Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Masuk Klaster Ayam Nasional, Kalteng Siap Jadi Produsen

Visi Kalteng Membangun Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan dalam jangka panjang. Hal ini dilakukan melalui penguatan klaster ayam nasional serta pembangunan infrastruktur dan logistik daerah. Upaya ini bertujuan agar Kalteng tidak hanya menjadi daerah konsumen, tetapi juga mampu menjadi produsen pangan yang mandiri.

Sejalan dengan visi Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran, Pemprov Kalteng terus berupaya menciptakan ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan. Ini menjadi fondasi utama dalam pembangunan daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalteng Agus Candra menyampaikan bahwa secara umum kondisi ketahanan pangan di Kalteng saat ini masih relatif aman dari sisi ketersediaan stok. Namun, tantangan utama terletak pada struktur produksi dan distribusi.

“Kalau bicara ketersediaan, stok pangan kita aman. Beras di gudang Bulog masih cukup untuk enam hingga sepuluh bulan ke depan. Tetapi yang perlu kita perkuat adalah struktur produksinya,” ujarnya, Jumat (19/12) lalu.

Pembangunan Klaster Ayam Nasional

Sebagai langkah awal, Pemprov Kalteng telah menyiapkan fondasi pengembangan klaster ayam nasional, salah satunya melalui pembangunan pabrik pakan ternak di Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur.

“Pabrik pakan sudah dibangun di Parenggean dengan kapasitas sekitar delapan ton per jam, dan kapasitas ini masih bisa ditingkatkan sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Selain itu, kesiapan bahan baku pakan juga terus diperkuat melalui peningkatan produksi jagung.

“Untuk bahan baku, kita siapkan dari jagung. Saat ini Bulog memiliki sekitar 200 ton jagung hasil program penanaman jagung kerja sama dengan Polri. Artinya, dari sisi bahan baku kita sebenarnya sudah cukup siap,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa Kalteng hingga kini masih belum swasembada untuk komoditas protein hewani, khususnya ayam ras.

“Untuk ayam ras, kita masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Ketika suplai sedikit terganggu, harga langsung bergejolak. Inilah yang sedang kita benahi,” ujarnya.

Pengembangan Sentra Produksi Berbasis Wilayah

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Kalteng mendorong pembangunan sentra produksi pangan berbasis wilayah. Tujuannya adalah agar setiap wilayah di Kalteng memiliki sentra produksi sendiri, sehingga tidak seluruhnya bergantung pada pasokan dari luar provinsi.

“Ke depan, wilayah barat, tengah, dan timur Kalteng kita dorong memiliki sentra produksi masing-masing, sehingga tidak seluruhnya bergantung pada pasokan dari luar provinsi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa ketergantungan Kalteng terhadap pasokan pangan dari provinsi lain juga tidak terlepas dari persoalan infrastruktur dan jalur logistik.

“Sebagian besar pasokan pangan kita masih masuk dari Jawa dan Kalimantan Selatan. Jika terjadi gangguan cuaca atau transportasi, suplai langsung terdampak,” katanya.

Perbaikan Infrastruktur dan Logistik

Untuk itu, Pemprov Kalteng di bawah kepemimpinan Gubernur H. Agustiar Sabran juga mendorong penguatan infrastruktur pelabuhan dan konektivitas antarwilayah, termasuk pengembangan kawasan Batanjung di Kabupaten Kapuas.

“Jika akses dan pelabuhan kita kuat, distribusi tidak perlu lagi bergantung pada provinsi lain. Dampak ekonominya bisa langsung dirasakan masyarakat Kalteng,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus dipandang sebagai bagian penting dari strategi ketahanan pangan jangka panjang.

“Kalau infrastruktur bagus, distribusi lancar, biaya angkut turun, dan harga pangan di tingkat masyarakat bisa lebih stabil,” tambahnya.

Target Masa Depan Kalteng

Ia menegaskan bahwa arah kebijakan Pemprov Kalteng jelas, yakni memastikan daerah tidak hanya aman dari sisi stok, tetapi juga mandiri dari sisi produksi.

“Kita tidak mau selamanya menjadi pasar. Target ke depan, Kalteng mampu mencukupi kebutuhan sendiri, bahkan menyuplai ke luar daerah, terlebih dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN),” tegasnya.

Ia menutup dengan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. “Ini bukan kerja satu dinas saja. Ini kerja bersama antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, Bulog, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.

Peran Klaster Ayam Nasional

Seperti diketahui, Kalteng masuk dalam 13 provinsi yang ditetapkan pemerintah pusat sebagai lokasi pengembangan klaster peternakan ayam nasional. Namun, hingga saat ini Kalteng masih belum swasembada produksi telur dan daging ayam, sehingga pasokan masih bergantung dari luar daerah, khususnya Pulau Jawa.

Direktur Pakan Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Tri Melasari, menyebut berdasarkan peta produksi nasional, sentra utama telur dan daging ayam ras masih didominasi provinsi-provinsi di Jawa dan Sumatera.

“Kalau kita lihat peta sebaran, produksi terbesar masih di Jawa dan Sumatera. Untuk Kalimantan, produksi terbesar ada di Kalimantan Selatan. Kalteng sendiri belum swasembada, masih mendatangkan dari Jawa,” ujar Tri Melasari.

Secara data nasional, kontribusi produksi telur dan daging ayam dari seluruh wilayah Kalimantan hanya sekitar 3,8 persen. Angka ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan wilayah Kalimantan Tengah terhadap pasokan luar daerah. Pemerintah pusat saat ini menyiapkan pengembangan klaster ayam tahap awal di 13 provinsi, yakni Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Papua Selatan, dan Jawa Timur.

“Yang dipilih nanti provinsi yang benar-benar siap. Kegiatannya siap, pelaksananya siap, pembiayaannya siap, dan terintegrasi,” jelasnya.

Tri Melasari menegaskan bahwa kunci keberhasilan klaster ayam bukan hanya pada pembangunan kandang atau industri pakan, tetapi pada ekosistem yang berjalan utuh. Mulai dari ketersediaan bahan baku, peternak, hingga industri pendukung.

“Kalau mau ada pabrik pakan, bahan bakunya harus ada dari lokal. Salah satunya jagung. Artinya ekosistem pertanian jagung harus tumbuh. Peternaknya juga harus tumbuh. Industri pakan, perbibitan, semuanya harus jalan bersama,” tegasnya.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *