Kegiatan Bakti Sosial dan Kemah Forum Aktivis 98 Aceh di Sawang
Forum Aktivis 98 Aceh kembali menunjukkan semangatnya dengan melakukan bakti sosial dan berkemah di Gampong Paya Rabo Lhok, Sawang, Aceh Utara. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang terdampak banjir dan longsor. Mantan aktivis gerakan era reformasi ini masih sangat energik dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial.
Pemilihan wilayah Sawang sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Wilayah ini termasuk salah satu yang paling parah terkena dampak banjir dan longsor. Wakil Dekan Kemahasiswaan & Alumni FISIP Unimal, Taufik Abdullah, memfasilitasi kegiatan ini. Ia menjelaskan bahwa keinginan untuk bertemu teman-teman lama adalah untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi tentang rehab-rekon Aceh pasca banjir.
“Kami sepakat menyelenggarakan kegiatan di Paya Raboe sebagai titik kumpul,” jelas Taufik. Kegiatan berlangsung dari Kamis hingga Minggu, 15-18 Januari 2026. Selama masa tersebut, para aktivis melakukan tapak tilas, menyalurkan bantuan sembako, berdialog dengan warga korban, serta berbagi cemilan untuk anak-anak di berbagai lokasi di Aceh Utara.
Puncak kegiatan terjadi pada Jumat pagi dengan sesi diskusi dan dialog mengenai realitas banjir dan dampaknya. Hari Sabtu, mereka fokus pada gotong royong bersama warga di Gampong Paya Rabo Lhok. Aktivitas yang dilakukan antara lain membersihkan tempat ibadah seperti masjid, balai pengajian, lumbung padi, dan fasilitas publik lainnya.
Selain itu, mereka juga menyediakan mesin pompa air secara gratis untuk menyedot sumur warga. Nurul Salwa, Koordinator Lapangan, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan selama satu minggu.
Hari Minggu, para aktivis kembali bergerak menyalurkan bantuan sembako ke beberapa lokasi. Bantuan yang diberikan meliputi peralatan ibadah, Al-Qur’an, Iqrak, buku, baju bayi, dan sejumlah peralatan bayi.
Untuk melancarkan aktivitas sosial, mereka menyewa beko agar pemindahan lumpur padat dapat berjalan lancar di area Mesjid Masjid Assa’adah Kemukiman Sawang. Padat dan tingginya lumpur hanya mungkin dipindahkan dan diratakan dengan alat berat.
Panas dan terik matahari tidak menyurutkan semangat mereka. Mereka istirahat sejenak, shalat, dan makan siang dimasak di salah satu rumah warga setempat. Sampai jelang Ashar, nampak beberapa pentolan aktivis era 98 ini masih bertahan sampai sore hari.
Beberapa pentolan aktivis yang datang dari jauh ikut berkemah, seperti Islamuddin Ismadi, Munawar Liza, Aliman Selian, Agustiannur, Abdul Rauf, Iqbal Selian, Dewi Mutia, Ainal Mardhial, Sayuti Malik, Maitanur, Mastur Yahya, Nurmi Ali, Cut Intan Fauziah, Zulfadli Anwar, dan lain-lain dari berbagai kabupaten/kota.
Amatan di lapangan menunjukkan hampir seratusan pentolan mantan aktivis ini berbaur bersama warga. Iqbal Selian, yang datang dari Aceh Tenggara, mengatakan sangat senang bertemu teman-teman dari berbagai kabupaten/kota di Sawang ini. Mereka datang dari Banda Aceh, Pidie, Bireuen, wilayah Tengah maupun dari pesisir Barat Selatan, juga dari Aceh Utara khususnya.
Semuanya ingin sekali bertemu setelah sekian lama terserak dengan kesibukan masing-masing. Setelah bencana banjir dan longsor beberapa waktu lalu, keinginan bertemu kuat sekali. Apalagi kawan-kawan di kabupaten/kota juga terdampak.
Disamping itu, secara historis, Pasee punya kenangan tersendiri di era konflik dulu. Teman-teman gerakan mahasiswa di wilayah Pasee ini cukup militan dan berani. “Dulu, kita dari Banda Aceh melakukan berbagai misi kemanusiaan di wilayah Pasee ini, termasuk mengadvokasi masyarakat dari tindakan refresif para pihak di masa konflik,” kenang Iqbal, nampak bersemangat menjelaskan diantara alasan Sawang dipilih jadi destinasi kumpul.
Sementara itu, Nurmi Ali, inisiator bakti sosial, menjelaskan bahwa dipilihnya Sawang karena termasuk wilayah terparah dihantam gelombang banjir dan longsor. Melihat tumpukan tanah aliran banjir di sini, ditambah solidaritas kawan-kawan mau berbagi rezeki, memaksa mereka bergerak ke sini.
Semua pembiayaan dan penyewaan alat berat, termasuk beko ini, selama dua hari dipastikan tuntas mengeser lumpur, bisa dipindahkan dan diratakan di area Mesjid ini. “Beko ini juga digunakan untuk membuka akses jalan dan lorong ke rumah warga. Dengan demikian warga dapat membersihkan lumpur di rumahnya.”
Untuk melancarkan kegiatan ini bakti sosial dan kemah di sini, mereka tidak menerima donasi dari pihak manapun. Ini murni sumbangan teman-teman aktivis forum sembilan lapan, Nurmi menegaskan.
Sesalkan Diskoordinasi Rehab Rekon Pasca Banjir
Islamuddin Ismadi, Sekretaris Jenderal KARMA (Koalisi Aksi Reformasi Mahasiswa Aceh) era 98 ini, mengatakan bahwa bermalam di Paya Rabo Lhok menyahuti diskusi teman-teman dalam Group Semangat 98 Aceh. Berkumpul di sini bukan untuk validasi, dan bukan sekedar silaturahmi eksponen gerakan aktivis masa lalu. Tapi satu keharusan melihat proses rehab-rekon masih terkesan tidak terkoordinasi dengan baik diantara pengambil kebijakan.
“Kita pilih base camp di sini, perlu mengelaborasi realitas faktual, berdiskusi, bertukar pikiran dan memberikan kritik tentunya terkait penanganan korban banjir. Sebagaimana kita lihat penanganan baik saat banjir, masa tanggap darurat dan kebijakan rehab rekon pasca banjir, terkesan emosional dan egoistik,” ujar Islamuddin.
Lanjut Islamuddin, sebagai elemen masyarakat sipil, niscaya memberi masukan atau kritikan kepada pemerintah. Harapannya proses rehab-rekon on the track sesuai kebijakan dan terkoordinasi dengan baik antara pusat dan daerah. Saat ini, kesannya lemah komunikasi dan koordinasi diantara pengambil dan pemangku kebijakan. Ini tidak patut terjadi jika para pihak menari-nari di atas penderitaan rakyat.
“Kita tidak berharap proses, tahapan dan akhir dari musibah ini, akan sangat kita sesalkan jika yang diuntungkan para pencundang, para bandit. Sementara warga korban banjir, tidak mendapat perhatian secara serius. Warga benar-benar dipulihkan kembali kehidupannya secara mental, dibela sumber pendapatan ekonominya yang hancur, dan tentu niscaya mendapat bantuan seutuhnya, sebagaimana dijanjikan pemerintah,” pungkas Islamuddin.
Sedangkan Taufik menegaskan akan memfasilitasi pertemuan lanjutan di kampus Universitas Malikussaleh, jika diperlukan. “Saya akan minta restu dengan pimpinan kampus, jika Rektor Unimal, Profesor Herman Fithra, memberi izin, akan kita fasilitasi mantan aktivis 98 Aceh menyampaikan suaranya kepada pemerintah dari kampus Unimal,” tutup Taufik Abdullah.











