Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Daerah  

Kondisi Terbaru Rumah Lansia Viral Cirebon, Atap Baja Ringan Tak Lagi Takut ‘Prak-Pruk’

Kondisi Terbaru Rumah Sri Puspitasari di Cirebon

Kondisi terbaru rumah Sri Puspitasari (67) di Kelurahan Pekalipan, Kota Cirebon, kini jauh lebih aman. Rangka atap baja ringan (galvalum) sudah terpasang menggantikan kayu-kayu lapuk yang sebelumnya kerap menimbulkan bunyi ‘prak-pruk’ setiap malam. Proses renovasi masih berlangsung saat jajaran Polres Cirebon Kota melakukan peninjauan.

Pantauan di lokasi, Selasa (3/3/2026), proses renovasi masih berlangsung saat jajaran Polres Cirebon Kota melakukan peninjauan. Di bagian dalam rumah, plafon dengan rangka baja ringan terlihat kokoh terpasang meski material bangunan masih tersusun di sudut ruangan. Sementara di bagian depan, pekerja tampak merapikan dinding fasad.

Sri yang hadir di tengah kunjungan tersebut tampak haru melihat rumahnya dibenahi. “Senang dan gembira!” ujarnya, saat ditanya perasaannya melihat para pekerja masuk dan memperbaiki rumahnya, Selasa (3/3/2026). Ia menyebut perubahan yang terjadi sebagai anugerah. “Ya ini kan karunia dari… kalau Islam dari Allah, kalau Ibu dari Tuhan ya. Anugerah dari Tuhan ya,” ucapnya.

Sri mengaku, sebelum diperbaiki, ia hidup dalam kecemasan setiap malam. “Uh, cemas! Tidur, bangun lagi. Tidur, bangun lagi,” jelas dia. Kini rasa takut itu perlahan hilang, meski untuk sementara ia belum bisa menempati rumahnya. “Sekarang sih enggak, tenang. Tapi sekarang belum tidur di sini, lagi tidur di kos-kosan,” katanya.

Ia menambahkan, pembongkaran total bagian atap membuatnya diminta tinggal sementara demi keselamatan. “Ya itu lagi dibangun. Suruh tidur di kos-kosan barangkali kejatuhan, itu dibongkar semua ya,” ujarnya. Di sela kunjungan, Sri berkali-kali mengungkapkan rasa syukurnya. “Bersyukur, bersyukur, bersyukur!” ucap Sri. Ia pun menyampaikan doa untuk jajaran kepolisian yang membantunya. “Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak Polisi. Bapak Polisi selalu disayang Allah, diperhatikan Allah, didampingi Allah, dilindungi Allah. Saya senang kalau ada yang nolong tuh. Saya senang kalau siapa saja yang nolong, sudahlah selalu disayang Allah. Semoga semakin sukses,” jelas dia, penuh haru.

Momen hangat juga terjadi saat Sri mengenang rumah lamanya, termasuk kisah kucing peninggalan orang tuanya. “Dari orang tua itu kucing itu, dari orang tua. Malah kucing itu nyuri pindang banten dua,” katanya, sambil tersenyum.

Prioritas Rehabilitasi

Kapolres Cirebon Kota, Eko Iskandar sebelumnya menyampaikan bahwa rumah Sri menjadi prioritas rehabilitasi karena kondisinya yang mendesak. “Rumah Ibu Sri menjadi prioritas dalam program rehabilitasi karena kondisinya memang memerlukan penanganan segera setelah menjadi perhatian publik,” ujarnya. Ia menargetkan pengerjaan rampung dalam waktu dekat. “Pengerjaan telah dimulai dan kami targetkan selesai pada 4 Maret 2026,” katanya.

Sementara itu, Kasi Humas Polres Cirebon Kota, M. Aris Hermanto menegaskan, bahwa rehabilitasi tersebut merupakan tindak lanjut dari informasi yang berkembang di masyarakat. “Rehabilitasi rumah Ibu Sri adalah tindak lanjut dari informasi yang berkembang dan menjadi bukti bahwa setiap laporan maupun kondisi yang viral akan kami tindaklanjuti secara profesional melalui verifikasi dan langkah nyata,” ujarnya.

Kondisi Sebelum Direnovasi

Sebelumnya, rumah Sri yang berada di Gang Pulo Kaca RT 02 RW 08 Nomor 41 sempat viral di media sosial karena disebut nyaris ambruk. Bangunan lama peninggalan orang tuanya yang terakhir direnovasi pada 1974 itu mengalami kerusakan parah. Atap runtuh sebagian, kayu penyangga lapuk, plafon hancur dan menggantung. Saat hujan turun, Sri terpaksa memasang terpal untuk menahan air agar tidak langsung menetes ke tempat tidur.

“Tahun ’74. Tahun 1974 (direnovasi),” ujar Sri saat ditemui sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir, kondisi rumah semakin memburuk. “Ya itu, lapuk kayu-kayunya itu, sudah lapuk. Hancur, iya. Benar-benar saya enggak mengerti harus bagaimana,” katanya. Setiap malam ia dihantui ketakutan. “Takut. Kalau tidur ada bunyi ‘prak-pruk’ gitu tuh, besoknya lihat genting jatuh,” ucapnya.

Kini, perlahan rasa takut itu mulai tergantikan oleh harapan. Rumah yang dulu rapuh dan penuh kecemasan, sedikit demi sedikit berdiri lebih kokoh dan Sri pun tak lagi takut dengan bunyi “prak-pruk” di tengah malam.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *