JAKARTA — Grup Sampoerna sedang mempersiapkan babak baru dalam investasinya setelah melepas saham PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO). Aksi ini dilakukan melalui Twinwood Family Holdings Limited. AGPA Pte. Ltd., anak perusahaan POSCO International Corporation, menjadi pihak yang membeli 65,721% saham SGRO.
POSCO International merupakan perusahaan global asal Korea Selatan yang berada di bawah POSCO Group. Perusahaan ini memiliki portofolio usaha yang mencakup perdagangan, energi, baja, hingga agribisnis. Di Indonesia, POSCO Group terlibat dalam sejumlah sektor strategis, seperti PT Krakatau POSCO di Cilegon serta kemitraan di bidang energi melalui konsorsium Pertamina Hulu Energi North East Java.
Di industri sawit, POSCO International telah hadir sejak 2011 melalui PT Bio Inti Agrindo di Papua Selatan. Perusahaan ini mengoperasikan tiga pabrik pengolahan minyak sawit dengan kapasitas produksi 210.000 ton per tahun. Selain itu, POSCO International juga memiliki fasilitas penyulingan minyak sawit di Balikpapan, Kalimantan Timur, berkapasitas 500.000 ton per tahun.
Sejarah Sampoerna di bisnis perkebunan sawit dimulai pada 7 Juni 1993 saat mendirikan perusahaan dengan nama PT Selapan Jaya. Kemudian, Sampoerna mengakuisisi perusahaan kelapa sawit PT Sungai Rangit di Kalimantan. Aksi akuisisi ini membuat Grup Sampoerna percaya diri untuk melantai di Bursa dengan perusahaan sawit bernama PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO).
Selama lebih dari satu dekade di bisnis kelapa sawit, SGRO telah menunjukkan pertumbuhan bisnis yang signifikan. Per semester I/2021, SGRO memiliki 135.000 hektare kebun kelapa sawit. Dalam laporan 2024, SGRO mencatatkan nilai total aset mencapai Rp10,70 triliun.
Pada semester I/2025, SGRO membukukan pertumbuhan kinerja yang signifikan. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 236,06% year-on-year (YoY), sementara penjualan meningkat 45,18%. Industri kelapa sawit nasional memegang pangsa produksi sekitar 60% secara global, dengan kontribusi ekspor CPO Indonesia mencapai sekitar 50% dari total ekspor dunia.
Kinerja moncer dan prospek positif dari industri kelapa sawit membuat SGRO menjadi magnet bagi perusahaan multinasional, sebelum akhirnya resmi dijual ke anak usaha POSCO International.
Dejavu Divestasi Sampoerna
Aksi divestasi ini seakan menjadi dejavu bagi Grup Sampoerna yang melakukan hal serupa saat melepas bisnis rokok kretek unggulannya, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP).
Jika menengok sejarah, kehadiran Grup Sampoerna di Bursa Efek Indonesia semula diawali pada medio 1990. Saat itu, HMSP melepas 27 juta lembar sahamnya ke publik. Aksi melantai di Bursa pada Agustus 1990 sekaligus menandai 60 tahun Sampoerna telah berdiri sebagai bisnis sigaret di Indonesia.
Pada 1913, Liem Seeng Tee memulai usahanya dengan memproduksi sigaret kretek tangan (SKT). Dji Sam Soe menjadi merek pertama Liem. Baru pada 1930, Liem mendirikan perusahaan dengan nama Sampoerna.
Sejak didirikan hingga 1978, bisnis Sampoerna telah dijalankan oleh tiga generasi keluarga. Generasi kedua masih berfokus pada produk SKT, sementara generasi ketiga yang dipimpin oleh Putera Sampoerna mulai memproduksi sigaret kretek mesin (SKM) dengan merek Sampoerna A.
Setelah melantai di Bursa Efek Indonesia, bisnis Grup Sampoerna kian berkembang hingga menarik perhatian perusahaan rokok asal Swiss, Philip Morris untuk mengakuisisi Sampoerna. Pada 2005, aksi tersebut terjadi dengan 40% saham Sampoerna digenggam Philip Morris.
Pada masa itu, Philip Morris sepakat untuk membeli 40% saham HMSP dengan harga 20% lebih mahal daripada harga perdagangan pada 10 Maret 2005. Dengan harga Rp10.600 per saham, HMSP saat itu meraup total uang senilai Rp18,6 triliun.
Dalam pemberitaan edisi Jumat 18 Maret 2005, Philip Morris saat itu menginginkan 100% saham HMSP. Bahkan, Presiden Philip Morris Asia Pacific Matteo Pellegrini sanggup membayar hingga Rp48 triliun bagi saham HMSP. Namun, kesepakatan saat itu hanya mencapai besaran 40%.
Dua dekade berselang, kini Philip Morris telah menjadi pengendali utama dari PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP), dengan besaran 92,44%. Sisanya, hanya masyarakat warkat dan non-warkat yang menggenggam HMSP dengan besaran masing-masing 0,06% dan 7,5%. Artinya, tidak lagi ada jejak keluarga Sampoerna di bisnis HMSP.
Babak Baru Investasi Sampoerna
Dengan resminya penjualan terhadap saham SGRO, Grup Sampoerna yang telah malang melintang dalam bisnis Tanah Air, mengakhiri perjalanannya di Bursa Efek Indonesia. Artinya, dua perusahaan tercatat, HMSP dan SGRO tidak lagi dimiliki oleh Grup Sampoerna.
Kendati demikian, Sampoerna menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti untuk berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia. Sampoerna mempertimbangkan untuk melakukan eksplorasi bisnis ke sektor lainnya.
“Hal ini juga merupakan kesempatan bagi kami untuk memfokuskan sumber daya kami di lini bisnis saat ini dan menjajaki sektor lainnya yang berpotensi di Indonesia,” kata Presiden Direktur Grup Sampoerna Bambang Sulistyo, Kamis (20/11/2025).
Bambang mengklaim Grup Sampoerna akan tetap berperan dalam perekonomian melalui berbagai lini usaha, seperti PT Bank Sahabat Sampoerna, Sampoerna Kayoe, PT Sampoerna Land, dan Putera Sampoerna Foundation.
Sampoerna, lanjutnya, akan fokus pada lini bisnis strategi saat ini dan mengkaji peluang baru untuk tetap berkontribusi bagi perekonomian Indonesia yang dinilai masih memiliki potensi besar.
“Kami juga tetap akan memajukan pendidikan bangsa melalui entitas PT Sampoerna Foundation, sebagai pilar utama dalam menyongsong Indonesia Emas ke depan,” tutupnya.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











