Petani Muda Semarang Sukses dengan Hidroponik di Lahan Sempit
Di tengah keterbatasan lahan, petani muda di Kota Semarang menunjukkan inovasi yang luar biasa dalam mengembangkan pertanian modern. Salah satu contohnya adalah Ahmad Sidiq (31), yang berhasil membangun kebun hidroponik dengan omzet jutaan rupiah per bulan.
Ahmad adalah pemilik kebun hidroponik bernama Ahmad Farm, yang berlokasi di Jalan Pelamongansari V, Kelurahan Pelamongan Sari, Kecamatan Pedurungan. Di atas lahan seluas 10 x 30 meter, ia menanam sayuran hidroponik seperti sawi dan selada. Instalasi hidroponiknya tersusun rapi, dengan lubang-lubang tanam yang dipenuhi tanaman hijau segar.
Awal Mula Usaha Hidroponik
Awal mula usaha ini dimulai pada tahun 2020, ketika Ahmad terinspirasi oleh temannya yang memiliki kebun hidroponik saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia melihat bahwa teknologi ini memungkinkan penanaman tanpa harus menggunakan tanah, sehingga bisa dilakukan di ruang sempit.
“Pertama saya buat hanya 400 lubang. Saya jual, ada keuntungan, buat lagi 600 lubang. Terus tahun berikutnya tambah 600 lagi sampai sekarang di 2026 ada total sekitar 4.000 lubang tanam,” ujarnya.
Dari kebun tersebut, Ahmad memproduksi sayuran hidroponik dalam kemasan berat sekitar 300 hingga 400 gram per pack. Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 40 hingga 60 pack, dengan mayoritas adalah sawi. Sayuran ini dijual ke toko-toko retail di sekitar wilayah tempat tinggalnya serta pembeli yang datang langsung ke kebun.
Harga satu pack sayuran dijual sekitar Rp 4.000. Jika dihitung secara rata-rata, Ahmad bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp 240.000 per hari atau lebih dari Rp 6 juta per bulan. Angka ini bahkan melebihi Upah Minimum Kota (UMK) di sejumlah daerah, menjadikan usaha hidroponik sebagai sumber penghasilan utama bagi Ahmad.
Berbagai Pendapatan Tambahan
Selain dari penjualan sayuran, Ahmad juga mendapatkan tambahan penghasilan dari kegiatan lain yang berkaitan dengan hidroponik. Ia kerap diundang menjadi narasumber sosialisasi pertanian hidroponik oleh berbagai komunitas atau organisasi. Selain itu, ia juga melayani pembuatan instalasi hidroponik bagi masyarakat yang ingin memulai usaha serupa.
Kebun miliknya juga sering menjadi lokasi penelitian mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akademik terkait pertanian modern. Menurutnya, minat anak muda terhadap pertanian hidroponik di Kota Semarang mulai meningkat. Ia menyebut dari rekan-rekannya, setidaknya ada lima petani hidroponik yang tersebar di berbagai wilayah.
Keberlanjutan dan Kolaborasi
Menurut Ahmad, semangat saling membantu menjadi salah satu kunci keberhasilan petani hidroponik di Kota Semarang. Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, petani muda ini justru mampu membangun jaringan kerja sama agar pasokan sayuran tetap terjaga.
Salah satu contohnya adalah Arif Aditya Nur Pratama (30), yang memiliki kebun hidroponik di kawasan jalan Lamper Tengah, Kecamatan Semarang Selatan. Arif mengaku memanfaatkan berbagai sudut rumah, mulai dari teras depan, halaman belakang, hingga rooftop, untuk menanam selada secara hidroponik.
“100 meter persegi di rumah sendiri ya, jadi, terpisah-pisah lahannya. Ada yang di teras depan, halaman belakang, terus di rooftop juga ada. Jadi, terpisah-pisah tiga tempat itu yang lahan sendiri,” jelasnya.
Dari kebun tersebut, Arif bisa memanen sekitar 300 kilogram selada per bulan dengan omzet rata-rata Rp7,5 juta hanya dari kebun miliknya sendiri. Keunggulan hidroponik di perkotaan adalah kesegaran sayurannya yang bisa sampai ke pelanggan hanya dalam waktu tiga jam setelah panen.
Rencana Perluasan dan Pemasok Restoran
Melihat peluang yang masih terbuka, Ahmad mengaku berencana memperluas kebun hidroponiknya. Jika lahan yang dimilikinya sudah penuh, ia mempertimbangkan untuk menyewa lahan di sekitar lokasi kebun.
Sementara itu, Arif juga mengaku bahwa usaha hidroponik ini menjadi penghasilan utamanya. Ia memulai usaha ini secara tidak sengaja pada 2019, ketika menemukan instalasi hidroponik yang belum dirakit di rumah kakeknya. Setelah mencoba merakit dan menanam berbagai sayuran, ia memutuskan untuk fokus menekuni hidroponik setelah batal kembali bekerja ke Jepang karena pandemi Covid-19.
“Pastinya tiap petani punya pengalamannya sendiri-sendiri, ada masalahnya sendiri-sendiri. Cuma kalau bisa jangan patah semangat,” imbuhnya.











