Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Taman Safari Indonesia Kembangkan 100 Spesies Langka di PCBA Jatim

Jochen, seorang kurator satwa di Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA), tampak sangat fokus saat mengamati berbagai satwa yang sedang dalam proses pengembangbiakkan. Pada Selasa pagi, 16 Desember 2025, ia melakukan kunjungan rutin ke area PCBA yang terletak di Taman Safari 2 Prigen, Jawa Timur. Dari kandang ke kandang, dari kolam ke sangkar, Jochen secara intensif memperhatikan kondisi dan perilaku satwa. Ia bahkan sesekali berbicara dengan satwa tersebut, seakan-akan sudah akrab dengannya.

Selain itu, Jochen juga memberikan makanan buah-buahan dan dedaunan segar kepada satwa-satwa tersebut. Makanan yang diberikan memiliki kualitas Grade A, mirip dengan makanan yang dikonsumsi manusia. Penanganan khusus ini dilakukan karena banyak satwa yang ada di PCBA termasuk dalam kategori terancam punah atau tidak bisa dirawat oleh lembaga konservasi lainnya. Oleh karena itu, Taman Safari Indonesia tidak menampilkan satwa tersebut kepada pengunjung umum, karena alasan konservasi dan kebutuhan khusus satwa.

Salah satu contohnya adalah Monyet Darre, yang dikenal agresif dan berbahaya bagi pengunjung. Satwa ini ditempatkan di kandang sepanjang lebih dari 100 meter dan lebar lebih dari lima meter. Di dalam kandang tersebut terdapat lima jantan, tiga betina, dan satu ekor anak yang lahir di PCBA. Sementara itu, Sempidan Merah, jenis ayam hutan yang hidup di hutan dataran rendah subtropis dan tropis, ditempatkan di sangkarnya yang dibuat layaknya pekarangan rumah, lengkap dengan ilalang dan pohon-pohon yang tumbuh alami.

Kandang Babi Kutil, salah satu kandang terluas di PCBA, dibuat berlumpur dengan gundukan tanah dan batu agar satwa dapat merasa nyaman dan mendinginkan diri. Untuk memudahkan pemantauan dan pemberian makan, PCBA juga membangun tangga setinggi 50 cm dari luar kandang.

“PCBA ini tidak terbuka untuk pengunjung umum. Itu sebabnya infrastruktur kami di sini tidak sesuai kebutuhan atau permintaan pengunjung umum. Fasilitasnya memang sesuai kebutuhan satwa. Itu kelihatannya tidak terawat, tapi sebenarnya itu by design. Karena kami di sini kerja sesuai kebutuhan satwa,” ujar Jochen kepada Tim.

PCBA memiliki luas lahan seluas lima hektar. Saat Tim berkunjung ke sana, terlihat banyak rumput dan pohon yang tumbuh di dalam kandang, bahkan ada juga pucuk merah yang menjulang tinggi di depan kandang. Dari pos pemantau yang berada dekat sekretariat PCBA, terlihat hamparan rumput dan pohon-pohon rindang. Berbeda dengan area edukasi dan rekreasi yang ada di Taman Safari Indonesia yang sudah didesain secara komersial untuk pengunjung.

Menurut Jochen, fasilitas tersebut dibangun untuk tumbuh kembang satwa. Sebagai ex situ, PCBA ingin satwa hidup seakan-akan berada di habitat aslinya. Jika fasilitas dibangun secara komersial, satwa-satwa ini belum tentu nyaman dan menyebabkan stres. Oleh karenanya, satwa ini tidak akan ditemukan ketika berkunjung ke area Taman Safari Indonesia Group lainnya.

PCBA total memiliki 100 jenis satwa dalam rangka pengembangbiakkan yang terdiri dari ikan, invertebrata, mamalia, dan burung. Jumlah ikan cukup mendominasi dari pada satwa lainnya dengan total 40 jenis ikan, salah satunya Ikan Pelangi yang hidup di sungai air tawar Sulawesi dan Papua. Untuk fasilitasnya, PCBA memiliki 300 aviarium, 70 kandang mamalia, dan 300 akuarium.

Satwa-satwa yang terancam punah ini tidak semata-mata didapat dari hasil rescue. Ada juga satwa yang diberikan oleh lembaga konservasi lain karena ketidaksanggupan dalam infrastruktur, biaya, atau SDM. Sebagai LK yang berfokus pada konservasi, PCBA dan Taman Safari Indonesia pun menerima satwa tersebut.

Taman Safari Prigen, melalui PCBA, menerima satwa-satwa hampir punah tersebut sebagai rangka konservasi dan penyelamatan satwa untuk keseimbangan ekosistem. Salah satu contoh adalah Kekah Natuna, primata pemakan daun yang disita oleh BKSDA Riau dari hasil perawatan ilegal milik masyarakat. Kekah Natuna sendiri adalah primata endemik dari pulau Natuna di Kepulauan Riau.

Selain itu, PCBA juga mengonversi dan membreeding Monyet Darre yang luka karena jerat buatan manusia. Secara display, tentu satwa ini tidak layak ditampilkan ke pengunjung karena cenderung agresif. Padahal, Monyet Darre juga dianggap hama dan enggan dikembangbiakkan. Namun, keagresifan itu disebabkan oleh hilangnya ekologi di Sulawesi.

Menurut Jochen, satwa yang bernama latin Macaca Maura ini masih punya nilai konservasi. Untuk itu, PCBA mau membreeding Monyet Darre. “Tapi dari sisi konservasi, nilainya tidak berkurang. Genetiknya tetap Monyet Darre. Tidak ada kekurangan. Itu sebabnya, di PCBA ini, individu (Monyet Darre) seperti itu sama aja. Meskipun bertangan satu, genetiknya sama. Tapi tetap bisa reproduksi. Anak-anak (Monyet Darre) ini tidak cacat, dia lengkap,” sambung pria asal Jerman tersebut.

Salah satu keberhasilan konservasi PCBA adalah melepasliarkan 40 Jalak Suren pada tahun 2022 lalu. Namun, karena dimangsa satwa atau hewan liar lain, angka hidup Jalak Suren di alam liar juga ikut menurun. Total Jalak Suren yang hidup lebih 50 ekor dengan tambahan kelahiran 10 ekor pada tahun 2024 lalu.

“Sekarang ini ada lebih dari 60 ekor. Lebih dari 60 individu di Taman Safari Prigen dan sekitarnya. Tapi tetap jenisnya terancam punah kritis dan punah di alam,” tutur Jochen.

PCBA juga punya satwa endemik lainnya dalam PCBA seperti Sempidan Sumatera, Sempidan Kalimantan, Pleci Jawa, Beo Tenggara, Ayam Modern Game Bantam (MGB), Ayam Moa, berbagai jenis ikan pelangi rawa gambut, dan Murai Maratua.

Khusus Murai Maratua, PCBA juga siap melepas burung yang berasal dari Pulau Maratua, Kalimantan Timur itu, ke alam liar. Total sudah ada 95 Murai Maratua di PCBA. Jika angkanya sudah melebihi 100 ekor, PCBA berencana melepasnya ke alam.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *