Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Daerah  

Banjir Ancam Rumah di Tiban GPI Akibat Aliran Air Tersumbat Mangrove

Masalah Pengairan di Kawasan Tiban Indah, Batam

Kawasan Tiban Indah, Sekupang, Batam menghadapi masalah pengairan yang tidak jelas. Hal ini mengancam dua perumahan yang berada di kawasan tersebut, yaitu Perum GPI Cluster Anggrek dan Queen Southlink yang terletak tepat di samping GPI Anggrek.

Tiban Indah merupakan kompleks perumahan warga yang terdiri dari sekitar lima perumahan. Namun, pengairan irigasi di kawasan tersebut tidak lancar. Ditambah lagi dengan penimbunan kawasan hutan mangrove beberapa waktu lalu, air terpaksa harus berputar-putar, akhirnya menyebabkan genangan yang masuk ke permukiman warga.

Hingga kini, solusi dari permasalahan tersebut belum terselesaikan. Sebelumnya, warga sempat memprotes penimbunan hutan mangrove yang ada di belakang rumah mereka. Akibat penimbunan tersebut, air terpaksa harus mengalir berputar-putar, sehingga saluran air tidak lancar. Saat hujan lebat, air akan meluap dan masuk ke permukiman warga.

Endro, warga sekitar, menjelaskan bahwa permasalahan utama adalah pembuangan air yang menuju ke perumahan Queen Southlink. “Di sana (ujung) sudah ditutup, air terpaksa harus berbelok ke kanan dan belok lagi ke kiri baru masuk ke sungai. Kalau curah hujan tinggi, pasti air ini sebentar meluap. Karena air dipaksa untuk berputar-putar,” ujarnya.

Sebagai warga, Endro merasa tidak bisa berbuat banyak karena penguasa lahan tidak mengizinkan aliran air ini dibuka. Antara pemilik lahan perumahan satu dan lainnya beda pengembang. Namun, lokasi tersebut beberapa kali tergenang banjir, terutama saat ini sudah ada pembangunan SMA 29 Batam. Debit air dari sekolah itu besar dan semakin membuat beban warga GPI Cluster Anggrek.

Warga berharap ada tindakan dari Pemerintah Kota Batam untuk pembuatan aliran air langsung ke laut. Jika itu dilakukan, permasalahan drainase di kawasan itu akan aman dan tidak ada lagi banjir di sana. “Jalan satu-satunya itu ya aliran air ini dibuka sampai ke laut. Itu pembuangan terakhir. Tapi kita teriak pun enggak bisa, karena pengembang di sana enggak mau membuka. Kita sekarang ini hanya berharap sama pemerintah saja, biar dibukakannya jalan itu,” tegas Endro.

Dampak Pembangunan SMA 29 Batam, Warga Kebanjiran

Salah satu wilayah yang terdampak banjir di Kota Batam berada di RT 07/RW 10, Kelurahan Tiban Indah, Kecamatan Sekupang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Banjir di kawasan tersebut diduga kuat dipicu pembangunan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 29 Batam, khususnya saat pengerjaan tembok sekolah yang menutup saluran drainase warga.

Akibat tertutupnya saluran air, limpasan air hujan tidak lagi mengalir sebagaimana mestinya dan justru meluap hingga menggenangi rumah-rumah warga yang berada di sekitar sekolah.

Ketua RT 07/RW 10 Tiban Indah, Wandi, mengatakan pihaknya sudah berulang kali menyampaikan keluhan kepada kontraktor pelaksana pembangunan SMAN 29 Batam. Namun hingga saat ini, keluhan tersebut belum mendapat tindak lanjut yang jelas. “Kami sudah beberapa kali komplain. Tapi kontraktor selalu berdalih bahwa yang bertanggung jawab adalah pihak sekolah, dalam hal ini kepala sekolah,” ujar Wandi.

Menurut Wandi, sebelum pembangunan SMAN 29 Batam dilakukan, sistem drainase di wilayah tersebut berfungsi dengan baik dan tidak pernah menimbulkan banjir. Namun sejak pembangunan tembok sekolah, saluran air rusak bahkan tertutup total. “Sekarang salurannya sudah tidak ada. Setiap hujan deras, air dari area sekolah langsung mengalir ke rumah warga. Dampaknya cukup parah,” jelasnya.

Selain menyebabkan banjir, pembangunan sekolah tersebut juga berdampak pada meningkatnya debit air ke permukiman warga karena berkurangnya area resapan air di sekitar lokasi. Permukaan tanah yang sebelumnya terbuka kini tertutup bangunan dan beton, sehingga air hujan langsung mengalir tanpa terserap.

Wandi mengaku telah berupaya menghubungi pihak sekolah, namun hingga kini baru sebatas janji tanpa realisasi perbaikan di lapangan. Ia berharap pihak terkait segera mengambil langkah konkret sebelum kondisi semakin memburuk. “Kami mendukung penuh pembangunan sekolah. Warga juga ikut menjaga lingkungan sekolah. Tapi jangan sampai pembangunan ini justru merugikan masyarakat sekitar,” tegasnya.

Jika dibiarkan berlarut-larut, warga khawatir banjir akan semakin parah, terutama saat intensitas hujan tinggi, dan berpotensi menimbulkan kerugian lebih besar. “Jangan tunggu sampai ada korban. Sekarang sudah musim hujan, dan setiap hujan deras rumah warga pasti kebanjiran,” pungkas Wandi.

Anggota DPRD Batam Turun ke Lapangan

Keluhan warga terkait banjir di Batam itu langsung mendapat perhatian dari anggota DPRD Batam, Risky Aji Perdana. Anggota Komisi III DPRD Batam itu turun langsung ke lokasi banjir pada Senin (15/12/2025) sekira pukul 10.00 WIB, saat hujan masih mengguyur kawasan tersebut.

Di lokasi, Risky Aji mendengarkan langsung keluhan warga yang menyebutkan setiap hujan deras, air dari lingkungan sekolah meluap ke permukiman akibat saluran drainase yang tertutup. “Kami sangat mendukung pembangunan SMAN 29 ini. Namun pembangunan harus tetap memperhatikan utilitas lingkungan, terutama saluran drainase, apalagi sekarang sudah masuk musim penghujan,” ujar Risky Aji Perdana.

Risky menegaskan, penutupan saluran drainase dapat berdampak serius bagi masyarakat, mulai dari banjir, genangan air, hingga potensi munculnya penyakit akibat berkembangnya nyamuk. “Kalau drainase tidak segera diperbaiki, dampaknya akan meluas. Ini tidak boleh diabaikan,” kata Risky.

Risky Aji juga menyampaikan SMAN 29 Batam berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Pemprov Kepri). Oleh karena itu, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau (Disdik Kepri) serta pihak terkait agar permasalahan drainase tersebut segera ditangani. “Kehadiran kami di sini sebagai bentuk respon atas keluhan warga. Kami akan berkoordinasi dengan pihak provinsi dan kontraktor agar saluran drainase segera diperbaiki,” kata Risky.


Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *