JAKARTA,
Di tengah rintik hujan, belasan warga berjejer di pinggir sawah di Marunda, Jakarta Utara. Berkumpulnya warga di pinggir sawah bukan tanpa sebab. Mereka sedang memancing ikan di area persawahan yang terendam banjir.
Cuaca ekstrem belakangan ini membuat sawah petani di Marunda dan Rorotan Jakarta Utara, terendam banjir dengan ketinggian yang bervariasi, mulai dari 10 hingga 15 sentimeter (cm). Di tengah musibah banjir yang membuat petani rugi, ikan-ikan memenuhi area sawah dan saluran irigrasi di sampingnya yang menjadi keberkahan untuk warga sekitar.
Salah satu warga bernama Tetty (49) mengatakan, sudah dari dulu persawahan samping rumahnya itu sering terendam banjir setiap kali hujan terus menerus. Di setiap banjir itu pula, belasan hingga puluhan warga dari berbagai daerah langsung mencari spot masing-masing untuk memancing ikan yang ada di sawah samping rumahnya.
“Kalau lagi banjir begini memang pada mancing, kalau kering mah enggak ada. Itu ada ikan betok, mujair,” kata dia saat diwawancarai di lokasi, Rabu (21/1/2026). Meski air yang menggenang di sawah tidak terlalu tinggi, warga tetap optimis bisa mendapatkan ikan yang banyak untuk dibawa pulang. Di pinggir sawah, mereka menghabiskan waktu berjam-jam sambil mengisap rokok dan menyeruput kopi hitam yang dibeli di warung untuk menunggu kail pancingnya dipatok ikan.
Rintik hujan yang perlahan membasahi pakaian pun tak menjadi penghalang untuk warga terus melakukan aktivitas memancingnya di sawah. Beberapa dari mereka ada yang memilih memancing seorang diri, sambil melamun dan melihat sawah yang ada di depannya. Namun, sebagian datang secara berkelompok, mereka terlihat asik mengobrol sambil memancing di pinggir sawah secara gratis.
Banyak ikan saat banjir
Salah satu pemancing bernama Abdul Malik (60) mengatakan, ikan di sawah dan saluran irigrasi semakin banyak ketika banjir merendam persawahan petani. “Iya, kalau air lagi banjir karena hujan, semakin banyak ikan, karena itu dari sawah juga,” kata dia di lokasi, Rabu. Ada banyak jenis ikan yang biasa didapatkan warga ketika memancing di sawah yang kebanjiran, mulai dari cere, mujair, bawal, lele, dan lain sebagainya.
Abdul mengaku, bisa menghabiskan waktu seharian dari pagi hingga sore hari untuk memancing di sawah. Kegiatan memancing ini dilakukan ketika pekerjaannya sebagai kuli bangunan sedang sepi. Jadi, ia memilih untuk mencari ikan secara gratis untuk makan keluarganya di rumah. Berbeda dengan pemancing lain yang menggunakan kail, Abdul justru menggunakan anco untuk mencari ikan di sawah yang banjir. Anco adalah jaring ikan yang dibentuk kotak dan atasnya dilengkapi bambu, serta tali untuk ditarik. Dengan alat ini, Abdul tak lagi menggunakan umpan untuk mendapatkan ikan.
Jaring itu tinggal direndam di sawah yang banjir atau saluran irigrasi, kemudian didiamkan beberapa menit dan baru ditarik menggunakan tali. Biasanya, dalam satu kali percobaan, Abdul bisa mendapatkan lebih dari satu ikan. Meski tak menggunakan umpan, untuk membuat anco modal yang harus dikeluarkan Abdul tentu saja tidak sedikit. “Ada habis Rp 500.000-600.000 buat beli jaring dan bambunya. Ini enggak pakai umpan, dicelup diangkat,” kata dia. Kendati begitu, Abdul tetap merasa senang karena bisa lebih cepat mendapatkan ikan dalam jumlah banyak, dibandingkan menggunakan pancingan.
Hobi semata
Pemancing lain bernama Bowo (47) mengaku selalu menghabiskan waktu libur bekerjanya untuk memancing di sawah yang ada di Rorotan dan Marunda. “Saya enggak setiap hari, cuma hari libur aja. Saya kerja soalnya di pergudangan,” tutur Bowo di lokasi, Rabu. Bagi Bowo, memancing di sawah lebih membuatnya nyaman dibandingkan empang, karena harus bayar dan durasinya dibatasi. Sementara di sawah, warga Marunda tersebut bisa mancing sampai puas, tanpa harus membayar sepeser pun.
Di sisi lain, memancing di sawah juga bisa membuat pikirannya tenang, karena bisa melihat banyak pemandangan. Seperti tanaman hijau, orang berlalu lalang, dan lain sebagainya. Bowo sebenarnya iba dengan para petani jika sawahnya terus terendam banjir seperti belakangan ini. Namun, persoalan banjir di sawah Marunda dan Rorotan memang sudah menjadi hal yang sering terjadi sejak dulu. Oleh karena itu, setiap kali banjir, warga langsung berbondong-bondong memancing ikan di sekitar area sawah yang ada di Marunda dan Rorotan. “Dari dulu udah sering banjir begini, sebenarnya kasihan ama petani, tapi kita cuma manfaatin momen aja, kan sayang ikannya banyak kalau enggak dipancing,” jelas dia.
Petani tak keberatan
Salah satu petani bernama Kastama (47) mengatakan, sawahnya memang menjadi langganan banjir setiap kali musim hujan. Banjir yang disebabkan karena cuaca ekstrem ini memang berpotensi membuat sawah para petani di Marunda dan Rorotan gagal panen, serta mengalami kerugian tak sedikit. Namun, para petani tidak bisa menyalahkan alam, dan hanya dapat berusaha menyelamatkan padinya dengan memanen secara manual dengan menggunakan terpal yang dibentuk perahu agar tidak busuk imbas terendam air banjir.
Di tengah musibah banjir yang dialami, Kastama juga tak pernah melarang warga yang ingin mencari berkah dengan memancing ikan di sawahnya. Sebab, setiap kali banjir, Sawah Kastama dipenuhi ikan betok, mujair, dan lain sebagainya yang bisa dimanfaatkan warga. Selama ini, kegiatan menancing yang dilakukan warga juga dinilai tak mendatangkan dampak buruk untuk pertumbuhan padi yang ditanam para petani. “Kalau dibilang menganggu sih enggak menganggu dan enggak merusak padi juga sih selama ini,” tutur Kastama.
Sumber ekonomi baru
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada (UGM) Bayu Dwi Apri Nugroho memandang, musibah banjir yang merendam sawah para petani di Marunda dan Rorotan bisa mendatangkan dampak negatif dan positif. Jika dilihat dari sisi pertanian, musibah banjir ini tentu saja akan merugikan para petani. Sebab, padi yang terendam banjir cenderung lebih mudah busuk dan tidak layak untuk dipanen. Bayu mengatakan, meski sebagian masih bisa dipanen, padi yang sudah terendam banjir tentu saja kualitasnya menurun. “Tetunya merusak kualitas, karena tanaman padi walaupun butuh air tetapi tidak boleh sampai tergenang banjir, tentunya akan menyebabkan gagal tanam atau tanaman padi akan mati saat ditanam,” tutur Bayu saat dihubungi , Kamis (22/1/2026).
Namun, di sisi lain, banjir juga menjadi hal positif karena mendatangkan banyak ikan yang bisa menjadi keberkahan untuk warga sekitar. “Tetapi kalau kemudian kita lihat sebagai sumber ekonomi baru, artinya kita bisa memanfaatkan ikan-ikan tersebut, akan menguntungkan masyarakat di Rorotan,” sambung dia.
Sistem mina padi
Bayu mengatakan, sebenarnya pertanian mina yang mengintegrasikan budidaya padi dan ikan air tawar dalam satu lahan sawah sudah dilakukan di beberapa daerah Indonesia. Ikan yang ditaruh di sawah dapat memakan hama dan gulma. Sementara kotorannya yang jatuh ke tanah bisa menjadi pupuk alami yang membuat padi semakin subur. Namun, mina padi ini tidak bisa dilakukan di kawasan Marunda atau Rorotan yang selama ini menjadi langganan banjir. “Tetapi ini di lahan sawah yang tidak boleh kebanjiran dan membutuhkan treatment khusus,” jelas Bayu. Selain perawatannya yang tak boleh sembarangan, mina padi juga harus dilakukan di lahan sawah yang benar-benar luas dan biaya pun tak sedikit.
Pertanda baik
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok menilai, keberadaan ikan di sekitar sawah merupakan pertanda baik. Sebab, ikan-ikan liar tersebut bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk dijadikan sebagai sumber pangan. “Adanya ikan di sawah saat banjir adalah pertanda baik sebagai sumber pangan tambahan ikan bisa dipanen atau ditangkap,” ucap Hasudungan ketika dihubungi , Kamis. Di sisi lain, keberadaan ikan juga menunjukan bahwa ekosistem di sekitar sawah sehat alias tidak tercemar limbah. Sebab, jika tercemar limbah, maka ikan tidak akan bisa hidup atau berkembang biak di lokasi tersebut.
Meski mendatangkan ikan yang banyak, banjir yang merendam sawah juga menjadi ancaman untuk para petani. Jika air hujan terus tergenang dalam waktu lama, kata Hasudungan, maka para petani akan mengalami gagal panen yang tak sedikit.
Upaya mengatasi banjir
Oleh karena itu, untuk mencegah agar petani tak gagal panen karena kebanjiran, Dinas KPKP terus memberikan pendampingan secara teknis. “Dinas KPKP memberikan pendampingan teknis kepada para petani melalui pengaturan pola tanam dan pengolahan lahan serta pengairan yang baik, dan dilakukan sesuai dengan musim yang sedang berlangsung,” ucap dia. Lalu, Dinas KPKP juga bekerjasama dengan pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk mengetahui ramalan cuaca yang terjadi sepanjang tahun berjalan. Dengan ramalan cuaca itu, bisa diketahui kapan waktu yang tepat untuk memanen padi agar terhindar dari banjir. Kemudian, Dinas KPKP juga akan mendorong petani menggunakan varietas padi unggul yang tahan dengan cuaca ekstrim, sehingga jika terendam banjir tidak mudah mati.











