Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Kapal Tanker di Selat Hormuz Diserang Drone, 4 Orang Tewas

Serangan Drone di Selat Hormuz: Ancaman Terhadap Pasokan Energi Global

Sebuah kapal tanker minyak mengalami serangan drone di dekat Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi distribusi energi global. Insiden ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran dan potensi gangguan pasokan minyak dunia.

Kapal tanker yang diserang adalah Skylight, sebuah kapal berbendera Palau yang diketahui memiliki 20 kru, terdiri dari 15 warga negara India dan lima warga negara Iran. Dalam serangan tersebut, empat orang korban luka-luka, sementara kondisi para kru lainnya masih dalam pemeriksaan lebih lanjut. Kapal tersebut terlihat berlabuh di Provinsi Musandam sejak 22 Februari 2026.

Selat Hormuz, yang berukuran sempit dengan panjang 33 kilometer, menjadi jalur penting yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Lalu lintas kapal di selat ini telah menurun tajam setelah serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Menurut data dari platform pelacakan kapal MarineTraffic, lalu lintas kapal melalui selat tersebut turun hingga 70 persen pada Sabtu (28/2/2026) malam.

Insiden ini terjadi setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk navigasi internasional. IRGC mengirimkan pesan transmisi VHF kepada kapal-kapal yang melintas, memberitahukan bahwa tidak ada kapal yang diperbolehkan melewati selat tersebut. Namun, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi tentang penutupan total jalur tersebut.

Pengaruh terhadap Pasokan Minyak Dunia

Menurut analis risiko dan kepatuhan senior di Kpler, Dimitris Ampatzidis, Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar paling rentan terhadap dampak penutupan Selat Hormuz. Sebagian besar ekspor minyak mentah dan gas alam cair mereka melalui laut melewati Hormuz. Beberapa pedagang senior menilai ancaman Iran sebagai hal yang kredibel dan sudah menghentikan seluruh pengiriman mereka melalui selat tersebut.

Perusahaan pelayaran juga menangguhkan pengiriman dan mengalihkan rute kapal tanker di tengah kekhawatiran akan keselamatan pelayaran. Misalnya, perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd menangguhkan seluruh transit kapalnya melalui selat tersebut. Meski begitu, sebagian lalu lintas kapal masih terus berlanjut, dengan beberapa kapal mungkin mematikan AIS (Automatic Identification System) untuk menghindari deteksi.

Potensi Lonjakan Harga Minyak

Dengan menurunnya lalu lintas di Selat Hormuz, harga minyak diperkirakan akan naik dalam beberapa hari ke depan jika konflik meningkat dan gangguan berlanjut. Sekitar 30 persen minyak dan produk petroleum dunia yang diperdagangkan dari negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, dan Iran melewati selat tersebut setiap hari.

Meskipun Iran kemungkinan tidak akan menutup jalur itu sepenuhnya, penurunan kecil dalam volume pengiriman dapat memengaruhi pasar minyak yang sudah bergejolak serta perdagangan minyak mentah Iran sendiri. Saat ini, Iran mengekspor sekitar 1,65 juta barel minyak mentah dan kondensat gas per hari, menurut Kpler.

Penutupan Selat Hormuz dalam jangka panjang akan sulit dipertahankan dan berpotensi menyebabkan kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok, serta tekanan ekonomi yang lebih luas di kawasan. Iran juga tercatat tidak pernah secara resmi menutup Selat Hormuz, meskipun telah berulang kali mengeluarkan peringatan sejak 1979.

Fasilitas di Pelabuhan Duqm Jadi Sasaran

Fasilitas di Pelabuhan Duqm, Oman, juga menjadi sasaran dua drone, meskipun Oman sempat berperan sebagai mediator dalam ketegangan tersebut pada pekan lalu. Belum dapat dipastikan pihak yang menyerang kapal tersebut, namun insiden ini terjadi di tengah gelombang pembalasan yang lebih luas di kawasan Teluk setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.

Musandam memiliki signifikansi strategis karena semenanjung tersebut berbagi kendali atas Selat Hormuz dengan Iran, sebuah titik penting global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Tindakan Perusahaan Pelayaran

Layanan pelacakan kapal Tankertrackers.com menggambarkan Skylight sebagai kapal tanker kecil yang terutama digunakan untuk mengisi bahan bakar kapal lain. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada perusahaan dan kapal tersebut pada Desember 2025, dengan tuduhan mengoperasikan “armada bayangan” untuk mengangkut produk minyak bumi Iran di Teluk Persia.



Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *