JAKARTA — Di tengah ketidakstabilan pasar saham akibat keputusan MSCI dan komitmen otoritas bursa untuk membersihkan praktik saham gorengan, investor tampak melakukan rotasi terhadap saham emiten dengan fundamental yang kuat.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 4,88% atau 406,88 poin ke posisi 7.922,73 pada Senin (2/2/2026). IHSG bergerak dalam rentang 7.820,23 hingga 8.313,06.
Dalam sepekan terakhir, IHSG mengalami penurunan sebesar 11,73% akibat sentimen negatif dari keputusan MSCI menerapkan interim freeze atau pembekuan saham-saham Indonesia dari rebalancing sebagai hasil dari konsultasi terkait dengan free float dan keterbukaan data investor saham Indonesia.
MSCI juga memberikan ultimatum bahwa akan menurunkan status pasar Indonesia dari emerging market ke frontier market jika belum ada kejelasan terkait aturan yang sesuai dengan ketentuan penyedia indeks global tersebut.
Ditelusuri lebih dalam, semua indeks mengalami penurunan di zona merah pada perdagangan Senin (2/2/2026). Penurunan terkecil secara harian dibukukan oleh indeks sektor kesehatan yang melemah 1,28%, indeks consumer non-cyclicals turun 1,73%, dan indeks sektor keuangan terkoreksi 2,33% pada awal pekan ini.
Di sektor kesehatan, saham PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) memimpin penguatan dengan lonjakan harga 24,79% ke posisi Rp2.240 per saham. Selain itu, saham PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) terapresiasi 2,17% ke level Rp2.820, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) menguat 2,94% ke posisi Rp2.450, dan PT Merck Tbk. (MERK) naik tipis 1,59% ke level Rp3.200 per saham.
Beberapa saham sektor consumer non-cyclicals juga terpantau mendarat di zona hijau pada Senin (2/2/2026). Di sektor itu, saham emiten Grup Salim, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menguat 3,31% ke level Rp7.025 dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) naik 5,35% ke posisi Rp8.375 per saham.
Pada saat yang sama, saham PT Cisarua Mountain Dairy Tbk. (CMRY) menguat 5,39% ke level Rp5.375, PT Aman Agrindo Tbk. (GULA) melejit 6,7% ke level Rp446, PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) menguat 2,17% ke level Rp2.360, dan saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) terapresiasi 5,46% ke posisi Rp2.030 per saham.
Sementara itu, rebound saham big banks menopang laju indeks saham sektor finansial. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 2,7% ke level Rp7.600, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) naik tipis 0,53% ke posisi Rp3.830, dan saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 0,22% ke level Rp4.500. Kontras, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) masih terkoreksi 0,42% ke posisi Rp4.800 dan saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) stagnan.
Pergerakan harga saham-saham tersebut seolah menjadi sinyal pergerakan animo investor ke saham-saham defensif dengan fundamental solid. Dorongan agar investor melakukan rotasi saham dengan mempertimbangkan faktor fundamental salah satunya disampaikan oleh Chief Investment Officer BPI Danantara Pandu Sjahrir.
“Saham-saham yang fundamental itu malah mengalami net buy dan positif [pada sesi I],” kata Pandu ketika ditemui awak media di BEI, Senin (2/2/2026).
BEI mencatat, investor asing membukukan beli bersih atau net buy senilai Rp654,83 miliar pada Senin (2/2/2026). Kondisi itu berbalik dari net sell jumbo hampir Rp14 triliun sepanjang pekan lalu.
Pandu menekankan pentingnya berinvestasi dengan mendasarkan keputusan pada alasan fundamental. Dengan begitu, Pandu menilai penting bagi investor untuk berinvestasi secara jangka menengah hingga panjang.
“Jadi saya sih melihatnya sesuatu yang tidak perlu dikhawatirkan. Kita harus lihat balik ke fundamental, ke valuasi. Kita harus melihat saham-saham jangan hanya short term. Investasi itu harus memikirkan medium to long term,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyarankan agar investor pasar modal pindah ke saham-saham blue chip apabila khawatir dengan saham-saham gorengan.
“Ini jelas shock sementara, karena fundamental kita enggak masalah. Kalau yang jatuh bursa saham-saham gorengan kan saya sudah ingatkan dari dulu bersihkan bursa dari saham goregan. Tetapi yang besar-besar kan masih ada, saham-saham yang blue chip,” terangnya.
Friderica Widyasari Dewi, Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berjanji bakal mempercepat proses reformasi pasar modal. Salah satu rencana aksi yang akan dijalankan, yaitu pemberantasan saham gorengan. Dia berjanji bahwa OJK akan memperkuat pengawasan dan penegakan hukum dengan segera memulai penyelidikan goreng menggoreng saham atau memanipulasi pasar.
OJK juga akan mendorong penegakan hukum yang memberikan efek jera, serta penguatan pengawasan market conduct, termasuk kepada para influencer.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) segera mengadopsi teknologi artificial intelligence alias akal imitasi (AI) ke dalam sistem pengawasan pasar modal.
Luhut menilai penggunaan teknologi itu krusial untuk mendeteksi anomali harga dan pola transaksi yang mencurigakan atau ‘saham gorengan’ secara lebih cepat, akurat, dan proaktif, guna mencegah terulangnya insiden yang memicu peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat memperkuat pengawasan, meningkatkan kualitas penegakan aturan, serta memperkecil ruang bagi praktik-praktik yang tidak fair,” ujar Luhut dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











