Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik

Tegas! Dedi Mulyadi Larang Study Tour di Libur Akhir Tahun 2025, Ini Alasannya

Larangan Study Tour di Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tetap mempertahankan kebijakan larangan study tour pada libur akhir tahun 2025. Meskipun aturan ini sempat menimbulkan pro dan kontra, Dedi menjelaskan alasan utamanya.

Alasan Utama Larangan Study Tour

Dedi Mulyadi menyatakan bahwa study tour yang mengajak siswa melakukan perjalanan wisata selama liburan tidak lagi sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Ia menilai kegiatan tersebut bisa memberatkan orang tua karena biaya tambahan yang tidak diperlukan.

“Tetap yang namanya study tour yang memobilisasi siswa yang didalamnya melakukan wisata, kita tetap akan kita larang,” ujar Dedi.

Ia juga menegaskan bahwa larangan ini bukan untuk membatasi hak siswa, melainkan untuk mencegah beban ekonomi yang berlebihan bagi orang tua. Menurutnya, penghematan biaya pendidikan sangat penting dalam situasi perekonomian yang sedang menurun.

Pengaruh terhadap Pariwisata

Beberapa pihak khawatir bahwa larangan study tour akan berdampak negatif terhadap sektor pariwisata di Jawa Barat. Namun, Dedi membantah anggapan tersebut. Ia menyatakan bahwa jumlah kunjungan wisata ke Jawa Barat justru meningkat sejak aturan ini diberlakukan.

“Kemudian yang berikutnya adalah ternyata tingkat kunjungan pariwisata di Jawa Barat paling tinggi dalam 5 tahun terakhir. Jadi, enggak ada kaitan dengan bahwa study tour menurunkan ke pariwisata,” kata Dedi.

Ia juga menekankan bahwa aturan ini hanya berlaku untuk study tour sekolah, bukan untuk industri pariwisata secara keseluruhan. Dedi menegaskan bahwa kegiatan wisata lain tetap dapat berjalan normal.

Protes dari Pelaku Wisata

Meski begitu, aturan ini mendapat protes dari ratusan sopir, kernet bus, serta pelaku usaha wisata. Mereka menuntut agar aturan tersebut dicabut karena dinilai merugikan sektor pariwisata. Aksi unjuk rasa dilakukan di depan Gedung Sate, Bandung.

Dedi Mulyadi menanggapi aksi tersebut dengan tegas. Ia menilai bahwa study tour selama ini hanya berkedok kegiatan rekreasi. Ia menyatakan bahwa kebijakan ini tetap akan dipertahankan.

“Dengan demonstrasi itu, semakin jelas bahwa kegiatan study tour sebenarnya kegiatan piknik,” ujar Dedi lewat akun TikTok-nya.

Komitmen Terhadap Orang Tua Siswa

Dedi Mulyadi juga menyatakan komitmennya untuk menjaga ketenangan orang tua siswa. Ia ingin meminimalkan pengeluaran di luar kebutuhan pokok pendidikan.

“Insya Allah saya tetap berkomitmen menjaga ketenangan orang tua siswa agar tidak terlalu banyak pengeluaran di luar kebutuhan pendidikan,” tuturnya.

Latar Belakang Larangan Study Tour

Aturan pelarangan study tour di Jawa Barat tidak muncul begitu saja. Kebijakan ini didorong oleh serangkaian kecelakaan yang dialami rombongan pelajar. Puncaknya adalah kecelakaan fatal yang terjadi pada 11 Mei 2024.

Bus yang ditumpangi siswa SMK Lingga Kencana Depok mengalami rem blong di kawasan Ciater, Subang. Sebanyak 11 orang tewas dalam peristiwa tersebut, termasuk 9 siswa, 1 guru, dan 1 warga.

Tragedi ini menjadi titik penting yang menyoroti buruknya keselamatan perjalanan wisata sekolah. Setelah kejadian tersebut, banyak pemerintah daerah melakukan evaluasi besar-besaran terhadap pelaksanaan study tour dan acara perpisahan siswa.

Perhatian kemudian tertuju pada kelayakan armada bus, perizinan teknis, hingga beban biaya bagi orang tua.

Surat Edaran dan Aturan Lanjutan

Usai kecelakaan Ciater, Penjabat Gubernur Jawa Barat saat itu, Bey Triadi Machmudin, menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 64/NK.03/DIKDISDIK yang melarang study tour ke luar daerah. Surat tersebut menganjurkan kegiatan dilakukan di kota atau kabupaten masing-masing demi keselamatan dan penghematan biaya.

Sejumlah daerah kemudian mengikuti kebijakan tersebut dengan memperketat atau bahkan melarang sementara kegiatan study tour.

Kini setelah resmi menjabat sebagai gubernur, Dedi Mulyadi tetap mempertahankan aturan itu meski mendapat kritik dari sebagian pelaku pariwisata.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *