Analisis Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Dampaknya terhadap Iran
Seorang dosen Hubungan Internasional (HI) di Universitas Padjadjaran (Unpad) yang juga merupakan pengamat kajian Timur Tengah, Dina Yulianti Sulaeman, memberikan analisis politik mengenai situasi terkini pasca-kematian Ayatollah Ali Khamenei. Dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu (1/3/2026), ia menyampaikan pandangan tentang bagaimana masyarakat Iran akan merespons kehilangan pemimpin tertinggi mereka.
Menurut Dina, Iran tidak akan menghentikan serangan balasan terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel meskipun sang pemimpin tertinggi gugur dalam serangan udara. Ia menilai bahwa kehilangan ini justru akan memperkuat semangat perlawanan masyarakat Iran.
Tradisi Duka Cita di Iran
Masyarakat Iran memiliki tradisi duka cita yang berbeda dibandingkan negara-negara lain. Mereka biasanya mengadakan majelis duka cita, yang di dalamnya dibacakan syair-syair duka, kemudian mereka menangis bersama dan membagikan makanan untuk orang-orang yang datang ke acara tersebut.
Dina menjelaskan bahwa majelis duka cita untuk meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei akan dilakukan dengan skala luas di seantero Iran. Bahkan, dalam program Breaking News di kanal YouTube Official iNews, ia memprediksi bahwa acara ini akan diadakan secara massal di berbagai kota dan desa.
Perbedaan Budaya dalam Menanggapi Duka
Duka cita atas meninggalnya Ayatollah Ali Khamenei tidak akan menghentikan Iran untuk melakukan serangan balasan terhadap AS-Israel. Justru, masyarakat Iran akan meningkatkan serangan balasannya. Dina menekankan bahwa budaya Iran dalam menanggapi duka cinta adalah berbeda dari kebanyakan masyarakat lain.
Bagi masyarakat Iran, dukacita bukanlah akhir dari segalanya. Mereka sadar bahwa pemimpin mereka gugur di jalan Tuhan, sehingga hal ini justru memupuk rasa nasionalisme mereka. Duka cita yang mereka lakukan berbasis ideologi perlawanan, dan justru membuat semangat nasionalismenya semakin menyala-nyala.
Harapan AS yang Tidak Terwujud
Amerika Serikat sebelumnya berharap bahwa dengan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah petinggi militer dan tokoh senior Iran lainnya, masyarakat Iran akan semakin ciut nyalinya, sehingga rezim dapat digulingkan dari dalam. Namun, harapan ini tidak terwujud.
Berdasarkan jejak sejarah Iran, setiap kali pemimpin mereka dibunuh atau terjadi ancaman eksternal, masyarakat Iran justru bangkit dan semakin bersatu. Hal ini menunjukkan bahwa semangat nasionalisme mereka sangat kuat, bahkan bisa menjadi pemicu untuk meningkatkan perlawanan.
Pernyataan IRGC tentang Serangan Balasan
Pernyataan terbaru dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Korps Garda Revolusi Iran menunjukkan bahwa mereka akan meningkatkan serangan ke AS dan Israel sebagai pembalasan atas kematian Ayatollah Ali Khamenei. IRGC juga menyerukan semua rakyat untuk bersatu dan membantu pembalasan tersebut.
Menurut informasi yang dikutip dari artikel Middle East Eye, IRGC telah mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran.” Operasi ini akan dimulai “dalam beberapa saat” dan akan menargetkan “area pendudukan dan pangkalan teroris Amerika” di wilayah tersebut.











