Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Nurhayati Subakat di Balik 40 Tahun Paragon Corp Meraih Penghargaan BIG 40

Sejarah Perjalanan Paragon Corp dalam Industri Kosmetik Halal

PT Paragon Technology and Innovation (Paragon Corp) telah menjadi pelopor dalam hadirnya kosmetik halal di Indonesia. Di tengah perayaan 40 tahun perjalanan Bisnis Indonesia, Paragon Corp menerima penghargaan BIG 40 Awards untuk kategori Post-Pandemic Beauty Industry Pioneer. Penghargaan ini memberikan apresiasi terhadap kontribusi luar biasa yang telah diberikan oleh Paragon Corp bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial di Indonesia.

BIG 40 Awards bukan hanya sekadar seremoni penghargaan, tetapi juga menjadi wujud refleksi perjalanan bangsa dalam membangun ekosistem bisnis yang tangguh. Setiap penerima penghargaan mewakili kisah inspiratif tentang visi, kepemimpinan, dan ketekunan yang menggerakkan perubahan positif di sektor masing-masing. Tahun ini juga menjadi momen penting bagi Paragon Corp karena usianya yang ke-40 tahun.

Pendirian dan Perkembangan Paragon Corp

Paragon Corp didirikan oleh Nurhayati Subakat, seorang perempuan kelahiran 27 Juli 1950. Ia resmi mendirikan PTI pada 28 Februari 40 tahun silam. Nurhayati tidak hanya dikenal sebagai pengusaha andal, tetapi juga seorang filantropis Indonesia. Besar di Padang, Sumatra Barat, ia menjalani pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Farmasi. Ia berhasil menjadi lulusan terbaik S1 Farmasi ITB dan meraih gelar sarjananya pada 1975.

Setelah lulus, Nurhayati memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil, Padang. Tiga tahun kemudian, pada 1978, ia menikah dan pindah bersama sang suami ke Jakarta dan bekerja di perusahaan kosmetik Wella sebagai staf pengendalian mutu. Pengalamannya sebagai lulusan farmasi membuatnya memiliki keinginan besar untuk memulai bisnis sendiri.

Awal Mula Bisnis dan Pertumbuhan Perusahaan

Pada 1985, Nurhayati bersama suaminya memulai usaha industri rumahan yang memproduksi produk perawatan rambut bernama Pusaka Tradisi Ibu. Produk pertamanya adalah perawatan rambut dengan merek Putri. Lima tahun kemudian, pada Desember 1990, ia mulai memperbesar bisnisnya dengan mendirikan pabrik pertama di Kawasan Industri Cibodas.

Lewat pabrik barunya, ia juga mulai menciptakan sejumlah produk kosmetik dan beberapa merek baru, termasuk “Wardah” yang artinya “Mawar” dalam bahasa Arab. Merek itu diluncurkan pada 1995 dan menjadi pelopor kosmetik halal di Indonesia. Nurhayati awalnya memperkenalkan produk Wardah mulai dari pesantren dan menjualnya dari pintu ke pintu menggunakan rencana pemasaran bertingkat.

Inovasi dan Ekspansi Bisnis

Tahun-tahun berganti, PTI terus berinovasi dan meluncurkan merek kosmetik lainnya, seperti Make Over sebagai kosmetik untuk pasar profesional, dan Emina untuk remaja. Kini, bahkan ada produk perawatan tubuh khusus pria, lewat merek Kahf. Pada 2011, PT Pusaka Tradisi Ibu mengganti namanya menjadi PT Paragon Technology and Innovation (PTI) dan kini telah menaungi sembilan merek seperti Putri, Wardah, Make Over, Emina, Kahf, Laboré, Biodef, Instaperfect, dan Crystallure.

Meskipun dengan banyaknya merek yang dinaungi, Wardah masih menjadi kontributor penyumbang pendapatan utama dengan pangsa 70% dari total pendapatan perusahaan. Hingga 40 tahun berdiri, Paragon juga masih berstatus sebagai perusahaan tertutup, sehingga valuasi kekayaan keluarga Nurhayati yang mempekerjakan 12.000 orang itu hanya perkiraan. Majalah Forbes memperkirakan kekayaan Nurhayati sekitar US$1,5 miliar atau sekitar Rp24 triliun pada 2024.

Rencana Ekspansi dan Pengelolaan Bisnis

Ingin semakin memperbesar bisnisnya, Paragon juga berencana untuk berekspansi ke luar negeri. Saat ini produknya hanya tersedia di Indonesia, Malaysia, dan Bangladesh. Adapun, Nurhayati tak lagi mengurus langsung usahanya. Kini ketiga anaknya telah terlibat dalam bisnis ini. Putranya, Salman, menjabat sebagai direktur pemasaran, sementara putra lainnya, Harman, berfokus pada operasional, dan putrinya, Sari Chairunnisa, bekerja di bagian riset dan pengembangan.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *