Pernyataan Cak Imin Terkait Banjir Sumatera Menarik Perhatian Publik
Pernyataan yang dikeluarkan oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia, Muhaimin Iskandar atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Imin, mengenai bencana banjir dan longsor di Sumatera menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap kebijakan dan langkah-langkah yang terkait dengan perlindungan lingkungan.
Dalam sebuah acara workshop kepala sekolah SMK untuk Program SMK Go Global di Kota Bandung, Cak Imin merespons situasi bencana yang sedang melanda Sumatera. Ia menyampaikan bahwa dirinya telah mengirim surat kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Dalam suratnya, ia meminta agar mereka bersama-sama melakukan evaluasi total terhadap seluruh kebijakan dan langkah-langkah yang ada.
Cak Imin juga menyebutkan istilah “tobat nasuha” dalam konteks bencana yang terus berulang. Istilah ini merujuk pada tobat yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan tanpa mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan. Selain itu, ia menyampaikan bahwa kiamat bukanlah sesuatu yang sudah dekat, tetapi kiamat sudah terjadi akibat kelalaian manusia sendiri.
Perluasan Tanggung Jawab
Pernyataan Cak Imin langsung mendapat respons dari Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto. Ia mengingatkan Cak Imin agar tidak saling menyalahkan terkait banjir bandang dan longsor di Sumatera. Menurut Panggah, pernyataan tersebut tidak tepat dan sangat tendensius karena tidak memberikan solusi terkait akar masalah secara komprehensif.
Menurutnya, pemerintah seharusnya tidak melempar tanggung jawab antar kementerian. Yang dibutuhkan saat ini adalah proses penanganan dan langkah-langkah pencegahan secara komprehensif agar dapat meminimalisasi terjadinya bencana di masa depan.
Panggah juga menyatakan bahwa bencana longsor dan banjir yang terjadi di mana-mana salah satunya disebabkan oleh penggundulan hutan. Ia menjelaskan bahwa hutan di Jawa seluas 2,4 juta hektare saat ini separuhnya sudah menjadi lahan terbuka, akibat dari permasalahan pada masa lalu yang tidak kunjung diselesaikan secara komprehensif.
Penekanan pada Evaluasi dan Kebijakan Lingkungan
Di bagian lain, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga menyoroti pernyataan Cak Imin yang akan melakukan pembenahan menyeluruh terhadap kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan lingkungan. Melalui akun X (Twitter) @susipudjiastuti, Susi menegaskan bahwa ia akan menagih janji Cak Imin.
Susi menilai bahwa penyusunan kebijakan harus melibatkan masyarakat adat dan warga yang tinggal di sekitar kawasan sumber daya alam. Ia menilai bahwa keterlibatan mereka penting untuk memperoleh kajian komprehensif mengenai kondisi lingkungan dan potensi kerusakan yang mengancam.
Prioritas Pemerintah dalam Penanganan Bencana
Cak Imin menjelaskan bahwa saat ini pemerintah pusat menetapkan tiga prioritas utama dalam menangani bencana longsor dan banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Prioritas pertama adalah pemenuhan kebutuhan darurat dan logistik yang harus segera dikirimkan ke seluruh lokasi terdampak. Prioritas kedua mencakup pemulihan infrastruktur agar yang terisolir bisa tertangani, termasuk langkah-langkah agar lalu lintas logistik bisa mudah. Sementara itu, prioritas ketiga mencakup upaya penyelamatan terhadap seluruh korban hilang, meninggal, maupun warga yang terpaksa mengungsi.
Korban Meninggal Dunia Capai 708 Jiwa
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Selasa (2/12/2025) sore mencapai 708 jiwa. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan selain korban meninggal dunia, tercatat 499 orang masih hilang.
Ia merinci, di Sumatera Utara korban meninggal dunia mencapai 294 jiwa dan 155 jiwa lainnya dilaporkan masih hilang. Di Provinsi Aceh, hingga hari ini tercatat sebanyak 218 jiwa meninggal dunia dan 227 orang lainnya masih dilaporkan hilang. Sementara itu, di Sumatera Barat, dilaporkan 196 jiwa meninggal dunia dan 117 jiwa lainnya hilang.
Total korban jiwa per hari ini pukul 16.00 WIB, 196 jiwa meninggal dunia, kemudian 117 jiwa hilang. BNPB bersama pemerintah daerah, kementerian, dan lembaga terkait bersatu padu untuk bisa melakukan akselerasi dari tanggap darurat dan pemulihan di tiga provinsi terdampak banjir dan longsor ini.











