Kehangatan dan Ketabahan Warga Desa Sekumur Pasca-Bencana
ACEH TAMIANG,
Keramahan warga Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, tetap terasa meski bencana banjir bandang dan tanah longsor merenggut rumah, jalan, dan hampir seluruh sendi kehidupan mereka. Sambutan hangat itu Tim rasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa yang hingga kini masih terisolasi itu.
Pada Selasa (18/12/2025) siang, Rajab, warga Desa Sekumur, menyapa ramah Tim yang baru turun dari sampan. Saat itu, Rajab baru saja mengambil bantuan logistik yang diangkut melalui jalur sungai dari wilayah hulu Sungai Aceh Tamiang. Hingga kini, penyeberangan dengan sampan dari perbatasan Desa Babo dan Desa Rantau Bintang masih menjadi satu-satunya akses masuk menuju Desa Sekumur. Sebab, jembatan penghubung terputus akibat banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 lalu.
Ketika mengetahui tujuan kami hendak menuju pusat pengungsian warga, Rajab tanpa ragu mengajak berjalan bersama. “Ayo Bang, aku antar sekalian aku pulang nih,” ucap Rajab. Rajab kemudian memandu kami menyusuri jalur dari bantaran sungai menuju desa. Jalan yang dilalui bukan lagi aspal, melainkan tumpukan kayu-kayu besar yang terbawa arus banjir sekitar tiga pekan lalu.
Sepanjang perjalanan, Rajab menjelaskan bagaimana kondisi wilayah yang kami lintasi sebelum dan sesudah bencana. “Ini sebelumnya rumah-rumah warga di pinggir jalan raya,” kata Rajab saat kami melintasi hamparan kayu setinggi sekitar dua meter dari permukaan tanah. Menurut Rajab, akses dari sungai menuju pusat desa kini sedikit lebih mudah setelah warga bergotong royong memotong kayu-kayu besar tersebut dan menatanya menjadi jalan setapak. “Dipotong-potong biar lebih gampang jalan,” ujarnya.
Selepas tumpukan kayu, jalur berubah menjadi lumpur basah sisa banjir dengan ketebalan sekitar 20 hingga 30 sentimeter. Di kiri dan kanan, terlihat puing-puing rumah warga yang hancur. Di tengah kerusakan itu, hanya satu bangunan yang masih berdiri utuh, yakni Masjid Baitul Makmur. “Hanya masjid yang masih berdiri kokoh. Bangunan sekitarnya habis sudah. Warga tinggal di tenda atau bangun dari puing-puing dan kayu seadanya,” tutur Rajab.
Setelah berjalan sekitar dua kilometer, kami tiba di tengah Desa Sekumur. Hampir seluruh rumah warga rata dengan tanah. Beberapa bangunan hanya menyisakan tembok bagian bawah tanpa atap, pintu, maupun jendela. Di tengah kondisi itu, Rajab mengajak kami singgah ke tempat tinggal keluarganya. Dia bersama orangtua dan keluarganya tidak lagi berada di posko pengungsian. Mereka mendirikan gubuk sederhana tepat di atas bekas rumah yang hancur diterjang banjir.
Gubuk dibangun dari puing kayu dan seng seadanya, dengan tiang penyangga yang memanfaatkan batang pohon pinang. Di tempat itu, kami bertemu Zainuddin (57) dan Fatimah (56), orangtua Rajab, beserta istri, kakak, dan beberapa keponakan Rajab. Total, ada 11 orang yang kini tinggal di gubuk tersebut. Setelah bersalaman dan saling memperkenalkan diri, Zainuddin langsung mempersilakan kami duduk dan menggelar karpet sebagai alas. “Gapapa duduk sini. Sama-sama. Orang abang sudah jauh jalan ke sini kan. Istirahat dulu,” ucap Zainuddin.
Suasana hangat segera mengalir. Obrolan diselingi tawa canda memenuhi gubuk kecil itu. Zainuddin dengan terbuka menceritakan keseharian dan kondisi keluarganya sebelum dan sesudah bencana. “Iya sudah dibangun. Pas kemarin banjir hancur semua. Habis semua. Bahannya kutip-kutiplah kita di semak-semak tuh. Yang ada sisa-sisa istilahnya puing-puing gitu kan,” kata Zainuddin. “Sana satu, sini satu kan gitu. Inilah adanya. Iya tiangnya juga dari pokok binang kan gitu kita ambil kan,” sambungnya.
Teh Hangat, Hikmah Bencana
Di tengah keterbatasan, keluarga Zainuddin menyuguhkan teh manis hangat kepada kami yang kehujanan di perjalanan. Mereka bahkan menawarkan makan siang sederhana dari bahan bantuan logistik relawan. “Makan ya Bang. Kami buatkan mi. Maklum ya seadanya,” ucap Zainuddin. Keramahan itu membuat kami makin terenyuh. Dengan halus, kami menolak tawaran dan memilih menyantap bekal sendiri agar tidak mengurangi persediaan makanan keluarga itu.
Zainuddin pun tertawa sambil menenangkan kami. “Ya sudah sambil dimakanlah. Kalau kami tadi sudah. Untuk istilahnya logistik makanan ya. Makanan, minuman, roti apa segala macam. Alhamdulillah banyak yang peduli kan. Untuk saat ini enggak laparlah kami,” tuturnya. Bagi Zainuddin, kedatangan tamu dan para relawan justru menjadi hikmah di balik bencana yang menimpa.
“Iya kan. Ada hikmahnya. Apa pun ceritanya Allah menguji kita itu atas kemampuan kita. Kalau tidak dengan kemampuan kita itu tidak diuji sebenarnya. Cuma kita ini yang enggak sanggup menerima. Karena iman kita tadi belum tebal kan gitu,” ujar Zainuddin sambil tertawa. Hingga kini, Zainuddin, keluarganya, dan ribuan warga Desa Sekumur masih hidup dalam keterbatasan. Aliran listrik belum pulih, kebutuhan air bersih dan makanan sehari-hari masih mengandalkan bantuan yang disalurkan melalui jalur udara dan sungai.
“Sampai sekarang masih ada yang di atas bukit itu. Karena mungkin karena bingung. Istilahnya bahan rumah enggak ada satu potong pun lagi,” kata Zainuddin. “Jadi kalau kita turutkan (ikutin) bingung ini kapan habisnya? Bingungnya kan gitu. Kalau enggak kita kuat-kuatkan iman kita kan gitu,” pungkasnya sambil tertawa.
Menjelang sore, kami berpamitan untuk kembali menuju bantaran sungai dan menyeberang ke Desa Babo. Zainuddin dan keluarganya mendoakan agar perjalanan kami lancar dan mengajak kami kembali berkunjung ketika kondisi desa sudah membaik.









