Perumahan dan Kebijakan Sosial di Azerbaijan
Baku, ibukota Azerbaijan, adalah kota yang memiliki segala konsep serta kecepatan pembangunan sebagai negara muda yang baru keluar dari pemerintahan Uni Soviet pada tahun 1991. Saat ini, baik generasi muda maupun tua di Azerbaijan percaya bahwa kebijakan perumahan Soviet adalah proyek sosial negara yang paling sukses. Hal ini membuat banyak orang teringat dengan situasi politik ringan di Indonesia saat ini.
Beberapa orang mengatakan bahwa bagi mereka yang sudah lahir dan dewasa di jaman Presiden Soeharto, hidup di jaman itu jauh lebih baik daripada jaman sekarang. Namun, saya sendiri tidak ingin memberikan komentar karena tidak benar-benar peduli dengan kondisi politik di Indonesia. Menurut saya, politik itu “jahat”, dan kita tetap harus berjuang sendiri. Jadi, mengapa membuang energi untuk komplain atau protes yang akhirnya tidak ada perubahan? Mendingan berjuang sendiri sampai bisa menjadi seperti ini, kan?
Itulah yang sepertinya dipikirkan oleh sebagian warga Azerbaijan yang membandingkan masa lalu mereka ketika masih dibawah Soviet dan masa kini setelah kemerdekaan. Masalahnya adalah bersabarlah, karena tidak mungkin negara mengurus semua warganya sekaligus. Ada skala prioritasnya. Pada kenyataannya, Azerbaijan yang baru merdeka pada tahun 1991 jauh lebih maju, lebih modern, dan lebih peduli dibandingkan dengan Indonesia yang merdeka pada tahun 1945 tetapi secara fisik perkotaannya jauh dari harapan.
Saat ini terdapat cukup banyak unit perumahan modern, bertingkat tinggi, dan indah yang kosong di pusat kota Baku. Namun, apartemen-apartemen ini tidak dimaksudkan untuk didistribusikan kepada masyarakat biasa seperti yang terjadi pada zaman Soviet, melainkan untuk dijual kepada warga kaya. Semua informasi ini saya dapatkan dari internet saja. Meskipun begitu, saya akan mencari tahu lebih dalam karena menurut saya populasi di Azerbaijan, terutama di ibukota Baku, hanya sedikit. Jika sebagian besar belum mendapat jatah perumahan, mungkin harus lebih bersabar.
Menurut saya, hal ini juga terjadi karena banyak warga yang tidak mau pindah walau Khrushchevka (jenis apartemen Soviet) sudah tidak layak huni, karena mereka sudah terbiasa hidup seperti itu. Dengan latar belakang kebutuhan mendesak masyarakat biasa akan apartemen tempat tinggal, lokasi-lokasi mewah yang kosong ini tampak sebagai contoh utama ketidakadilan sosial di Azerbaijan modern. Catat, ini adalah pendapat dari sebagian warga negara, bukan semuanya!
Contoh ini membuat pemerintah Soviet, yang dikritik karena karakter anti-nasionalnya, tampak lebih menarik dibandingkan dengan negara Azerbaijan modern. Saat ini perumahan di Azerbaijan cukup mahal dan skala gaji sangat rendah sehingga apartemen-apartemen ini tidak terjangkau bagi generasi muda.
Ini memang menjadi dilema bukan hanya di Azerbaijan saja, bahkan di negara maju pun demikian. Bagi generasi muda memang susah mendapatkan perumahan di kota karena harga yang tidak terjangkau! Itu sangat masuk akal, bukan hanya karena sistem yang berjalan dengan perumahan yang mahal di dalam kota saja, tetapi juga tentang perkotaan yang semakin sempit, sehingga sistem baru lah yang terjadi.
Ini sebuah seleksi. Seperti seleksi alam, bahwa semakin kesini, perkotaan semakin sempit. Dan sistem yang berjalan, harga semakin mahal. Jadi, mau tidak mau yang belum memiliki rumah harus pindah ke pinggiran kota, karena kota sudah terlalu sempit, kan? Benar terseleksi oleh sistem dan “alam perkotaan”. Sistem memberi jalan pindah ke pinggiran kota bahkan ke luar kota, karena bukan karena kota semakin sempit, tetapi sistem membuka jalan untuk kota berkembang.
Ketika yang belum mempunyai rumah mau “menyingkir” ke pinggiran kota bahkan pindah kota sekalian, mereka akan menembangkan dirinya untuk membangun kota yang baru. Jadilah kota-kota satelit yang berfungsi untuk mendukung kota utamanya, seperti Jakarta yang didukung oleh Bekasi, Tangerang, Bogor atau Depok! Kota-kota pinggiran Jakarta itu, mengembangkan dirinya semakin luas dan bahkan kota-kota satelit itu bisa menjadi sebesar dan sekomplit kota Jakarta.
Jadi, yang mereka atau warga kota dunia yang merasakan hal yang sama termasuk juga Indonesia, kita harus bersabar sambil berpikir jauh dan menimbang-timbang apa yang saya tuliskan sebagai seorang arsitek dan urban serta city planner, masuk akal untuk perkembangan kehidupan warga kota di seluruh dunia.
Kebijakan Sosial dan Persepsi Masyarakat
Kaum muda juga percaya bahwa pengabaian Uni Soviet terhadap hak asasi manusia dasar setidaknya diimbangi oleh proyek-proyek sosialnya. Bahkan generasi yang lebih tua, yang masih tinggal di apartemen yang dibeli selama era Soviet, percaya bahwa kebijakan perumahan pemerintah Soviet lebih adil. Mereka melupakan bahwa pemerintah Soviet lah yang merampas tempat tinggal mereka, menyita rumah mereka, mengusir mereka dari rumah mereka, dari tanah air mereka, mencap mereka sebagai kontra-revolusioner, pengkhianat tanah air, sabotase, dan mengakhiri semua inisiatif ekonomi.
Mungkin tidak berbeda dengan situasi di Indonesia, yang melupakan apa yang terjadi di saat-saat pemerintahan yang lama menjadikan kita semua terkukung dari semua hal. Mereka pun lupa, mengapa tahun 1998 mereka bergerak untuk menggulingkan pemerintahan. Dan, bahkan kita semua selalu lupa yang paling penting, adalah kita tidak (atau tidak pernah?) BERSYUKUR dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











