Perusahaan Petrokimia Indonesia Mengalami Gangguan Akibat Konflik di Selat Hormuz
PT Chandra Asri Pacific Tbk, produsen petrokimia terbesar di Indonesia, mengumumkan pemberlakuan kondisi force majeure akibat gangguan pengiriman bahan baku melalui Selat Hormuz. Kondisi ini terjadi setelah pecahnya perang antara Iran dan negara-negara lain yang memengaruhi arus perdagangan global.
Perusahaan memberi tahu pelanggan mengenai gangguan tersebut melalui pemberitahuan tertanggal 2 Maret 2026. Dalam pemberitahuan itu disebutkan bahwa durasi keadaan force majeure masih belum dapat dipastikan. Perusahaan menyatakan bahwa mereka terus memantau perkembangan situasi antara Amerika Serikat dan Iran serta telah menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk menjaga ketahanan operasional di seluruh unit bisnis.
“Sebagai bagian dari langkah tersebut, kami akan menyesuaikan tingkat operasi (run rates) di pabrik-pabrik kami,” demikian pernyataan perusahaan. Pernyataan ini mencerminkan upaya perusahaan untuk tetap menjaga kelangsungan operasional meskipun menghadapi tantangan besar.
Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah mengganggu arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Hanya sedikit kapal tanker yang melintasi jalur tersebut sejak terjadinya serangan di kawasan tersebut. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur perairan sempit ini, sehingga membuat situasi semakin kritis.
Chandra Asri mengoperasikan kompleks petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia yang memproduksi olefin dan poliolefin. Perusahaan juga memiliki dan mengelola aset pengilangan serta kimia hilir di Singapura melalui skema joint venture. Aset tersebut mencakup kilang dengan kapasitas 237 ribu barel per hari serta naphtha cracker berkapasitas 0,9 juta metrik ton per tahun.
Pada perdagangan saham Rabu (4/3/2026), saham Chandra Asri sempat anjlok ke level 5.350 atau turun sebesar 8,15 persen. Hal ini menunjukkan dampak signifikan dari gangguan operasional terhadap nilai pasar perusahaan.
Sementara itu, sejumlah perusahaan India pada Selasa (3/3/2026) mengurangi pasokan gas alam ke sektor industri sebagai antisipasi terhadap potensi pengetatan pasokan dari Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah produsen utama Qatar menghentikan produksi. Empat sumber industri mengungkapkan informasi ini, meskipun tidak menyebutkan nama secara resmi.
Qatar menghentikan produksi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pada Senin, ketika Iran terus melancarkan serangan ke negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan Israel dan Amerika Serikat terhadapnya. Serangan tersebut juga menghentikan pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz, sehingga mendorong kenaikan harga energi global dan biaya pengiriman.
India, pembeli LNG terbesar keempat di dunia, sangat bergantung pada impor dari Timur Tengah. Importir LNG terbesar India, Petronet LNG Ltd, telah memberi tahu GAIL (India), perusahaan pemasaran gas terbesar di negara itu, serta sejumlah perusahaan lainnya mengenai penurunan pasokan.

Logo perusahaan minyak milik negara QatarEnergy, di Doha, Qatar, 26 Februari 2026 (diterbitkan 2 Maret 2026). QatarEnergy telah menghentikan produksi gas alam cair (LNG) dan produk terkait karena serangan militer baru-baru ini terhadap fasilitasnya di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed. – (EPA/HANNIBAL HANSCHKE)
Negara Asia Selatan tersebut merupakan klien LNG terbesar bagi Abu Dhabi National Oil Company dan pembeli LNG terbesar kedua dari Qatar. GAIL dan Indian Oil Corp (IOC) telah menginformasikan kepada pelanggan mengenai pemangkasan pasokan gas pada Senin malam, kata salah satu sumber.
Besaran pemangkasan pasokan berkisar antara 10 persen hingga 30 persen, menurut dua sumber. Pemangkasan ditetapkan pada batas pengambilan minimum guna melindungi pemasok dari potensi penalti berdasarkan ketentuan kontrak dengan pelanggan, ujar sumber tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, GAIL, Petronet, dan IOC belum memberikan tanggapan resmi. Para sumber menolak disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara kepada media.
Untuk menutup kekurangan pasokan LNG, sejumlah perusahaan termasuk IOC, GAIL, dan Petronet LNG berencana menerbitkan tender pembelian di pasar spot. Namun, harga spot, ongkos pengiriman, dan biaya asuransi saat ini melonjak tajam.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











