Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Ali Larijani: Trump Harus Bayar Nyawa Khamenei

Peran Ali Larijani dalam Menyikapi Serangan AS-Israel

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa Teheran tidak akan membiarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, lolos dari tanggung jawab atas serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Ia menyebut Trump kini terjebak dalam “kebuntuan strategis” akibat kesalahan perhitungan internasional yang fatal.

Serangan AS-Israel kepada Iran pada Sabtu (28/2/2026) telah menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan lebih dari ribuan warga negara itu. Larijani menegaskan bahwa kejahatan Trump tidak akan dijawab dengan diam. Ia juga menyerukan bahwa Iran tidak akan menyerah hingga perlawanan dicapai dan para agresor dihukum.

“Kami tak akan membiarkan Trump pergi, ia harus membayarnya,” kata Larijani dikutip dari CNN, Minggu (8/3/2026). Ia juga menegaskan bahwa serangan ke Iran adalah kesalahan perhitungan internasional presiden AS tersebut. Menurutnya, Trump berpikir ia bisa mengulangi model yang dilakukannya di Venezuela kepada Iran. Tetapi, Larijani menegaskan bahwa Trump kini terjebak dalam kebuntuan strategis.

“AS sekarang terjebak dalam kesalahan perhitungannya sendiri,” ucap Larijani. Ali Larijani sendiri pada postingan di media sosial X, mengatakan bahwa sejumlah tentara AS telah ditangkap. Namun, oleh pihak AS, para tentara tersebut diklaim telah terbunuh saat beraksi. “Meski upaya mereka sia-sia, kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat mereka sembunyikan terlalu lama,” tulisnya.

Penolakan Mojtaba Khamenei sebagai Calon Pemimpin Tertinggi Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menolak Mojtaba Khamenei sebagai calon Pemimpin Tertinggi Iran setelah tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS-Israel. Trump menegaskan bahwa Washington harus memiliki hak suara dalam menentukan pemimpin baru di Teheran guna memastikan terciptanya perdamaian dan menghindari konflik berkepanjangan di masa depan.

Hal itu diungkapkan Trump setelah serangan AS-Israel ke Iran, Sabtu (28/2/2026), yang membunuh Khamenei. Khamenei terbunuh usai serangan AS-Israel menyasar kediaman dan kantornya di Teheran. Iran hingga saat ini belum memutuskan siapa yang akan menjadi pengganti Khamenei. Namun, putra Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei, disebut sebagai calon kuat pemimpin tertinggi Iran berikutnya. Trump kemudian tidak setuju jika Mojtaba menjadi pemimpin Iran berikutnya.

“Mereka hanya buang-buang waktu. Putra Khamenei itu orang yang tak berpengaruh,” kata Trump, Kamis (5/3/2026) kepada Axios. “Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti halnya dengan Delcy (Rodrigues) di Venezuela,” ucapnya. Trump juga menambahkan bahwa ia menolak pemimpin baru Iran yang akan melanjutkan kebijakan Khamenei, yang disebutnya akan memaksa AS kembali berperang dalam lima tahun.

“Putra Khamenei tak bisa saya terima. Kami menginginkan seseorang yang membawa harmoni dan kedamaian di Iran,” kata Trump. Komentar Trump merupakan klaim berlebihan atas kekuasaan Amerika terhadap masa depan politik Iran. Juga semakin mengaburkan tujuan-tujuan yang sebelumnya ia gemborkan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan pejabat AS lainnya telah menepis tujuan operasi di Iran adalah untuk perubahan rezim. Fokusnya adalah melemahkan kemampuan rudal, program nuklir, dan Angkatan Laut Iran.

Profil Singkat Donald Trump

Donald Trump kembali mencetak sejarah sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47 yang dilantik pada 20 Januari 2025, setelah sebelumnya menjabat pada periode 2017–2021. Lahir di Queens, New York, 14 Juni 1946, dengan nama lengkap Donald John Trump, ia tumbuh dari keluarga pengembang properti dan sejak muda dikenal ambisius serta kompetitif. Mengambil alih bisnis ayahnya pada 1971 dan membesarkannya menjadi Trump Organization, Trump membangun kerajaan properti yang mencakup hotel, kasino, hingga lapangan golf.

Namanya makin mendunia lewat buku The Art of the Deal dan acara realitas The Celebrity Apprentice. Terjun ke politik sebagai kandidat Partai Republik, Trump menang mengejutkan atas Hillary Clinton pada Pilpres 2016. Kepemimpinannya identik dengan kebijakan kontroversial: reformasi pajak besar-besaran, pengetatan imigrasi, perang tarif dagang, hingga renegosiasi NAFTA menjadi USMCA. Ia juga dikenal sebagai presiden pertama AS tanpa latar belakang militer maupun jabatan publik sebelumnya, serta aktif menggunakan media sosial X (dulu Twitter) sebagai corong politiknya.

Figur yang keras, penuh kontroversi, namun memiliki basis pendukung fanatik, Trump tetap menjadi salah satu tokoh politik paling berpengaruh dan polarisatif dalam sejarah modern Amerika.

Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *