Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Hasil RDP, Simon Minta Perbaikan Prosedur Pengaduan Keluhan MBG

DPRD Tarakan Minta BGN Publikasikan Prosedur Pengaduan Keluhan Orang Tua Siswa

Pihak DPRD Tarakan menyoroti pentingnya adanya prosedur pengaduan resmi yang dapat digunakan oleh orang tua siswa dalam menyampaikan keluhan mereka. Hal ini dilakukan agar keluhan tidak hanya ramai di media sosial, tetapi juga tersampaikan melalui jalur yang tepat dan terstruktur.

Proses Pengaduan yang Harus Diketahui Orang Tua

Orang tua siswa diarahkan untuk melaporkan keluhan langsung ke pihak sekolah melalui Person in Charge (PIC) terkait. PIC bertugas sebagai perantara antara orang tua dengan pihak sekolah, khususnya dalam masalah kualitas makanan, bungkusan, maupun kesesuaian harga.

Keluhan yang diterima oleh PIC akan segera diteruskan ke dapur SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi) untuk dievaluasi dan diperbaiki. Dengan demikian, setiap keluhan bisa segera ditangani secara efektif dan cepat.

Perlu Adanya Penyampaian Prosedur Pengaduan yang Jelas

Dalam pertemuan Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD Tarakan yang dipimpin oleh Ketua Komisi II DPRD Tarakan, Simon Patino, salah satu isu utama yang dibahas adalah perbaikan prosedur pengaduan keluhan MBG (Makanan Berbasis Gizi). Menurut Simon Patino, selama ini informasi keluhan dari orang tua disampaikan melalui media sosial. Namun, ia menilai bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki, termasuk kejelasan prosedur pengaduan.

“Nah, pertemuan ini kita bagaimana orang tua itu bila melaporkan ada prosedur. Nah prosedur itu dari BGN itu sudah ada. Tapi belum atau tidak terpublish,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Simon menjelaskan bahwa prosedur pengaduan ini harus disampaikan kepada orang tua agar mereka tahu cara yang benar dalam menyampaikan keluhan-keluhan tentang MBG. Salah satunya, orang tua harus berbicara langsung ke sekolah melalui PIC. Nanti PIC akan menyampaikan keluhan tersebut ke dapur SPPG untuk segera ditindaklanjuti.

Masalah Keterbatasan Pasokan Bahan

Menanggapi isu penyampaian pihak mitra BGN, terkait perlu adanya pelibatan pemerintah untuk membantu menyiapkan kebutuhan pasokan. SPPG melaporkan adanya keterbatasan dalam mendapatkan pasokan, termasuk pendukung seperti mika atau wadah yang lebih baik dibandingkan menggunakan plastik. Stok plastik yang tersedia terbatas, sehingga memengaruhi kualitas bungkusan.

“Itu yang perlu dicatat. Tapi dengan informasi keterbatasan tadi, tidak berpengaruh sama kualitas makanan. Artinya kalau keterbatasan makanan berarti variasi saja yang kurang. Nah mereka minta DPRD untuk memfasilitasi berkoordinasi sama DKUKMP,” terang Simon Patino.

Tujuan dari langkah ini adalah mencari solusi mengatasi kekurangan-kekurangan bahan yang mereka alami. Misalnya, fasilitas kualitas makanan seperti bungkusan mika atau vakum makanan. Saat ini, bahan tersebut tidak tersedia di Tarakan, sehingga mereka menggunakan kantong plastik kiloan. Namun, semua ini dilakukan bukan disengaja karena kondisi yang ada.

Masih Ada Masalah yang Perlu Diselesaikan

Persoalan ini belum selesai. Masih diperlukan keterlibatan pemerintah untuk memfasilitasi kebutuhan pangannya. Seperti diketahui, akson yang mewakili SPPG Juata Kerikil menyampaikan bahwa penggunaan kemasan plastik gula atau plastik kiloan adalah keterpaksaan dikarenakan plastik vakum tidak tersedia di Tarakan.

“Mengenai penyajian bahan plastik. Kami juga mohon bapak idewan panggil dinas terkait untuk bantu fasilitasi sediakan bahan MBG. Ketika diambil beberapa dapur, maka dapur yang lain tidak kebagian. Makanya mereka tidak dapat plastik vakum, makanya kasih plastik kiloan dan itu kemarin sudah disetujui kepala SPPG,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa saat ini, persoalan yang dihadapi SPPG adalah kendala kekurangan bahan pangan. Ia juga menegaskan bahwa jika ada UMKM, kelompok tani, dan nelayan yang direkomendasikan, maka bisa diupayakan kerja sama.

“Justru sekarang petani, kami juga berusaha kerja sama dengan para petani dan nelayan. Karena kan menu-menu yang akan disajikan itu kan sesuai standar ya. Seperti nelayan kan banding tanpa duri, ikan-ikan yang disukai anak-anak lah, ya kan. Sesuai dengan harga yang ditentukan,” ungkapnya.

Keterbatasan Buah di Tarakan

Untuk buah, menjadi catatan khusus karena buah masih terbatas ditanam di Tarakan dan andalkan dari luar.

“Kita kan buah di sekitar terbatas. Jadi kalau pun ada yang komplain tentang buah pisang, pisang terus, ya karena nemang itu yang ada. Kita kasih anggur, enggak ada. Kita kasih yang lain-lain juga enggak ada. Apel, enggak ada. Dan mahal, tidak sesuai dengan harga,” tukasnya.


Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *