Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Daerah  

Kades Jonokalora Khawatir Kekonflik Warga Akibat Perebutan Air di Parimo

Kepala Desa Jonokalora Minta Pemerintah Intervensi Pengelolaan Air Irigasi

Kepala Desa Jonokalora, Dunar B. Lapake, meminta pemerintah kabupaten Parigi Moutong untuk segera mengambil tindakan terkait pengelolaan air irigasi di wilayah Kecamatan Parigi Barat. Hal ini dilakukan karena kondisi krisis air yang semakin mengkhawatirkan, dan berpotensi memicu konflik antar desa akibat perebutan pasokan air yang semakin langka.

Kemarau panjang telah menyebabkan debit sungai di Parigi Barat menurun secara drastis. Menurut Dunar, masalah ini tidak hanya memengaruhi kebutuhan rumah tangga warga, tetapi juga menciptakan ketegangan antar desa, terutama di wilayah yang memiliki areal persawahan. Ia menjelaskan bahwa penurunan debit air membuat pembagian air irigasi menjadi sangat sensitif, karena kebutuhan setiap desa meningkat sementara pasokan semakin terbatas.

“Pembagian air ini sering jadi masalah, apalagi desa-desa yang punya sawah. Kalau tidak diatur dengan baik, bisa memicu keributan antar desa,” ujar Dunar saat dijumpai di kantor desa belum lama ini.

Dampak Kekeringan Terlihat Jelas di Lapangan

Pantauan di Desa Jonokalora menunjukkan dampak kekeringan yang nyata. Alur sungai kecil yang biasa mengaliri air ke desa tampak mengering dan hanya menyisakan bebatuan serta pasir di dasar sungai. Di beberapa titik, anak sungai yang biasanya menjadi salah satu sumber air warga terlihat nyaris tanpa aliran, menandakan pasokan air sudah lama terputus akibat kemarau.

Selain itu, warga juga tampak menyiapkan jerigen dan drum plastik di depan rumah maupun di pinggir jalan desa untuk menampung air bersih. Jerigen-jerigen tersebut menjadi pemandangan sehari-hari di Jonokalora, sebagai upaya warga bertahan di tengah keterbatasan air.

Sistem Pengaturan Pintu Air Tidak Lagi Berjalan

Dunar menjelaskan, persoalan pembagian air semakin rumit karena saat ini pintu air tidak dijaga oleh petugas khusus. Akibatnya, pengaturan buka-tutup pintu air dilakukan langsung oleh masyarakat, tanpa jadwal yang jelas dan tanpa pengawasan resmi. Kondisi ini rawan memicu kesalahpahaman dan konflik, terutama saat musim tanam ketika kebutuhan air untuk sawah meningkat.

Sebelumnya, pengelolaan pintu air sempat diatur oleh petugas, bahkan telah dibangun rumah jaga di sekitar lokasi. Namun saat ini, sistem pengaturan tersebut tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Selain itu, hingga kini belum pernah ada musyawarah di tingkat kecamatan yang mempertemukan seluruh desa terdampak untuk membahas pembagian air secara bersama-sama.

Harapan Warga dan Kepala Desa

Dunar menilai, pertemuan lintas desa sangat penting agar setiap pihak memahami kondisi dan kebutuhan masing-masing, sekaligus mencari solusi yang adil. Ia berharap pemerintah daerah dapat mengambil peran aktif, baik melalui pengaturan teknis pembagian air irigasi maupun penunjukan petugas khusus di lapangan. Menurutnya, kehadiran pemerintah akan membantu meredam potensi konflik dan memastikan distribusi air berjalan lebih tertib.

Di sisi lain, warga Jonokalora juga masih menghadapi krisis air bersih untuk kebutuhan sehari-hari akibat sumber air yang mengering. Untuk memenuhi kebutuhan air, sebagian warga terpaksa mengambil air dari desa tetangga yang masih memiliki sumur bor. Air tersebut diangkut menggunakan jerigen, baik dengan sepeda motor maupun mobil desa, lalu dibagikan kepada warga.

Meski bantuan air bersih dari pemerintah telah masuk, Dunar menegaskan bahwa solusi jangka panjang tetap dibutuhkan. Ia berharap pengelolaan air irigasi dan sumber air di Parigi Barat dapat dibenahi secara menyeluruh agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Diduga Air Teralihkan ke Wilayah Lain

Terkait aliran air sungai mengering, Dunar menduga air teralihkan ke wilayah lain dan tidak lagi mengalir ke Jonokalora. Padahal, sejak tahun 2025 sudah ada perbaikan jaringan irigasi agar aliran air kembali masuk ke desa melalui alur yang bermuara ke Jonokalora dan membentuk aliran seperti anak sungai kecil.

Perbaikan hanya pada bagian saluran yang rusak sepanjang kurang lebih 500 meter dan hingga kini masih dalam proses pengerjaan. Karena kebutuhan air masyarakat sudah sangat mendesak, pemerintah desa bersama warga bergotong royong secara swadaya untuk mempercepat pekerjaan galian saluran air tersebut. Namun sayangnya belum membuahkan hasil yang maksimal karena air banyak terserap ke tanah, mengingat saluran tersebut sudah lama tidak dialiri air.

Ia berharap pada sistem irigasi yang dikerjakan dari Desa Perigimpuu itu untuk melayani beberapa desa, termasuk Jonokalora. Akibat krisis air bersih ini, warga Desa Jonokalora terpaksa mengambil air dari desa tetangga yang masih memiliki sumber air dan sumur bor. Warga, mengangkut air menggunakan jeriken dan galon, baik dipikul secara manual maupun menggunakan sepeda motor dan mobil desa.

Bantuan air bersih dari BPBD Parigi Moutong rutin disalurkan kepada warga. Bantuan air itulah yang menjadi harapan 1.329 jiwa di desa tersebut untuk mengisi dahaga dan wadah air di rumah-rumah.

PDAM Tak Menentu

Dunar mengungkapkan, persoalan kekeringan mulai semakin terasa sejak saluran pengairan ke Desa Jonokalora rusak pada tahun 2023. Meski desa masih dilayani PDAM, aliran air tidak menentu dan sering kali hanya mengalir pada tengah malam hingga dini hari. Kondisi itu memaksa warga untuk berjaga dan menyiapkan penampungan air saat aliran PDAM kembali hidup.

Selain kebutuhan rumah tangga, ketersediaan air untuk ternak juga menjadi keluhan utama warga. Menurut Dunar, kebutuhan air untuk ternak jauh lebih besar, sementara untuk kebutuhan manusia saja sudah sangat terbatas. Pada musim kemarau tahun-tahun sebelumnya, warga masih bisa memanfaatkan beberapa mata air di sejumlah titik desa. Namun pada kemarau panjang tahun ini, mata air tersebut benar-benar mengering dan tidak lagi dapat dimanfaatkan.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *