Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Saham Konglomerasi Tetap Kuat di 2026? Bahaya Rotasi Sektor Mengancam

Tren Saham Konglomerasi di Bursa Efek Indonesia pada 2026



JAKARTA – Pada tahun 2026, saham-saham konglomerasi diperkirakan masih menjadi penggerak utama Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, dominasi mereka tidak akan sepenuhnya menyeluruh. Pasar saham mulai memasuki fase yang lebih selektif, di mana hanya sebagian kecil saham konglomerasi yang tetap mengalami pertumbuhan signifikan. Sementara itu, dana investasi berpotensi berpindah ke sektor lain yang memiliki katalis baru.

Analis Sinarmas Sekuritas, Isfhan Helmy, menilai bahwa pasar saat ini sudah mendekati fase euforia. Hal ini terlihat dari fenomena saham-saham hasil penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) yang melonjak tajam setelah melantai di bursa. Situasi ini mencerminkan pasar yang mulai panas dan berisiko mendekati bubble. Ia memperkirakan tren ini belum sepenuhnya berakhir dan bisa terus berlanjut hingga 2026.

Dalam konteks saham konglomerasi, Isfhan menyoroti bahwa kelompok ini masih memiliki peluang untuk unggul, terutama konglomerasi yang memiliki target jelas untuk masuk ke dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Saham-saham yang secara fundamental dekat dengan kriteria MSCI dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan.

“Menurut saya, kondisi ini sudah mendekati bubble, artinya apa pun yang IPO-in masih cepat. Cuma pertanyaannya, apakah tren ini akan berlanjut di tahun depan? Jadi kita lihat mungkin kalau bicara konglomerasi, terutama konglomerat yang mengejar MSCI, kita rasa mungkin masih akan terus jalan,” ujar Isfhan dalam konferensi pers virtual, Kamis (18/12/2025).

Beberapa emiten yang disebut memiliki karakteristik tersebut antara lain PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), serta PT Petrosea Tbk (PTRO). Menurutnya, saham-saham ini memiliki kapitalisasi pasar dan struktur free float yang relatif mendekati ambang MSCI, sehingga secara teoritis masih “masuk akal” untuk terus didorong oleh pasar.

Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua saham konglomerasi akan otomatis melanjutkan reli. Contohnya adalah sejumlah saham konglomerasi lain yang masih membutuhkan kenaikan harga sangat besar, bahkan 200 hingga 300 persen, agar dapat memenuhi syarat floating market capitalization alias nilai kapitalisasi pasar saham untuk masuk MSCI. Dengan kebutuhan kenaikan setinggi itu, peluangnya dinilai jauh lebih terbatas.

Tantangan bagi saham konglomerasi juga datang dari perubahan aturan main MSCI. Adanya wacana MSCI akan mengubah metode perhitungan floating market capitalization dengan tidak lagi memasukkan kepemilikan korporasi tertentu ke dalam komponen free float. Kepemilikan yang bukan berasal dari asset manager dan perusahaan asuransi berpotensi dikeluarkan dari perhitungan indeks.

Jika wacana tersebut direalisasikan, dampaknya bisa signifikan. Floating market cap dan free float sejumlah saham berpotensi turun, bahkan bisa tergerus hingga sekitar 5 persen. Kondisi ini akan membuat jalan menuju MSCI menjadi semakin sempit dan selektif, sehingga tidak semua saham konglomerasi dapat terus mengandalkan narasi masuk indeks global sebagai pendorong harga.

“Apakah tahun depan MSCI masih akan cukup longgar? Kita lihat mungkin beberapa wacana MSCI akan merubah perhitungan floating market cap, dimana dia tidak lagi menghitung corporate, jadi dari free float itu kalau dianggap sebagai sebuah PT, atau misalnya sebuah perusahaan di luar negeri yang bentuknya itu bukan asset manager, atau insurance, itu mungkin akan di keluarkan dari indeks,” beber Isfhan.

“Jadi mungkin kalau itu dilakukan mungkin impact-nya akan lebih sedikit mengurangi floating market cap, artinya contoh kayak misalnya beberapa saham mungkin akan floating market cap-nya bisa turun, FTF-nya bisa turun sampai 5 persen,” lanjutnya.

Dengan kondisi tersebut, Isfhan menilai saham konglomerasi pada 2026 masih bisa unggul, tetapi hanya bagi emiten yang secara fundamental dekat dengan MSCI. Sementara itu saham konglomerasi yang jaraknya masih terlalu jauh dari kriteria indeks global tersebut berisiko mengalami stagnasi atau tertinggal.

Di luar saham konglomerasi, Isfhan melihat potensi rotasi sektor pada 2026, meski lebih bersifat internal di dalam pasar domestik. Rotasi ini diperkirakan terjadi seiring investor mulai lebih selektif dan mencari sektor dengan valuasi yang relatif lebih menarik serta katalis baru.

Selama pasar negara maju masih mencatatkan kinerja lebih baik dan ekonomi Amerika Serikat terhindar dari resesi, aliran dana global cenderung tetap bertahan di negara-negara maju. Selain itu, berkurangnya daya tarik strategi Japan carry trade juga berpotensi menahan masuknya dana asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi tersebut, pergerakan pasar saham Indonesia pada 2026 diperkirakan lebih banyak ditopang oleh rotasi antar sektor di dalam negeri. Sektor-sektor yang memiliki fundamental solid, valuasi lebih rasional, serta didukung kebijakan domestik berpotensi menjadi tujuan rotasi berikutnya.

“Jadi, tahun depan konglomerasi mungkin masih bisa jalan, tapi tidak semuanya. Pasar akan semakin selektif. Yang masih bisa unggul adalah saham konglomerasi yang memang secara fundamental sudah sangat dekat dengan MSCI,” tutur Isfhan.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *