Longsoran di Kali Bodri, Kendal Mengancam Kehidupan Warga
Muhammad Sodri terperangah melihat longsoran semakin meluas saat meninjau tanggul Kali Bodri di Dukuh Kersan, Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal, Minggu (25/1/2026). Titik longsor berada di belakang rumah milik Yasir, yang kini tidak lagi tinggal di sana. Hampir tidak ada lagi tempat berpijak. Tanah menggerus sebagian halaman belakang rumah berlantai dua yang kini terlihat menggantung dengan ketinggian sekira 5 meter dari permukaan Sungai Kali Bodri.
Longsoran juga membuat rerumpunan bambu ikut hanyut dan tersangkut di antara material longsoran. Sodri menyebut, pemilik rumah telah lama meninggalkan rumah itu sejak 2-3 bulan silam. “Sudah kosong rumahnya, orangnya sudah pindah,” timpal ketua RT itu. Dia mengatakan, tanggul itu longsor sejak pertengahan Januari 2026, kala hujan deras turun merata di Kendal hampir tanpa jeda.
Area longsor kemudian bertambah, hampir menyentuh halaman samping rumah Yasir. “Ini pasti longsoran baru, kemarin waktu tak cek belum nambah. Itu bisa dilihat material tanah yang longsor masih baru,” paparnya. Dia bercerita, lokasi tanggul itu awalnya berjarak hampir 30 meter dari perumahan yang membuat warga mantap mendirikan rumah di dekat tanggul. Tahun demi tahun, Sodri mengamati adanya pergeseran tanggul yang perlahan semakin mengikis pekarangan di belakang rumah warga.
“Dulu jaraknya jauh dari rumah ke tanggul. Makanya warga berani bangun rumah di sini.” “Di sini juga lebih tinggi kondisi permukiman lebih tinggi dari tanggul, jadi warga merasa aman,” ungkapnya. Dia menuturkan, pihaknya telah melaporkan longsoran itu ke Pemkab Kendal. Dia berharap segera ada perbaikan. “Ini sudah ada bronjong batu pondasi di bawah, tapi ketutup longsor. Ini juga sudah dicek dari PUPR,” sambungnya.
Retakan Tanah Menunjukkan Bahaya
Saat hendak meninggalkan lokasi, seorang pegawai kecamatan tiba-tiba memberikan informasi titik longsor tambahan, tepatnya di Dukuh Pangempon, Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon. Lokasinya berada di sebelah selatan Dukuh Kersan, tak jauh dari titik longsor di Dukuh Kersan dengan ketinggian sekira 5 meter. Di lokasi itu, terlihat longsor hampir menyentuh bagian belakang rumah milik Prasetiyanto. Bahkan ada pula retakan-retakan tanah dampak longsoran tanggul yang merembet ke rumah.
“Ini mulai muncul retakan tanah karena longsoran tanggul itu,” kata Prasetiyanto sembari menunjukkan titik retakan. Dia sebenarnya berniat untuk memindahkan bangunan rumahnya menjauh dari titik longsoran. Namun penghasilan dari jasa tukang pangkas rambut yang ia tekuni, membuat Prasetiyanto hanya sanggup menggeser bagian belakang rumah. “Ini mau tak majukan tapi karena keterbatasan biaya akhirnya yang belakang ini yang tak geser,” sambungnya.
Senasib dengan Yasir, rumah milik Prasetiyanto praktis hanya berjarak sekira 2 meter dari titik longsor. Dirinya pun pernah melaporkan kejadian itu kepada Pemkab Kendal sejak setahun lalu. Namun, hingga kini dirinya belum melihat tanda-tanda perbaikan tanggul segera dilakukan. “Longsor awal saat tahun lalu bareng tanggul Kali Bodri di Patebon yang jebol itu. Kami lewat perangkat desa sudah laporkan tapi belum ditindaklanjuti,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dia menyebut jika aliran Kali Bodri di tahun-tahun lalu masih jauh dari permukiman yang kini ia tempati. Sehingga rasa kekhawatiran akan longsor maupun banjir ia tepis. “Ibaratnya itu sungai yang ngejar kami. Kalau sejak awal dekat tanggul, saya tidak berani bangun rumah di sini,” paparnya. Dia berharap penanganan bisa segera dilakukan, mengingat kondisi longsoran tanggul yang semakin kritis. “Januari hingga Maret biasanya pas lagi deras-derasnya hujan. Kami minta tolong, semoga di sini juga segera diperbaiki,” imbuhnya.
Penanganan Tanggul oleh Pemprov Jateng
Terpisah, Kepala DPUPR Kabupaten Kendal, Sudaryanto mengatakan, penanganan tanggul Kali Bodri merupakan kewenangan Pemprov Jateng. Pihaknya juga sudah melaporkan titik-titik tanggul yang kritis itu ke Pemprov Jateng agar segera ditindaklanjuti. “Itu kewenangan Provinsi sebenarnya. Kami juga sudah melaporkan ke Dinas PUPR Provinsi,” ujarnya. Dia menambahkan, pihaknya saat ini juga masih fokus untuk penanganan sementara titik tanggul di aliran Kali Bodri yang kritis dan longsor. “Penanganan dari Pemkab Kendal kalau pun ada, terbatas. Contohnya hari ini di tanggul Kali Bodri Dusun Sembung, Kecamatan Cepiring, kami sudah mendukung penanganan tanggul kritis dengan bantuan alat berat,” terangnya.
Pembagian Penanganan Tanggul di Wilayah Kendal
Pj Sekda Kabupaten Kendal, Agus Dwi Lestari menuturkan, terdapat pembagian penanganan sejumlah sungai di Kendal. Secara kewenangan pengelolaan sungai berada di bawah naungan DPUPR Jawa Tengah. Namun karena kondisi tanggul yang sudah darurat, disepakati adanya pembagian tugas agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif. “Dalam rapat kemarin, sudah disepakati adanya pembagian penanganan pada tanggul-tanggul yang kondisinya kritis,” imbuhnya.
Agus menerangkan, Pemkab Kendal dalam posisi ini diberikan kewenangan darurat menangani Kali Waridin. Sedangkan untuk tanggul Kali Bodri yang juga sudah kritis akan ditangani oleh DPUPR Jawa Tengah. Adapun untuk tanggul Kali Kuto yang juga berada dalam kondisi kritis dan membutuhkan anggaran besar, Pemkab Kendal akan segera mengajukan usulan penanganan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Dalam penanganan Sungai Waridin, Pemkab Kendal akan membangun 4 portal air baru sebagai upaya pengendalian debit air.
Agus menambahkan, pihaknya juga merencanakan peninggian jembatan penghubung desa yang dilalui Sungai Waridin. “Kemarin portal airnya ada yang jebol, rusak itu. Sekalian nanti kami akan meninggikan jembatan penghubung Desa Kebonadem Kecamatan Brangsong, dengan Desa Kumpulrejo Kecamatan Kaliwungu,” ungkapnya.
Peran Bupati dalam Penanganan Bencana
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengatakan pihaknya mulai mengebut untuk penanganan tanggul-tanggul sungai yang mulai kritis. Di Kendal, terdapat 5 sungai besar yang berada di sejumlah lokasi, di antaranya Sungai Waridin di wilayah perbatasan Kecamatan Brangsong dan Kaliwungu, Sungai Blorong di perbatasan Kecamatan Brangsong dan Kendal. Di wilayah barat, ada Sungai Bodri di Kecamatan Patebon dan Cepiring, Sungai Blukar di Kecamatan Ringinarum dan Kangkung, serta Sungai Kuto di perbatasan Kecamatan Rowosari dan Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang.
Dari sungai-sungai itu, terdapat beberapa titik tanggul yang telah kritis dan membutuhkan penanganan segera, yakni tanggul Sungai Bodri, Sungai Waridin serta Sungai Kuto. Bupati yang akrab disapa Tika menuturkan, pihaknya telah melakukan pembahasan bersama dinas terkait, dan melibatkan Pemprov Jawa Tengah untuk mengatasi persoalan tersebut. “Sudah ada pembahasan, teknisnya silakan nanti ditanyakan ke OPD terkait,” kata Tika. Tika mengatakan, pihaknya juga telah memberi rambu ke pemerintah kecamatan maupun desa untuk bersiap siaga menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. “Kami sudah cek lapangan, jika ada wilayah yang terdampak bencana, silakan segera koordinasikan untuk penanganan lebih lanjut,” tandasnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











