Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Asuransi Wisata Wajib

Kematian Turis Tidak Boleh Jadi Hal Biasa

Kematian seorang turis Cina di sebuah hostel di Bali akibat dugaan keracunan insektisida kembali mengungkapkan sisi gelap dari pariwisata Indonesia: standar keselamatan yang lemah dan tidak adanya perlindungan bagi wisatawan asing. Kasus ini bukan sekadar musibah individu, melainkan menjadi alarm bahwa Indonesia terlalu longgar dalam melindungi para pengunjung dan terlalu pasif dalam menjaga reputasi pariwisata nasional yang menjadi andalan devisa. Tanpa regulasi yang kuat, tragedi serupa akan terulang, dan setiap insiden akan menjadi noda baru dalam citra internasional kita.

Di banyak negara maju, perlindungan wisatawan bukan pilihan—tetapi kewajiban. Uni Eropa, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru dengan tegas mensyaratkan asuransi kesehatan bagi turis asing. Warga Indonesia yang ingin mengajukan visa Schengen, misalnya, diwajibkan membeli asuransi perjalanan yang mencakup perlindungan kesehatan minimal 30.000 euro. Pengalaman penulis ketika melakukan perjalanan sebulan di Eropa sangat jelas: premi asuransi yang dibeli mencapai sekitar dua juta rupiah. Tidak murah, tetapi itu bagian dari standar keselamatan sebuah negara yang serius menjaga wisatawan dan juga memastikan biaya kesehatan darurat tidak menjadi beban negara tuan rumah.

Indonesia justru membiarkan wisatawan datang tanpa perlindungan apa pun. Tidak ada kewajiban asuransi, tidak ada sistem pengecekan, dan tidak ada penegakan standar keselamatan akomodasi murah. Hostel, losmen, dan homestay banyak yang beroperasi dengan pengawasan minimal, sementara bahan kimia seperti insektisida bisa digunakan sembarangan tanpa panduan keselamatan. Ketika terjadi kecelakaan, negara hanya bisa mengangkat tangan, sementara keluarga korban menanggung kehilangan dan pemerintah daerah menanggung sorotan negatif di media global.

Padahal, Indonesia tidak kekurangan contoh. Kasus turis keracunan alkohol oplosan, turis jatuh dari tebing tanpa pengaman, wisatawan tenggelam akibat minimnya penjaga pantai, hingga kecelakaan di wahana wisata air sudah sering terjadi. Di tiap tragedi, selalu muncul kalimat yang sama: “Tidak ada asuransi.” Dan di tiap kasus, negara tidak memiliki mekanisme yang tegas untuk mencegah tragedi berikutnya.

Asuransi Wisatawan: Standar Negara Modern

Kewajiban asuransi turis bukan hanya urusan kesehatan—ini menyangkut standar negara modern. Negara yang serius melindungi wisatawan akan memastikan setiap pendatang memiliki jaminan kesehatan, sehingga ketika kecelakaan terjadi, tidak ada proses berbelit, tidak ada kebingungan biaya, dan tidak ada drama diplomatik. Asuransi juga memberi kepastian pada rumah sakit, sehingga layanan darurat dapat segera diberikan tanpa menunggu deposit, yang sering kali memperlambat penanganan medis di lapangan.

Selain itu, kewajiban asuransi akan mendorong penyedia akomodasi, khususnya hostel dan losmen murah, untuk meningkatkan standar keselamatan. Ketika wisatawan memiliki asuransi, setiap klaim yang muncul akibat kelalaian pengelola akan menimbulkan implikasi hukum dan finansial. Hal itu akan menciptakan tekanan alami agar pelaku pariwisata memperbaiki diri—membersihkan ventilasi, menyimpan bahan kimia dengan aman, memperhatikan kualitas air, memperbarui instalasi listrik, dan melatih staf menghadapi keadaan darurat. Pariwisata yang modern tidak dibangun dengan imbauan moral, tetapi dengan regulasi dan insentif yang jelas.

Argumen yang Tidak Valid

Mereka yang menolak kewajiban asuransi sering berargumen bahwa kebijakan ini akan mengurangi kunjungan wisatawan. Namun, kenyataannya, negara-negara yang mewajibkan asuransi justru mengalami pertumbuhan pariwisata stabil. Wisatawan global tidak keberatan membayar untuk keselamatan mereka sendiri, selama negara yang mereka kunjungi memberikan kepastian layanan, kenyamanan, dan standar keamanan yang konsisten. Lagi pula, wisatawan yang menolak membeli asuransi bukanlah segmen yang akan menopang pariwisata jangka panjang.

Langkah yang Harus Diambil

Indonesia harus berani mengambil langkah ini. Bali, destinasi yang paling terdampak insiden-insiden keselamatan, harus menjadi pionir penerapan mandatory tourist insurance. Penerapan bisa dimulai melalui tiket pesawat, hotel check-in, atau sistem e-visa. Besaran premi bisa disesuaikan, tetapi setidaknya cukup untuk menutup biaya darurat medis dan evakuasi. Kebijakan ini bukan beban, melainkan investasi untuk melindungi industri pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

Kematian turis Cina di Bali seharusnya tidak berhenti sebagai berita duka. Harus ada perubahan. Oleh karena itu, kewajiban asuransi kesehatan bagi turis asing adalah langkah paling sederhana untuk memulai perubahan besar itu.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *