Pemkab Kukar Hadir untuk Membantu Korban Kebakaran Sungai Meriam
Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) secara langsung hadir mendampingi korban kebakaran yang terjadi di Desa Sungai Meriam, Kecamatan Anggana. Tujuannya adalah memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi baik dalam masa darurat maupun pemulihan ke depan. Selain itu, Pemkab juga menyalurkan bantuan ketahanan pangan dan infrastruktur pertanian di Desa Sidomulyo.
Pembangunan berbasis desa, khususnya sektor pertanian, ditegaskan sebagai prioritas utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan dukungan yang maksimal kepada warga yang terkena dampak musibah.
Suasana Duka di Desa Sungai Meriam
Suasana duka menyelimuti Desa Sungai Meriam setelah kebakaran hebat terjadi pada 11 Desember 2025. Kebakaran ini merenggut tiga nyawa balita yang merupakan kakak beradik dan membuat 13 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Bupati Kukar Aulia Rahman Basri bersama Wakil Bupati Rendi Solihin turun langsung menemui warga terdampak, bergantian memeluk para korban kebakaran, dan menyampaikan belasungkawa mendalam.
Kehadiran pimpinan daerah ini menjadi penegasan bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi musibah yang menimpa warganya. Dalam kunjungan ke lokasi kebakaran di RT 21 Desa Sungai Meriam, Aulia menegaskan bahwa pemerintah daerah hadir untuk mendampingi korban, baik dalam masa darurat maupun pemulihan ke depan.
“Yang bisa kita lakukan bagaimana saudara kita yang tertimpa musibah agar dikuatkan melanjutkan aktivitas ke depannya. Saya harap stakeholder di kecamatan dapat membantu kebutuhan keseharian mereka. Bapak ibu tidak sendiri, kami pemerintah akan membersamai para korban kebakaran ini,” ujarnya, Minggu (14/12/2025).
Ia menekankan pentingnya kolaborasi seluruh unsur di tingkat kecamatan untuk memastikan kebutuhan dasar korban terpenuhi, mulai dari logistik, tempat tinggal sementara, hingga pendampingan pascabencana.
Tiga Bocah Meninggal Saat Kebakaran Terjadi
Diberitakan sebelumnya, tangis pilu Rosi pecah di antara puing-puing kebakaran yang melanda Gang Muli atau Sungai Purun RT 21, Desa Sungai Mariam, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Kamis (11/12) kemarin. Bagi perempuan itu, yang hilang bukan sekadar barang-barang atau dinding rumah tetangga yang luluh lantak, melainkan tiga bocah kecil yang selama ini meramaikan hari-harinya: Abdul Afif Alfarizi (6), Abizar Ramadani (4), dan si bungsu Aninda Cahaya Putri Dewinda (1).
Ketiganya adalah anak dari Winda Amelia Putri, tetangga yang baru beberapa bulan tinggal di kontrakan tersebut. Namun bagi Rosi, mereka jauh lebih dari sekadar anak tetangga. “Mereka hiperaktif. Saya sering urus mereka kalau mamanya capek,” ucapnya lirih, sambil mengusap air mata yang tak henti menetes.
Jamila, ibu Rosi sekaligus tetangga dekat keluarga korban, juga mengenal baik Winda. “Aman saja dia, baik orangnya,” katanya. Menurut Jamila, keluarga kecil itu hidup layaknya keluarga lain, meski sesekali ada dinamika rumah tangga seperti umumnya.
Namun nahas, saat kebakaran terjadi, baik Jamila maupun Rosi tidak berada di rumah. Jamila sedang membantu iparnya berjualan, sementara Rosi sedang melayat ke rumah tetangga. “Saya tidak ada saat kejadian, anak saya juga tidak ada,” ujarnya. Rosi menuturkan, Winda baru saja keluar rumah beberapa menit sebelum api berkobar. Ia baru mengetahui kebakaran setelah mendapat telepon dari warga.
“Baru beberapa menit dia keluar, dia ditelepon keluarga bahwa di sini ada kebakaran,” jelas Rosi. “Dia (Winda) tidak tahu ke mana saat itu,” tambahnya. Kepergian tiga malaikat kecil itu menyisakan luka yang dalam bagi warga sekitar, terlebih bagi Rosi yang selama ini begitu dekat dengan mereka.
Minim Kesiapsiagaan
Kebakaran besar itu tidak hanya menghanguskan 16 bangunan, tetapi juga membuka mata pemerintah kecamatan tentang lemahnya kesiapsiagaan warga terhadap bahaya kebakaran. Camat Anggana, Rendra Abadi, mengaku terpukul melihat rumah-rumah warga rata dengan tanah hanya dalam hitungan menit. “Api cepat menjalar karena rumah-rumah di sana berbahan kayu. Relawan dan pemadam sudah bergerak, tapi situasinya sangat cepat berubah,” ujarnya.
Rendra menilai tragedi ini harus menjadi momentum memperkuat perlindungan kebakaran di tingkat RT. Ia menegaskan bahwa perlengkapan pemadaman dini masih jauh dari memadai. “Ini menjadi evaluasi besar bagi kami. Ke depannya, setiap RT harus punya mesin pemadam portable. Setidaknya ada peralatan awal sambil menunggu bantuan datang,” tegasnya.
Asal Api
Kebakaran diduga bermula dari salah satu rumah kontrakan enam pintu yang saat kejadian dalam keadaan terkunci. Tiga anak yang berada di dalam bangunan tersebut tidak sempat menyelamatkan diri ketika api membesar. Warga pertama kali melihat asap keluar dari celah bangunan, lalu berupaya memadamkan api dengan alat seadanya sebelum petugas tiba.
Proses pemadaman berlangsung hampir dua jam dan melibatkan banyak relawan, seperti Barokah Perkasa Grup, MPS, Relawan Sudomulyo, Sungai Lais, serta Sei Kapih Samarinda. Rendra mengapresiasi kerja keras relawan, tetapi menegaskan bahwa ketergantungan kepada relawan saja tidak cukup. “Kita harus kuatkan dari bawah. Kalau tiap RT punya alat, setidaknya api bisa ditahan sambil menunggu bantuan,” katanya.
Penyelidikan Berlanjut
Polisi masih menyelidiki sumber api serta kemungkinan adanya unsur kelalaian. Sementara itu, pemerintah kecamatan mulai mendata kerugian dan memfasilitasi kebutuhan mendesak keluarga korban. “Kami turut berduka dan memastikan keluarga korban tidak menghadapi ini sendirian,” tutup Rendra.
Labfor Telusuri Asal Api
Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Surabaya bergerak cepat dengan turun langsung ke lokasi pasca kebakaran yang terjadi di Gang Muli atau Sungai Purun RT 21, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Kamis (11/12) lalu. Investigasi dilakukan pada Jumat (12/12) untuk mengungkap penyebab pasti kebakaran yang menewaskan tiga bocah di rumah kontrakan tersebut.
Pemeriksaan berlangsung mulai pukul 13.30 WITA hingga sekitar pukul 16.00 WITA. “Tim Labfor Polri berjumlah tiga orang tiba pukul 13.30 WITA, dan proses investigasi masih berlangsung,” ujar Alif, Bhabinkamtibmas Desa Sungai Meriam, Anggana. Pantauan Tribun Kaltim di lokasi kejadian menunjukkan dua petugas mengenakan pakaian bertuliskan Labfor Polri, didampingi tim Inafis Polres Kutai Kartanegara.
Mereka secara hati-hati menggali puing-puing bangunan yang hangus untuk mencari barang bukti. Setelah lebih dari dua jam bekerja, tim Labfor menemukan dan membawa sejumlah barang bukti, yang dibungkus dengan plastik bening sebelum dimasukkan ke tas berukuran sedang. Barang bukti tersebut kemudian dibawa ke laboratorium forensik untuk diuji lebih lanjut, guna mengungkap penyebab pasti kebakaran yang merenggut tiga nyawa tersebut.











