JAKARTA — Tiga emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu memaparkan beragam rencana ekspansif yang akan dijalankan dalam jangka pendek. Langkah agresif dari BRPT, CUAN, dan BREN diharapkan mampu meningkatkan kinerja keuangan perusahaan.
Di level induk usaha, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) sepanjang Januari-September 2025 telah merealisasikan belanja modal senilai US$480 juta atau sekitar Rp8,02 triliun (kurs rupiah Rp16.701 per dolar AS). Direktur Barito Pacific, David Kosasih menjelaskan bahwa penggunaan belanja modal tersebut salah satunya digunakan untuk menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi yang diharapkan anak usaha, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).
“Capex untuk 9 bulan tahun 2025 saat ini kurang lebih sekitar US$480 juta. Mayoritas merupakan penggunaan untuk beberapa proyek, ada pembangunan pabrik, peningkatan kapasitas juga di aset geothermal kami, dan beberapa akuisisi yang kami lakukan di tahun ini,” ujarnya dalam online public expose, Rabu (12/11/2025).
Untuk akuisisi, BRPT melalui anak usahanya PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) tahun ini merampungkan akuisisi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. dari Shell. Akuisisi tersebut ditebus dengan harga US$253,74 juta yang dibayarkan oleh anak usaha TPIA, CAPGC Pte. Ltd. pada 1 April 2025.
Dari jumlah tersebut, TPIA membayar US$202,99 juta, sesuai dengan porsi kepemilikan saham Chandra Asri Capital Pte. Ltd. sebesar 80% di dalam CAPG Pte. Ltd. Sedangkan sisanya, Glencore Asian Holdings Pte. Ltd. yang menggenggam 20% saham CAPGC Pte. Ltd. membayar US$50,74 juta untuk merampungkan transaksi pengambilalihan tersebut.
Setelah transaksi 100% saham Shell Singapore Energy Park Pte. Ltd. sepenuhnya menjadi milik perusahaan joint venture TPIA dan Glencore. CAPGC Pte. Ltd. sebagai pemilik baru mengubah nama perusahaan tersebut menjadi Aster Chemicals and Energy Pte. Ltd. (ACE).
Tak hanya itu, melalui Chandra Asri Group (CAP) perseroan juga melakukan akuisisi jaringan ritel stasiun pengisian bahan bakar Esso milik ExxonMobil di Singapura.
Untuk pembangunan pabrik petrokimia, BRPT melalui TPIA kini tengah membangun Pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Progres pembangunan ini mencapai 33%.
Di bisnis energi terbarukan, Prajogo Pangestu mengandalkan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang berambisi meningkatkan kapasitas pembangkit panas bumi menjadi 1,9 gigawatt (GW) pada 2032.
Untuk mencapai target tersebut, pada 2026 nanti perseroan menyiapkan capital expenditure (capex) sebesar US$250 juta, atau sekitar Rp4,17 triliun (kurs Rp16.677 per dolar AS). Nilai tersebut lebih besar dibanding capex 2025 sebesar US$100 juta.
Direktur BREN Chiam Hsing Chee mengatakan capex yang dialokasikan perseroan tahun depan akan bertambah seiring dengan proyek berjalan yang digarap perusahaan untuk mencapai target penambahan kapasitas pemangkit.
“Kami merencanakan US$250 juta, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun ini. Ini sejalan dengan aktivitas yang kami miliki dengan retrofit pada aset-aset kami serta unit 3 dan 7 [Wayang Windu],” papar Chiam dalam paparan public expose secara daring, Selasa (11/11/2025).
Dalam jangka pendek, Presiden Direktur BREN Hendra Soetjipto mengatakan perseroan menargetkan kapasitas pembangkit listrik panas bumi pada 2026 sebesar 1GW.
“Kemudian akan didorong oleh proyek-proyek geothermal dalam jangka panjang dengan potensi tambahan sebesar 900 MW, sehingga menjadi 1.900 MW pada 2030,” ujarnya.
Dalam skenario terbaik yang diukur BREN, perseroan bakal mendapat tambahan kapasitas 525 MW dalam 7 tahun ke depan sehingga kapasitas panas bumi BREN ditargetkan mampu mencapai 2.430 MW pada 2032.
Saat ini Emiten terafilitasi Prajogo Pangestu tersebut memiliki portofolio pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) dengan kapasitas masing-masing 910 megawatt (MW) dan 79 MW.
Proyek Ekspansi BREN
Untuk sektor energi angin, BREN menargetkan pada 2032 akan mencapai kapasitas 398 MW, dari tambahan masing-masing 220 MW pada 2028 dan 99 MW sisanya dipcapai pada medio 2029-2032.
Untuk mencapai target tersebut, saat ini BREN memiliki empat proyek yang sedang berjalan, terdiri atas dua proyek baru dan dua proyek existing untuk penambahan kapasitas.
Proyek baru tersebut adalah Wayang Windu Unit 3 yang memiliki kapasitas 30 MW. Proyek ini ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026. Kemudian proyek Salak Unit 7 dengan kapasitas 40 MW dan ditargetkan akan rampung kuartal IV/2026.
Untuk proyek existing, ada proyek retrofit Wayang Windu Unit 1 dan 2 dengan tambahan kapasitas mencapai 18,4 MW yang keduanya ditargetkan selesai di kuartal IV 2025. Kemudian, proyek retrofit Darajat Unit 3 dengan tambahan kapasitas 7 MW dan ditargetkan selesai pada 2026.
Ekspansi anorganik yang agresif dilaksanakan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) juga bakal mulai menunjukkan hasil pada 2025 dan 2026.
Dalam paparan publik pada Rabu (12/11/2025), Direktur Cuan Lim Hendra Gunawan mengatakan CUAN melalui Volta Daya Energi Indonesia (VDEI) menyelesaikan akuisisi 90% saham PT Guna Darma Integra (GDI). GDI akan mengembangkan proyek pembangkit listrik berkapasitas 680 megawatt yang berlokasi di kawasan industri terintegrasi Feni Haltim (FHT) Industrial Park, Halmahera Timur, Maluku Utara.
Selain itu, CUAN melalui PT Petrosea Tbk. (PTRO) telah menyelesaikan akuisisi 51% saham di grup Hafar dan 100% saham HBS (PNG) Limited & anak usahanya.
Berdasarkan estimasi perseroan, Grup HBS diperkirakan berkontribusi terhadap pendapatan CUAN sebesar US$83 juta dan menghasilkan EBITDA US$25 juta pada 2026. Pada tahun depan, CUAN juga memperkirakan kontribusi pendapatan dari Grup Hafar US$83 juta dan EBITDA US$28 juta.
Sementara itu, kontribusi aset GDI terhadap perusahaan bakal mencapai US$328 juta pada 2028 dengan EBITDA US$133 juta dan margin EBITDA sebesar 40%.











