Dampak Perang AS-Israel terhadap Iran di Wilayah Timur Tengah
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran telah berdampak luas terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah. Setelah Iran melakukan aksi balasan dengan menargetkan pangkalan militer AS di beberapa wilayah, ketegangan antara pihak-pihak yang terlibat semakin meningkat. Hal ini memicu kekhawatiran akan perluasan konflik yang bisa mengancam stabilitas regional.
Rusia juga turut mengomentari situasi ini, menyatakan bahwa AS dan Israel berupaya untuk menyeret negara-negara Arab ke dalam konflik terhadap Iran. Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia, tindakan AS dan Israel sengaja memprovokasi Iran agar menyerang target di wilayah Arab, yang berujung pada kerugian jiwa dan material. Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa tindakan seperti itu dilakukan demi kepentingan pihak lain, dan Rusia sangat menyayangkan hal tersebut.
Rusia menilai bahwa cara terbaik untuk mencegah perang semakin melebar adalah dengan menghentikan agresi dari pihak AS dan Israel. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda bahwa kedua belah pihak akan menghentikan serangan mereka. Situasi ini menunjukkan bahwa potensi konflik bisa berlangsung lebih lama lagi.
Latar Belakang Perang AS-Israel vs Iran
Sebagai informasi, AS dan Israel mulai menyerang Iran pada 28 Februari 2026 setelah tidak adanya kesepakatan jelas dalam perundingan nuklir putaran ketiga di Jenewa, Swiss, pada 26 Februari 2026. AS dan Israel menuding Iran mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya. Namun, Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai.
Tahun lalu, AS secara berkala mengancam akan mengambil “opsi militer” jika Iran tidak memenuhi tuntutan dalam perundingan. Pada 22 Juni 2025, AS menyerang fasilitas nuklir Iran untuk membantu Israel dalam serangan selama 12 hari terhadap negara tersebut. Meski hubungan semakin memanas setelah serangan tersebut, AS dan Iran kembali duduk di meja perundingan.
Oman, sebagai mediator, menyebut ada “kemajuan signifikan” dalam pembicaraan di Jenewa. Namun, kedua pihak gagal menyepakati poin-poin penting, sehingga belum tercapai kesepakatan final. Pembahasan lanjutan direncanakan. Harapan tercapainya kesepakatan pupus setelah AS dan Israel kembali menyerang Iran pada 28 Februari lalu, yang membuat Iran memutuskan mundur dari proses perundingan.
Perkembangan Terkini Perang AS-Israel VS Iran
Menurut laporan Al Jazeera, jumlah korban tewas akibat serangan gabungan AS dan Israel di Iran mencapai 1.045 orang dalam lima hari pertama perang. Lebih dari 6.000 orang lainnya terluka. Pemerintah Iran juga menuduh serangan tersebut menyasar 33 lokasi sipil, termasuk rumah sakit, sekolah, kawasan permukiman, Pasar Besar Teheran, serta kompleks bersejarah Istana Golestan.
Di tengah situasi tersebut, nama Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, mulai disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk memegang posisi kepemimpinan tertinggi negara. Ia disebut memiliki pengaruh besar di dalam pemerintahan serta hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Serangan Laut dan Ancaman di Selat Hormuz
Sebuah kapal selam AS dilaporkan menembakkan torpedo dan menenggelamkan fregat Iran IRIS Dena di Samudra Hindia, di lepas pantai selatan Sri Lanka. Angkatan Laut Sri Lanka menyatakan telah menemukan 87 jenazah dari kapal tersebut dan menyelamatkan 32 orang.
Sementara itu, kelompok bersenjata Kurdi-Iran dilaporkan mulai melancarkan serangan darat di wilayah barat laut Iran. Di Irak utara, pasukan Kurdi dalam status siaga setelah pejabat AS meminta bantuan mereka untuk kemungkinan operasi militer lintas perbatasan. Di sisi lain, IRGC mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan minyak dunia. Ancaman Iran terhadap kapal-kapal yang melintas membuat aktivitas pelayaran di wilayah tersebut hampir berhenti.
Ketegangan Meluas ke Negara Teluk
Iran melancarkan serangan balasan yang mengganggu aliran minyak regional di Timur Tengah. Arab Saudi mengecam serangan drone Iran yang menargetkan Kedutaan Besar AS di Riyadh. Di Qatar, pemerintah mengevakuasi warga yang tinggal di sekitar Kedutaan Besar AS di Doha sebagai langkah pencegahan. Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, juga menghubungi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai dan menyerukan penghentian segera perang.
Selain itu, sebuah ledakan dilaporkan terjadi di dekat kapal tanker di perairan Kuwait, sekitar 56 kilometer dari wilayah Mubarak al-Kabeer.
Israel Tingkatkan Serangan
Militer Israel mengumumkan gelombang baru serangan terhadap infrastruktur militer Iran di Teheran. Pejabat Barat menyatakan bahwa serangan gabungan AS dan Israel telah berhasil menghancurkan sebagian besar kemampuan militer Iran. Dengan supremasi udara yang diperoleh, jet tempur kedua negara kini disebut dapat terbang relatif bebas di atas wilayah Iran.
Meski demikian, Israel mulai sedikit melonggarkan aturan keselamatan masa perang di dalam negeri.











