Awal Mula Kehidupan Berwirausaha
Pada sekitar 15 tahun lalu, saya merasa lelah bekerja di bawah orang lain dan berpikir bahwa membuka usaha sendiri adalah pilihan yang lebih baik. Namun, keputusan untuk meninggalkan pekerjaan tidak bisa dilakukan begitu saja karena ada tanggungan finansial yang harus dipenuhi. Saya memutuskan untuk memulai usaha kecil-kecilan dengan modal dari tabungan yang sudah saya kumpulkan.
Pilihan saya jatuh pada membuka kios teh waralaba. Alasan utama adalah biaya waralabanya bisa dibiayai dari tabungan, yaitu sekitar 7 juta rupiah. Selain itu, rasa teh yang enak dan keberadaannya yang sering terlihat di mall maupun jalanan ramai membuat saya yakin bahwa bisnis ini memiliki potensi. Proses dagangnya juga sederhana, hanya perlu menyeduh teh dan menambahkan perasa sesuai pesanan pelanggan.
Memulai Usaha Teh Waralaba
Kios pertama saya dibuka di depan sebuah minimarket yang berada di dekat perumahan padat. Biaya sewa dan gaji pegawai cukup besar, yaitu hampir 1 juta rupiah per bulan. Meski awalnya ragu, hasil penjualan di minggu-minggu pertama cukup menggembirakan. Hal ini memberi saya semangat untuk mencoba diversifikasi usaha.
Saya memutuskan untuk menyewa kios lain yang menjual baju dan teh di dekat rumah. Untuk menekan biaya operasional, saya mengajak penjual lontong kikil yang biasa berjualan di depan perumahan. Ia setuju dan kios kedua pun dibuka. Kami menjual teh panas dan es teh serta satu paket baju anak-anak yang dibeli dari pabrik konveksi seharga 2,5 juta rupiah.
Tantangan dan Kegagalan
Dua bulan pertama kios Teh P berhasil memberikan keuntungan bersih sebesar satu juta rupiah per bulan. Namun, ketika penjaga kios resign dan diganti orang baru, penjualan mulai menurun. Dua bulan berikutnya, kami memutuskan untuk mengakhiri usaha tersebut karena tidak mampu membayar sewa dan biaya operasional. Alat dan peralatan kios menjadi alat barter.
Usaha kedua juga tidak berjalan lancar. Penjualan teh tidak cukup menutupi biaya operasional, dan baju-baju anak juga kehilangan peminat. Seorang penjaga kios sempat menyarankan agar saya berkonsultasi dengan “orang pintar” agar toko lebih ramai. Namun, saya memilih untuk tidak melakukannya karena tak ingin menyekutukan Allah. Akhirnya, bisnis ini pun berakhir.
Pengalaman dan Pelajaran Berharga
Modal tabungan sebesar 10 juta rupiah habis dalam dua usaha ini, tetapi harapan untuk menggantikan penghasilan sebagai karyawan swasta tidak tercapai. Saya akhirnya bertahan di tempat kerja selama dua tahun lagi.
Pada akhir tahun 2012, saya benar-benar memutuskan untuk mengundurkan diri meskipun belum memiliki penghasilan pengganti. Keputusan ini diambil setelah angsuran KPR saya lunas. Saya mulai bekerja freelance sebagai penulis konten, bahkan sejak masih bekerja di perusahaan sebelumnya.
Kisah suka dan duka bisnis kecil-kecilan ini bahkan sempat terpilih sebagai naskah yang dibukukan dalam antologi Curhat Bisnis.
Bisnis Rumah Tangga Saat Ini
Setelah mengalami kegagalan di masa lalu, saat ini saya berbisnis kecil-kecilan dengan menjual produk-produk homecare. Tempat usaha hanya berada di teras rumah, sehingga tidak perlu menyewa. Pelanggan bisa memesan melalui WhatsApp dan saya antarkan menggunakan sepeda.
Meski jumlah pelanggan terbatas, saya berharap bisnis ini memberikan keberkahan. Yang terpenting, bisnis ini tidak membutuhkan modal besar dan bisa dijalankan dengan sederhana.
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”











