Gowa dalam Sorotan: Berita Terkini, Cerita Menarik
Bisnis  

Bedakanlah Nyeri Dada karena GERD dan Serangan Jantung dengan Mudah Cari Tahu Gejalanya

"Kiat Mudah Membedakan Nyeri Dada Akibat GERD dan Serangan Jantung, Kenali Gejalanya!"

Berdasarkan penjelasan dari dr. Vito, ada beberapa hal yang bisa membedakan nyeri dada akibat GERD dan serangan jantung. Pertama, nyeri dada akibat serangan jantung biasanya terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya meningkat secara perlahan. Sedangkan nyeri dada karena GERD cenderung terjadi secara bertahap dan intensitasnya bervariasi.

Selain itu, nyeri dada akibat serangan jantung sering kali menyebar ke bagian tubuh lain seperti lengan, leher, punggung, dan rahang. Sedangkan nyeri dada karena GERD biasanya hanya terjadi di area dada atau ulu hati.

Hal lain yang dapat membedakan adalah faktor pemicu. Nyeri dada akibat serangan jantung biasanya tidak dipengaruhi oleh aktivitas atau makanan tertentu, sedangkan nyeri dada karena GERD sering kali dipicu oleh makanan pedas, asam, atau berlemak.

Untuk itu, penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara nyeri dada akibat GERD dan serangan jantung. Jika mengalami nyeri dada yang tidak kunjung mereda, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Beritagowa.com – Cara membedakan nyeri dada karena gastroesophageal reflux disease (GERD) dan serangan jantung dapat diidentifikasi dengan memperhatikan gejala-gejala yang timbul. Meskipun kedua kondisi ini dapat menimbulkan gejala yang serupa, namun ada beberapa hal yang membedakan keduanya.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dr. Vito Anggarino Damay, Sp.JP., M.Kes., FIHA., FICA, FAsCC menjelaskan bahwa memahami perbedaan nyeri dada akibat GERD dan serangan jantung sangat penting untuk mendapatkan penanganan yang tepat. “Nyeri lambung, nyeri ulu hati, gimana bedain GERD atau serangan jantung? Ini penting banget,” ujarnya dikutip dari Instagram pribadinya, @doktervito, Jumat (20/12/2024).

Menurut dr. Vito, ada beberapa hal yang dapat membedakan nyeri dada akibat GERD dan serangan jantung. Pertama, nyeri dada akibat serangan jantung biasanya terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya meningkat secara perlahan. Sedangkan nyeri dada karena GERD cenderung terjadi secara bertahap dan intensitasnya bervariasi.

Selain itu, nyeri dada akibat serangan jantung sering kali menyebar ke bagian tubuh lain seperti lengan, leher, punggung, dan rahang. Sedangkan nyeri dada karena GERD biasanya hanya terjadi di area dada atau ulu hati.

Hal lain yang dapat membedakan adalah faktor pemicu. Nyeri dada akibat serangan jantung biasanya tidak dipengaruhi oleh aktivitas atau makanan tertentu, sedangkan nyeri dada karena GERD sering kali dipicu oleh makanan pedas, asam, atau berlemak.

Nyeri dada akibat GERD disebabkan oleh naiknya asam lambung ke kerongkongan yang menyebabkan iritasi. Gejalanya sering kali menyerupai sensasi terbakar di dada (heartburn) dan dapat disertai dengan nyeri yang biasanya muncul setelah makan, terutama makanan berlemak, pedas, atau asam.

Pasien GERD juga sering mengeluhkan rasa terbakar yang cenderung memburuk saat berbaring atau membungkuk, disertai regurgitasi, yaitu cairan asam atau makanan yang naik kembali ke mulut. Gejala dapat membaik setelah minum obat antasida. Gejala tambahan lainnya adalah sensasi pahit atau asam di mulut, kesulitan menelan (dysphagia), dan batuk kronis atau suara serak akibat iritasi asam lambung. Nyeri dada akibat GERD biasanya berlangsung lebih lama dibandingkan serangan jantung, bisa beberapa jam atau bahkan sepanjang hari.

Sementara itu, serangan jantung terjadi akibat aliran darah ke otot jantung terhambat, biasanya karena penyumbatan pada pembuluh darah koroner. Nyeri dada yang terkait dengan serangan jantung memiliki karakteristik yang berbeda dan sering kali memerlukan perhatian medis segera.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara nyeri dada akibat GERD dan serangan jantung. Jika mengalami nyeri dada yang tidak kunjung mereda, segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *