Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Cek perusahaan sawit di Sumatra yang terdampak banjir



JAKARTA — Banyak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan pengelolaan crude palm oil (CPO) memiliki kebun yang luas di Pulau Sumatra. Kebun-kebun ini tersebar di berbagai wilayah, termasuk beberapa daerah yang baru saja terkena dampak bencana banjir.

Berdasarkan penelusuran, salah satu emiten yang memiliki perkebunan di Sumatra adalah PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP), yang merupakan bagian dari Grup Salim. Berdasarkan laporan tahunannya, LSIP memiliki perkebunan kelapa sawit yang sebagian besar berada di daerah pedesaan Sumatera dan Kalimantan.

LSIP menyatakan bahwa lahan tertanam inti mereka di Provinsi Sumatera Utara mencapai 37.228 hektar, sementara di Sumatera Selatan mencapai 49.518 hektar. Corporate Secretary LSIP, Fajar Triadi, menjelaskan bahwa area yang terdampak genangan air akibat banjir saat ini hanya sekitar 2% dari total lahan di Sumatera Utara, dan kondisinya terus membaik. Banjir juga melanda beberapa provinsi lain seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

“Kami tidak melihat dampak signifikan dari banjir terhadap aspek finansial, fasilitas produksi, atau kegiatan operasional perseroan,” ujar Fajar dalam keterbukaan informasi BEI.

Dia menambahkan bahwa LSIP terus memantau kondisi di lapangan untuk mengantisipasi segala risiko dan memastikan keselamatan serta kesejahteraan karyawan yang bekerja di lokasi tersebut.

Selain LSIP, ada juga PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) yang memiliki perkebunan di Pulau Sumatra. AALI memiliki dua perusahaan yang beroperasi di Aceh, yaitu PT Perkebunan Lembah Bhakti dan PT Karya Tanah Subur. Selain itu, AALI juga memiliki entitas anak di Provinsi Riau.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan AALI, Tinging Sukowignjo, menjelaskan bahwa AALI dan entitas dalam grup tidak memiliki fasilitas produksi atau operasional yang terdampak oleh banjir di Pulau Sumatra.

“Tidak ada informasi penting lainnya yang dapat memengaruhi kelangsungan usaha atau harga saham perseroan,” ujarnya.

Emiten lain yang juga memiliki perkebunan di Pulau Sumatra adalah PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO). SGRO memiliki total lahan tertanam sebesar 79.000 hektar di wilayah Lampung dan Sumatera Selatan.

PT Triputra Agro Lestari Tbk. (TAPG) juga memiliki perkebunan dan pabrik kelapa sawit serta karet di Jambi. Produksi Tandan Buah Segar (TBS) dari wilayah Sumatra hanya merupakan bagian kecil dari seluruh produksi TAPG.

Sementara itu, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT), yang merupakan emiten sawit afiliasi Ciliandra Fangiono, memiliki kebun di Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. ANJT memiliki kebun sawit seluas 9.988 hektar di Binanga dan 9.412 hektar di Padang Sidempuan.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan ANJT, Hilman Lukito, menjelaskan bahwa kebun ANJA berlokasi di Binanga dan ANJAS berlokasi di Padang Sidempuan. Meskipun kebun ANJAS mengalami gangguan akibat curah hujan tinggi dan genangan air, seluruh fasilitas tetap dalam kondisi aman.

Menurut Direktur PT Rumah Para Pedagang, Kiswoyo Adi Joe, jika kebun tidak kebanjiran, maka produksi sawit tidak akan menjadi masalah. “Apabila kebunnya kebanjiran, itu kan tidak bisa panen, maka produksi turun. Ketika produksi turun, maka harga tetap di atas,” ujarnya.

Bagi tahun depan, Kiswoyo melihat harga komoditas CPO masih bisa berada di atas RM4.000, karena produksi CPO Indonesia tidak meningkat.

Di lantai bursa, saham-saham emiten sawit sejak awal tahun sampai hari ini, Senin (15/12/2025), tercatat naik secara signifikan. Saham LSIP telah menguat 16,92%, TAPG naik 94,77%, AALI naik 20,97%, SGRO naik 251,64%, dan ANJT naik 148,95%.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *