Dampak Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera
Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Sumatera telah menimbulkan duka bagi warga di tiga provinsi yang terdampak, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Meskipun bencana tersebut terjadi pada akhir November 2025, beberapa wilayah di Aceh Tengah masih mengalami isolasi dan kesulitan dalam memperoleh bantuan.
Salah satu dusun yang terkena dampak adalah Dusun Lelabu, Kampung Mendale, Kebayakan, Aceh Tengah. Warga setempat masih tinggal di rumah mereka dengan rasa was-was terhadap kemungkinan terjadinya banjir atau longsor susulan. Akses darat yang terputus membuat warga kesulitan untuk mendapatkan bantuan karena satu-satunya jalan hanya bisa melalui Danau Lut Tawar.
Seorang warga dari Dusun Lelabu menceritakan pengalamannya saat kejadian banjir dan tanah longsor pada 26 November 2025. Ia mengatakan bahwa air mulai datang dengan deras sekitar pukul 16.00 WIB. Anak-anak dan perempuan keluar lebih dulu dari dusun dengan dijemput oleh kapal pesantren. Menurutnya, dua kapal datang lagi dan menjemput para perempuan dan anak-anak lainnya pukul 17.00 WIB dan tiba di posko sekitar pukul 21.00 WIB. Sementara itu, bapak-bapak tetap berada di dusun hingga air datang dari atas pada pukul 00.00 WIB. Mereka naik sampan ke Takengon dan tiba pada pukul 04.00 WIB tanpa lampu di tengah danau.
Akses Hanya Lewat Danau, Mendayung Sampan hingga 4 Jam
Jalan darat yang menjadi akses ke Dusun Lelabu putus total, sehingga hanya bisa dijangkau melalui danau. Warga lainnya menceritakan kengerian saat mendayung sampan untuk mencapai Takengon. Mereka mengatakan bahwa ibu-ibu sudah duluan dibawa ke sana naik kapal, sedangkan bapak-bapak tinggal di sini karena tidak muat. Akibat longsoran dari kiri dan kanan, mereka harus mendayung perahu dari sini sampai ke Takengon.
Perjalanan dari jam 12 malam sampai jam 4 subuh, kiri-kanan gunung-gunung seperti jatuh. Rasanya seperti gunung itu pecah. Mereka mengatakan bahwa jika malam datangnya, pasti akan menjadi korban. Sampan yang digunakan cukup membawa 5 orang dengan satu dayung dan dalam kondisi hujan deras.
Selain momen penyelamatan yang penuh tantangan, perjuangan untuk mendapatkan bantuan pun tak mudah. Kapal yang dimiliki hanya sampan dengan dayung manual membuat warga juga harus mendayung 4 jam untuk mendapatkan bantuan. Relawan dalam video tersebut menyampaikan bahwa harus didayung, tidak ada boat. Harus mendayung 3 sampai 4 jam kalau mau beli minyak makan, telur.
Kondisi Rumah yang Rusak dan Perjuangan Harian
Saat ini, warga bertahan di rumah yang rusak pasca diterjang banjir dan longsor. Dalam video tersebut terlihat seisi rumah telah dipenuhi dengan lumpur yang mengeras. Warga yang kembali memilih untuk membersihkan rumah dan menempatinya dengan kondisi rusak di beberapa bagian. Mereka mengatakan bahwa mereka tetap tinggal di sini dan terserah kepada Allah. Jika mau mati, maka mati ya.
Lebih lanjut, karena tak ada gas, warga memasak menggunakan kayu bakar. Mereka mengatakan bahwa tidak ada apa-apa lagi, hanya yang ada di badan. Ini mulai dibersihin sedikit-sedikit, yang penting selamat. Harta masih bisa dicari, cuma nyawa yang terbatas.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











