Pemicu Konflik yang Menimpa Istri Kasatpol PP Pangkalpinang
Pemicu konflik yang menimpa istri Kasatpol PP Pangkalpinang, Dini, terungkap setelah kejadian penggerebekan rumah dinas yang dilakukan oleh massa yang didominasi oleh ibu-ibu. Konflik ini bermula dari unggahan Dini di media sosial yang menyebabkan perselisihan dengan sejumlah kaum ibu selama beberapa bulan.
Dini adalah istri dari Efran, Kasatpol PP Pangkalpinang, yang kini menjadi sorotan publik setelah namanya menjadi sasaran emosi massa yang terdiri dari kalangan emak-emak. Puncak kemarahan massa terjadi saat rumah dinas yang ditempati Dini dan Efran digeruduk pada Jumat (19/12/2025) malam. Salah satu pemicu keributan tersebut adalah postingan Dini di media sosial.
Karena tidak nyaman dan kondisi yang tidak lagi kondusif, Dini sempat mengunjungi Polres Pangkalpinang untuk mediasi. Massa yang didominasi ibu-ibu pun ikut bergerak mendatangi Mapolres Pangkalpinang. Namun, mediasi yang difasilitasi pihak Polresta Pangkalpinang tidak berjalan mulus dan tidak menemukan titik temu.
Berdasarkan pernyataan kuasa hukum Dini, Fitriadi, kliennya tidak pernah diamankan oleh pihak kepolisian. Kehadiran Dini di Polresta Pangkalpinang hanya untuk menjalani proses mediasi yang difasilitasi aparat kepolisian, meski akhirnya mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan.
Fitriadi menjelaskan bahwa pemicu peristiwa bermula dari unggahan Instagram Story kliennya yang tidak menyebutkan nama siapa pun dan tidak diarahkan kepada pihak tertentu. Namun, setelah unggahan tersebut dipublikasikan, pihak Ibu Suri Wakanda Cs merasa tersinggung dan menganggap unggahan itu ditujukan kepada mereka.
Situasi kemudian memanas ketika Ibu Suri Wakanda bersama tiga rekannya mendatangi kediaman Kasatpol PP Pangkalpinang, Efran, pada Jumat malam sekitar pukul 21.15 WIB. Kedatangan tersebut disertai siaran langsung melalui media sosial TikTok yang ditonton ratusan orang, hingga memicu kerumunan massa, mayoritas emak-emak mendatangi lokasi.
Menurut Fitriadi, kliennya justru lebih dahulu menghubungi pihak kepolisian karena merasa kediamannya didatangi secara tidak wajar dan telah mengganggu ketertiban umum serta privasi keluarga. “Klien kami menilai kejadian itu sudah mengganggu ketertiban umum, apalagi lokasi tersebut merupakan rumah dinas Kasatpol PP. Karena situasi makin ramai dan menyebabkan kemacetan, pihak kepolisian kemudian mengarahkan semua pihak untuk melakukan mediasi di Polresta Pangkalpinang,” jelasnya.
Mediasi yang digelar sekitar pukul 22.00 WIB itu turut dihadiri Kasatpol PP Pangkalpinang Efran beserta istrinya. Namun, Fitriadi menyebut suasana mediasi tidak kondusif karena masih terjadi lontaran kata-kata kasar dari pihak lawan. “Dalam proses mediasi, klien kami masih menerima kata-kata yang tidak pantas. Ini membuat klien kami merasa tidak nyaman, privasinya terganggu dan martabatnya diserang,” ungkap Fitriadi.
Lantaran mediasi tidak ada titik temu, kata Fitriadi kliennya berencana melaporkan kembali, karena kliennya merasa rumahnya telah digeruduk dan peristiwa itu dinilai telah melanggar ketertiban umum serta mencederai rasa aman keluarga. “Karena tidak ada titik temu dalam mediasi, kami mengambil langkah hukum. Klien kami merasa rumahnya telah digeruduk dan privasinya dilanggar. Itu menjadi dasar kami membuat laporan,” tegasnya.
Laporan yang dilayangkan berkaitan dengan dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), menyusul sejumlah siaran langsung di media sosial yang dinilai berisi hinaan dan cacian. “Laporan yang pertama kini telah masuk tahap penyidikan di Polresta Pangkalpinang. Untuk laporan yang kedua terkait mereka melakukan penggerudukan ke rumah, kami menilai unsur pencemaran nama baik dan ITE terpenuhi,” tegasnya.
Terkait kegagalan mediasi, Fitriadi menyebut tidak adanya titik temu karena masing-masing pihak tetap bersikukuh pada pendiriannya. “Hasil mediasi tidak ada kejelasan dan tidak ada kesepakatan. Para pihak sama-sama memilih untuk tidak berdamai. Karena itu, klien kami sepenuhnya menyerahkan penanganan perkara ini kepada kami sebagai kuasa hukum,” ucapnya.
Unggahan Sosial Media Dini
Dini yang memiliki nama lengkap Gusti Dini Hariati memiliki akun media sosial TikTok dengan username My-Name-UBM. Akun My-Name-UBM memiliki pengikut sebanyak 3.476 di akun TikTok tersebut. Dini diketahui aktif mengunggah kegiatannya sebagai istri Kasatpol PP Pangkalpinang sebagai bagian dari kontennya. Selain mengunggah kegiatan, Dini juga terlihat sering mengunggah momen kebersamaan bersama sang suami yakni Efran yang menjabat sebagai Kasatpol PP Kota Pangkapinang.
Postingan terakhir yang diunggah oleh Dini pada Sabtu (20/12/2025) yang saat ini telah dilihat lebih dari 2 ribu kali penayangan. Dalam unggahan tersebut, warganet turut mengomentari peristiwa yang baru saja terjadi. Selama berbulan-bulan, Dini sapaan akrab istri Kasatpol PP Kota Pangkalpinang ini berseteru dengan kreator konten lainnya.
Dini digeruduk massa diduga melibatkan persoalan anak-anak ke dalam perseteruan antar emak-emak ini hingga memicu kemarahan di media sosial. Hal ini menuai banyak kritik karena Dini dinilai memperluas konflik hingga mengabaikan etika dan melibatkan anak-anak dalam masalah orang dewasa. Banyak warganet yang geram dengan tindakan Dini yang dianggap mengabaikan norma sosial dan tanggung jawab moral sebagai istri pejabat publik.
Selain itu, Dini juga diketahui mengunggah postingan di media sosial dengan kalimat provokatif. Yang dianggap sebagai tantangan bagi Tiwi CS untuk mendatangi kediaman rumah dinas Dini. “Standby di rumah siapa tahu ada yang ingin bertemu,” unggahan Dini. Unggahan ini semakin memanaskan situasi dan membuat perseteruan daring merembet ke dunia nyata. Hingga akhirnya ratusan massa yang didominasi emak-emak mendatangi rumah dinas Kasatpol PP Pangkal Pinang di Jalan Adhyaksa, Pangkalpinang.
Polisi Terlibat Adu Mulut dengan Emak-emak
Polisi sempat kewalahan menenangkan emosi ibu-ibu yang datang ke Mapolresta Pangkalpinang pada Jumat (19/12/2025) malam. Malam itu, suasana di depan pagar bagian luar Kantor Mapolresta Pangkalpinang sempat menjadi sorotan warga dari sejumlah wilayah di Kota Pangkalpinang. Ketegangan terjadi antara aparat kepolisian dan sekelompok emak-emak yang mendatangi kantor polisi tersebut.
Keributan bermula saat sejumlah emak-emak tiba di lobi gedung utama Mapolresta Pangkalpinang dan terlibat adu mulut dengan aparat. Polisi tampak berupaya menenangkan massa yang terus berteriak dan meminta kasus yang mereka persoalkan segera ditangani. “Tenang, ibu-ibu. Ini kantor polisi, silakan duduk dulu dan jangan emosi,” ujar salah seorang anggota kepolisian saat mencoba meredam situasi.
Istri Kasatpol PP Pangkalpinang Lapor Polisi
Tidak lama berselang, sebuah mobil jenis Honda CR-V memasuki halaman Mapolresta Pangkalpinang. Kendaraan tersebut diketahui ditumpangi Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kota Pangkalpinang yang mendampingi seorang perempuan yang merupakan istrinya. Sontak, kedatangan istri Kasatpol PP Kota Pangkalpinang tersebut memicu reaksi keras dari massa dan emosi emak-emak semakin memuncak.
Sejumlah emak-emak menuntut agar perempuan tersebut keluar dan menemui mereka. Massa menilai perempuan itu telah menyebarkan pernyataan bernada provokatif melalui media sosial yang memicu konflik. “Suruh keluar dia itu pak, jangan berani di dalam dan jangan berkoar-koar di media sosial saja beraninya dan ngatain orang seenak jidatnya,” ketus seorang emak-emak.
Polisi pun terus menenangkan emak-emak yang berdiri di lobi utama gedung Mapolresta Pangkalpinang. Teriakan dan sorakan dari ratusan warga yang bediri terdengar keras dan meminta polisi menangani kasus ini. “Kami sudah dari tadi di sini pak, kenapa kalian lindungi istri pejabat dan dia sudah menyebarkan kata-kata di medsos dan nantang kami,” timpal seorang emak-emak lagi. “Iya, ibu tenang dulu dan nanti kita mediasi di dalam mau dan jangan ribut ini kantor polisi,” ungkap aparat yang menenangkan emak-emak. “Tidak mau pak, kami mau dia keluar dan temui kami. Jangan mentang-mentang istri pejabat, kemudian dilindungi oleh polisi,” ucap emak-emak secara serentak.
Setelah dilakukan berbagai upaya, kedua belah pihak akhirnya dibawa ke ruang Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Pangkalpinang untuk dimediasi. Mediasi dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polresta Pangkalpinang, AKP Singgih Aditya Utama. Meski telah dipertemukan, kedua belah pihak masih bersitegang dan gagal karena belum menemukan titik temu. “Iya, sudah kami pertemukan semalam tapi masih saja mereka mau bersitegang dan kami nanti kalau memang mereka mau bertemu dan kami siap untuk menengahi kedua belah pihak,” kata AKP Singgih kepada Bangkapos.com, Sabtu (20/12/2025) pagi.
AKP Singgih mengimbau kepada seluruh masyarakat agar bijak dalam menggunakan media sosial agar tidak terjadi konflik atau masalah antara kedua belah pihak. “Tentu, kami minta masyarakat supaya bijak dalam bermedsos dan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak inginkan,” imbaunya. Sementara keramaian yang sempat terjadi di Mapolresta Pangkalpinang, mulai kondusif dan masyarakat mulai meninggalkan Mapolresta sekitar pukul 24.00 WIB.











