumnya, PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan bahwa ketersediaan bahan baku pupuk masih aman hingga tujuh bulan ke depan di tengah konflik di kawasan Selat Hormuz. Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira menjelaskan bahwa konflik di wilayah tersebut belum memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan.

“Perang di area Selat Hormuz tersebut itu secara signifikan tidak berdampak langsung kepada Pupuk Indonesia,” kata Yehezkiel dalam Pupuk Indonesia Media Iftar 2026 di Jakarta, dikutip pada Minggu (8/3/2026).

Dia menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia memproduksi dua jenis pupuk utama, yakni pupuk urea dan pupuk NPK. Untuk pupuk urea, bahan bakunya berasal dari gas bumi yang tersedia di dalam negeri, sehingga relatif aman dari dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, bahan baku untuk pupuk NPK seperti fosfat (P) dan kalium (K) masih diimpor. Namun, pasokan tersebut tidak berasal dari negara-negara yang berada di kawasan konflik saat ini. Saat ini, pasokan fosfat (P) diperoleh dari sejumlah negara di Afrika Utara, seperti Maroko, Tunisia, dan Aljazair. Sementara itu, pasokan kalium (K) diperoleh dari Kanada dan Laos yang berada di luar wilayah konflik Timur Tengah, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.

“Jadi secara operasional, alhamdulillah kita masih aman dan stok bahan baku kita masih tersedia sampai bahkan 6–7 bulan ke depan. Jadi kami bisa katakan masih aman,” ucapnya.

Namun, bahan baku pupuk lainnya yang berpotensi terdampak langsung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah adalah sulfur (S) yang berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Meski begitu, sumber pasokan sulfur (S) bagi Pupuk Indonesia juga tersedia dari negara lain, seperti Kanada, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diantisipasi.

Meski begitu, Pupuk Indonesia juga mewanti-wanti potensi kenaikan biaya logistik yang dapat terjadi akibat konflik geopolitik tersebut, terutama jika berdampak terhadap harga minyak dunia.

“Karena freight kita itu kan kaitannya juga berkorelasi positif seiring dengan potensi kenaikan biaya minyak dunia. Jadi mungkin salah satu hal yang menjadi perhatian bagi kami adalah terkait dengan biaya kenaikan freight,” pungkasnya.

Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *